Weekly Perspective - W3 Jan 2021

Neraca Dagang Desember 2020 mengalami surplus USD 2,10 Miliar

  • Badan Pusat Statistik mencatat neraca dagang Indonesia di bulan Desember 2020 kembali mencatatkan surplus USD 2.10 miliar dimana ekspor sebesar USD 16.50 miliar dan impor sebesar USD 14.40 miliar. Surplusnya neraca dagang di bulan Desember 2020 dibantu oleh meningkatnya nilai tahunan ekspor Indonesia dan turunnya impor Desember 2020. Ekspor Indonesia pada bulan Desember 2020 tercatat naik 14.60% secara Year-on-Year (YoY), sedangkan impor turun tipis 0.47%. Penyebab utama surplus didukung oleh naiknya harga komoditas seperti lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta dari besi dan baja.

Sektor Mining dan Finance menjadi penggerak kenaikan IHSG sepekan terakhir

  • Selama sepekan terakhir periode (11-15 Januari 2021), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan +1.85% melanjutkan reli yang berlangsung sejak minggu sebelumnya dikarenakan perkembangan vaksin COVID-19 yang cukup menggembirakan serta sudah dilakukan ujicoba ke beberapa pemimpin dunia termasuk Presiden Jokowi yang diberikan vaksin Sinovac pada tanggal 13 Januari 2021. Adanya kenaikan tersebut membuat IHSG ditutup di level 6,373.41 sehingga secara Year-to-Date IHSG mengalami kenaikan sebesar +6.59%. Kenaikan IHSG sejalan dengan investor asing yang membukukan net buy sepanjang Week-to-Date sebesar Rp 4 triliun dan secara Year-to-Date net buy Rp +6.40 triliun. Seluruh sektor mengalami kenaikan dan sektor yang mengalami kenaikan terbesar diantaranya adalah Mining +4.15% diikuti oleh Finance +2.95%, Property +2.71%, Miscellaneous Industries  +1.73%, dan Basic Industry +1.59%.
  • Sedangkan untuk pasar Obligasi domestik, harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami penurunan sebesar -0.50% selama satu minggu terakhir setelah mengalami kenaikan di sepanjang semester kedua tahun 2020. Penurunan harga yang terjadi di pasar Obligasi dipengaruhi oleh naiknya US Treasury 10 years dari level 0.90 ke 1.10. Meskipun terjadi koreksi di pasar obligasi kami tetap melihat prospek fixed income masih akan positif didorong oleh kemungkinan peluang Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga 25bps terutama pada semester pertama tahun 2021 karena data makro ekonomi yang mendukung. Dari sisi valuasi pasar, Obligasi domestik dengan yield SUN 10 Tahun di level 6.10 – 6.20 masih cukup atraktif apabila dibandingkan dengan US Treasury yang berkisar  0.90 – 1.10 sehingga masih ada spread sebesar 500 bps dimana historical spread berkisar 440 – 460 bps sehingga masih ada upside penurunan yield SUN kedepannya. Penurunan harga Obligasi sejalan dengan nilai tukar Rupiah yang bergerak di kisaran Rp 13,950 – 14,050/USD serta pergerakan yield SUN 10 Tahun yang mengalami kenaikan dari level 5.95% ke 6.15%. Dari sisi transaksi harian juga mengalami peningkatan dari rata-rata  Rp 12-14 triliun/hari naik menjadi Rp 18-20 triliun/hari. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 15 Januari 2021, investor asing membukukan net sell sepanjang Month-to-Date sebesar Rp -3.00. Saat ini kepemilikan asing di SUN sebesar Rp 979 triliun, setara dengan 30% dari total outstanding SUN yang beredar.
  • Portofolio Reksa Dana Saham menjaga porsi investasi di level 90 - 92% dimana akan dilakukan penambahan alokasi portofolio investasi ke level  94-96% apabila ada koreksi terbatas IHSG ke level 5,800 – 6,000 sembari mengamati pergerakan IHSG kedepannya. Tactical trading tetap dilakukan pada saham blue chip dan mid-cap yang masih berada dalam valuasi yang atraktif dan berpotensi memberikan pertumbuhan return kedepannya terutama di beberapa sektor seperti perbankan yang memiliki bobot terbesar dalam IHSG serta sektor Consumer, Infrastructure, Mining dan Miscellaneous Industries. Reksa Dana Obligasi berinvestasi pada SUN seri benchmark 10 – 15 tahun serta durasi portofolio dijaga di level 6.50 – 7.00 sebagai antisipasi Bank Indonesia akan kembali menurunkan suku bunga 1x lagi di Q1 2021 serta adanya ekspektasi perbaikan pada current account deficit Q1 2021. Alokasi portofolio untuk Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi tetap dijaga di kisaran 10-15% untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan return Reksa Dana.

Download PDF



Back to list