Weekly Perspective - W4 Sept 2020

Neraca dagang Indonesia di bulan Agustus 2020 surplus USD 2.33 miliar
  • Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2020 mengalami surplus USD 2.33 miliar dengan nilai ekspor  USD 13.16 miliar dan impor USD 10.74 miliar. Surplus ini masih jauh lebih besar dibandingkan posisi neraca perdagangan Agustus 2019 yang waktu itu surplus USD 92.60 juta. Di Agustus 2020, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus dengan beberapa negara, yakni dengan Amerika Serikat mengalami surplus USD 1.05 miliar dengan produk pakaian dan aksesoris serta mesin dan perlengkapan listrik. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif pada Januari-Agustus 2020 mengalami surplus USD 11.05 miliar, jauh lebih besar daripada periode yang sama 2019 yang angkanya defisit USD 2.04 miliar.

Neraca Dagang Indonesia period September 2019 – Agustus 2020 (dalam USD Miliar)

Sumber: Badan Pusat Statistik

Adanya pelaksanaan PSBB di Jakarta memberikan sentimen negatif bagi IHSG
  • Selama sepekan terakhir (14-18 September 2020), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan +0.85% pasca adanya pengumuman dari Gubernur DKI, Anies Baswedan, bahwa PSBB Jakarta yang dimulai dari tanggal 14-29 September 2020 akan berbeda dibandingkan PSBB awal di bulan Maret-Mei 2020 karena masih adanya beberapa sektor yang tetap diizinkan beroperasi dan transportasi online tetap diizinkan untuk mengangkut penumpang. Adanya kenaikan tersebut membuat IHSG ditutup di level 5,059.22 sehingga secara Year-to-Date koreksi IHSG sebesar  -19.68%. Meskipun IHSG mengalami kenaikan namun investor asing masih membukukan net sell sepanjang Week-to-Date sebesar Rp -3.80 triliun dan Year-to-Date net sell Rp -53.20 triliun. Sektor yang mengalami kenaikan terbesar yaitu sektor Property Real Estate saja yang mengalami kenaikan sebesar +12.74% diikuti oleh Basic Industry +3.47%, Miscellaneous Industries +3.30% dan Trade Services +2.99%. Adapun sektor yang mengalami penurunan terbesar diantaranya Finance -1.43%, Consumer Goods -1.29%, dan Mining -0.04%.
  • Sedangkan untuk pasar Obligasi domestik, harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami kenaikan sebesar +0.20% selama satu minggu terakhir melanjutkan reli yang berlangsung dari bulan Juni 2020. Kenaikan harga Obligasi selama sepekan terakhir didorong oleh ekspektasi investor bahwa neraca perdagangan Agustus 2020 akan mengalami surplus empat bulan berturut-turut dari bulan Mei 2020. Dari sisi valuasi pasar Obligasi domestik dengan yield SUN 10 Tahun di level 6.80 – 6.90 masih atraktif, dibandingkan dengan negara yang memiliki rating sejenis seperti Indonesia yaitu India dengan yield 10 tahun menyentuh level 5.50 – 5.70% dimana spread yield India dan Indonesia berkisar 50 – 80 bps dan saat ini menyentuh 120 – 150 bps sehingga masih ada upside penurunan yield SUN kedepannya. Kenaikan harga Obligasi sejalan dengan nilai tukar Rupiah yang menguat terhadap USD dari Rp 14,890/USD ke Rp 14.680/USD serta pergerakan yield SUN 10 Tahun yang mengalami penurunan dari level 7.00 ke 6.90%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 17 September 2020, investor asing membukukan net sell sepanjang Month-to-Date sebesar Rp -5.50 triliun dan secara Year-to-Date net sell sebesar Rp -113.50 triliun di pasar Obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2019 sebesar Rp 1,062.20 triliun menjadi 948.70 triliun. 
  • Strategi Portofolio Reksa Dana Saham masih tetap defensif di level 85-90% sembari menganalisa pergerakan IHSG kedepannya yang memiliki volatilitas yang tinggi dan ekspektasi pendapatan emiten mengalami penurunan secara signifikan akibat pandemi COVID-19. Tactical trading tetap dilakukan pada saham blue chip dan mid-cap yang sudah berada dalam valuasi yang atraktif dan berpotensi memberikan pertumbuhan return kedepannya terutama di beberapa sektor seperti perbankan yang memiliki bobot terbesar dalam IHSG dan penggerak ketika IHSG mengalami rebound, serta sektor Consumer, Infrastructure, Mining dan Miscellaneous Industries. Reksa Dana Obligasi berinvestasi pada SUN seri benchmark 10-15 tahun serta durasi portofolio diturunkan ke level 6.50-7.00. Alokasi portofolio untuk Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi tetap dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan return Reksa Dana.

Download PDF



Back to list