Weekly Perspective - W3 Sept 2020

DKI Jakarta kembali memberlakukan PSBB mulai 14 September 2020

  • Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta secara resmi mengumumkan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang lebih ketat di tengah peningkatan angka penyebaran COVID-19 di Ibu Kota mulai tanggal 14 September 2020 hingga 27 September 2020. Pemprov DKI Jakarta mencatat jumlah kasus terkonfirmasi secara total di Jakarta sampai dengan hari Minggu, 13 September 2020 adalah sebanyak 54,220 kasus. Dari jumlah kasus COVID-19 keseluruhan di DKI Jakarta, terdapat 40,751 orang dinyatakan telah sembuh dengan tingkat kesembuhan sebesar 74.70%, dan total 1,391 orang meninggal dunia dengan tingkat kematian 2.60%. Adapun jumlah kasus positif di Indonesia sebanyak 218,382 kasus dengan 155,010 sembuh, 8,723 meninggal dunia dan tingkat kematian akibat COVID-19 di Indonesia adalah sebesar 4.10%.

Lima Besar PropinsidenganKasus COVID-19 Terbanyak

(per Minggu, 13 September 2020)

Sumber: Gugus Tugas Covid-19


Adanya pelaksanaan PSBB di Jakarta memberikan sentimen negatif bagi IHSG

  • Selama sepekan terakhir (7-11 September 2020), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi sebesar -4.26% pasca adanya pengumuman dari Gubernur DKI Anies Baswedan bahwa Jakarta akan kembali menerapkan PSBB total seperti bulan Maret-Mei 2020 yang akan dimulai pada hari Senin, 14 September 2020. Dengan adanya koreksi tersebut, IHSG ditutup di level 5,016.71 sehingga secara Year-to-Date koreksi IHSG sebesar -20.36%. Adanya PSBB yang terjadi di Jakarta membuat para investor pesimis dengan ekonomi Indonesia di Q3 2020 akan positif karena Jakarta berkontribusi terhadap 25% ekonomi nasional, sehingga resesi ekonomi dapat dipastikan akan terjadi. Penurunan IHSG sejalan dengan investor asing masih membukukan net sell sepanjang Week-to-Date sebesar Rp -4.60 triliun dan Year-to-Date net sell Rp -49.40  triliun. Hanya sektor Property Real Estate saja yang mengalami kenaikan sebesar +4.46% . Adapun sektor yang mengalami penurunan terbesar diantaranya Miscellaneous Industries -7.26%, Finance -6.65%, Agriculture -6.57% dan Basic Industry -4.31%.
  • Sedangkan untuk pasar Obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami penurunan sebesar -0.55% selama satu minggu terakhir setelah mengalami reli yang berlangsung dari bulan Juni 2020. Penurunan harga Obligasi selama sepekan terakhir didorong oleh aksi profit taking yang dilakukan oleh investor asing maupundomestik seiring dengan harga Obligasi yang terus meningkat serta adanya rencana Pemerintah Daerah DKI Jakarta yang akan kembali memberlakukan PSBB total. Adanya koreksi di pasar Obligasi justru menjadi kesempatan untuk kembali melakukan akumulasi  karena valuasi pasar Obligasi domestik dengan yield SUN 10 Tahun di level 6.80 – 6.90 masih atraktif, dibandingkan dengan negara yang memiliki rating sejenis seperti Indonesia yaitu India dengan yield 10 tahun menyentuh level 5.50 – 5.70%, dimana spread yield India dan Indonesia berkisar 50 – 80 bps dan saat ini menyentuh 120-150 bps sehingga masih ada upside penurunan yield SUN kedepannya. Penurunan harga Obligasi sejalan dengan nilai tukar Rupiah yang melemah terhadap USD dari Rp 14,660/USD ke Rp 14.890/USD serta pergerakan yield SUN 10 Tahun yang mengalami kenaikan dari level 6.90 ke 7.00%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 10 September 2020, investor asing membukukan net sell sepanjang Month-to-Date sebesar Rp -3.50 triliun dan secara Year-to-Date net sell sebesar Rp -112.00 triliun di pasar Obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2019 sebesar Rp 1,062.20 triliun menjadi 950.70 triliun.
  • Strategi Portofolio Reksa Dana Saham mulai mengurangi porsi alokasi investasi di kisaran di level 85 – 90% sembari menganalisa pergerakan IHSG kedepannya yang memiliki volatilitas yang tinggi dan ekspektasi pendapatan emiten yang mengalami penurunan secara signifikan akibat pandemi COVID-19. Tactical trading tetap dilakukan pada saham blue chip dan mid-cap yang sudah berada dalam valuasi yang atraktif dan berpotensi memberikan pertumbuhan return kedepannya terutama di beberapa sektor seperti perbankan yang memiliki bobot terbesar dalam IHSG serta merupakan penggerak ketika IHSG mengalami rebound, serta sektor Consumer, Infrastructure, Mining dan Miscellaneous Industries. Reksa Dana Obligasi berinvestasi pada SUN seri benchmark 10-15 tahun serta durasi portofolio diturunkan di level 6.50 – 7.00. Alokasi portofolio untuk Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi tetap dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan return Reksa Dana.

Download PDF



Back to list