Weekly Perspective - W1 Feb 2021

Inflasi Bulan Januari 2021 Tercatat sebesar 0,26%

  • Badan Pusat Statistik mencatat inflasi pada bulan Januari 2021 sebesar 0.26% secara Month-to-Month (MtM) dan secara Year-on-Year (YoY) sebesar 1.55%. Tercatat inflasi pada bulan Januari 2021 lebih rendah daripada inflasi pada bulan Desember 2020 yang sebesar 0.45% MoM dan secara tahunan sebesar 1.68% YoY. Inflasi yang rendah disebabkan pandemi COVID-19 sehingga membuat mobilitas masyarakat berkurang dan perekonomian bergerak lambat, sehingga berpengaruh pada penurunan pendapatan yang mengakibatkan lemahnya permintaan.

Sektor Mining dan Finance menjadi penggerak kenaikan IHSG sepekan terakhir
  • Selama sepekan terakhir (25-29 Januari 2021) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan yang dalam sebesar -7.05% setelah mengalami reli dari bulan November 2020 hingga sempat menyentuh level 6,429 yang merupakan level tertinggi sejak tanggal 31 Desember 2019. Penurunan ini disebabkan oleh peningkatan jumlah COVID-19 di seluruh dunia yang membuat banyak negara kembali melakukan lockdown sehingga akan merevisi pertumbuhan ekonomi global di tahun 2021 serta berdampak terhadap pasar saham di negara berkembang. Adanya penurunan tersebut membuat IHSG ditutup di level 5,862.23 sehingga secara Year-to-date IHSG mengalami penurunan sebesar -1.95%. Penurunan IHSG sejalan dengan investor asing yang membukukan net sell sepanjang Week-to-date sebesar Rp -500 miliar dan secara Year-to-date net buy  Rp +3.70 triliun. Seluruh sektor mengalami penurunan dimana sektor yang mengalami penurunan terbesar diantaranya Mining -9.25%, diikuti oleh Infrastructure  -7.92%, Finance -7.58%, Property – 7.55%, dan Manufacturing -7.33%.
  • Sedangkan untuk pasar Obligasi domestik, harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami penurunan sebesar -0.50% selama satu minggu terakhir setelah mengalami kenaikan di sepanjang semester kedua tahun 2020. Penurunan harga yang terjadi di pasar Obligasi dipengaruhi oleh naiknya US Treasury 10 years dari level 0.90 ke 1.10.Meskipun terjadi koreksi di pasar Obligasi, kami tetap melihat prospek fixed income masih akan positif didorong karena masih ada peluang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga 25bps terutama di 1H 2021 karena data makro ekonomi yang mendukung. Dari sisi valuasi pasar, Obligasi domestik dengan yield SUN 10 Tahun di level 6.20-6.30 masih atraktif, dibandingkan dengan US Treasury yang berkisar 1.00-1.20 sehingga masih ada spread sebesar 500 bps dimana historical spread berkisar 440-460 bps sehingga masih ada upside penurunan yield SUN kedepannya. Penurunan harga Obligasi sejalan dengan nilai tukar Rupiah yang bergerak di kisaran Rp 14,050 – 14,150 /USD serta pergerakan yield SUN 10 Tahun yang mengalami kenaikan dari level 6.15% ke 6.30%. Dari sisi transaksi harian juga mengalami peningkatan dari rata-rata Rp 12-14 triliun/hari naik menjadi Rp 18-20 triliun/hari. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 27 Januari 2021, investor asing membukukan net buy sepanjang Month-to-date sebesar Rp +5.00 triliun. Saat ini kepemilikan asing di SUN sebesar Rp 979 triliun, setara dengan 30% dari total outstanding SUN yang beredar.
  • Portofolio Reksa Dana Saham menaikkan porsi investasi di level 93 - 96% di tengah terjadinya koreksi IHSG yang cukup dalam selama seminggu terakhir ke level 5,900 – 6,000 dari level tertingginya di 6,400 sembari mengamati pergerakan IHSG kedepannya yang masih akan mengalami volatilitas. Tactical trading tetap dilakukan pada saham blue-chip dan mid-cap yang masih berada dalam valuasi yang atraktif dan berpotensi memberikan pertumbuhan return kedepannya terutama di beberapa sektor seperti perbankan yang memiliki bobot terbesar dalam IHSG serta sektor Consumer, Infrastructure, Mining dan Miscellaneous Industries. Reksa Dana Obligasi berinvestasi pada SUN seri benchmark 10 – 15 tahun serta durasi portofolio dijaga di level 6.50 – 7.00 sebagai antisipasi Bank Indonesia akan kembali menurunkan suku bunga 1x  lagi di Q1 2021 serta adanya ekspektasi perbaikan pada current account deficit Q1 2021. Alokasi portofolio untuk Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi tetap dijaga di kisaran 10 – 15% untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan return Reksa Dana.

Download PDF



Back to list