Investor Information

Weekly Market Update

Weekly Perspective - W3 Okt 2020
Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis data ekspor dan impor pada bulan September 2020. Nilai ekspor tercatat USD 14.01 miliar. Nilai tersebut mengalami penurunan sebesar 0.51% dibandingkan dengan September 2019. Sementara nilai impor pada September 2020 tercatat USD 11.57 miliar atau turun 18.88%. Dengan perhitungan ekspor yang masih tinggi maka neraca dagang September terjadi surplus USD 2.40 miliar. BPS melihat bahwa sampai dengan akhir tahun surplus neraca perdagangan masih akan berlangsung karena aktifitas impor masih belum kembali seperti biasanya akibat pandemi COVID-19.

Read more
Weekly Perspective - W2 Okt 2020
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada hari Senin, 5 Oktober 2020 telah mengesahkan Omnibus Law RUU Cipta Kerja menjadi undang-undang. Hal ini disepakati oleh 7 (tujuh) partai politik atau setara dengan 82% kursi DPR. Konsep Omnibus Law yang dikemukakan oleh Presiden Jokowi banyak berkaitan dengan bidang kerja pemerintah di sektor ekonomi dan rencananya akan ada dua Omnibus Law yang diajukan pemerintah, yaitu Cipta Kerja dan Perpajakan. Secara keseluruhan ada sebelas bidang yang menjadi pembahasan dalam Omnibus Law RUU Cipta Kerja yaitu penyederhanaan perzinan tanah, investasi, tenaga kerja, perlindungan UMKM, kemudahan berusaha, dukungan riset inovasi, administrasi pemerintahan, pengenaan sanksi, pengendalian lahan, kemudahan proyek pemerintah dan kawasan ekonomi khusus. Namun UU tersebut mendapat respon penolakan di kalangan buruh karena beberapa hal, diantaranya adalah kontrak tanpa batas, aturan soal UMP dan kompensasi kepada buruh yang telah kerja diatas sepuluh tahun dari 32x menjadi 25x.

Read more
Weekly Perspective - W5 Sept 2020
OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) memproyeksikan ekonomi global di tahun 2020 hanya akan mengalami kontraksi sebesar -4.50%, dan akan kembali mengalami pertumbuhan sebesar 5.00% pada tahun 2021. Perkiraan ini lebih baik dibandingkan dengan outlook ekonomi OECD di bulan Juni, yakni mengalami kontraksi -6.00%. Adanya revisi outlook yang dikemukakan oleh OECD karena melihat perkembangan ekonomi dua negara terbesar, yaitu China dan Amerika Serikat, dimana perekonomian China akan pulih lebih cepat di Q3 2020 serta Amerika Serikat akan kembali pulih di Q4 2020 dari dampak COVID-19. OECD menekankan jika ancaman COVID-19 menurun lebih cepat dari yang diharapkan, peningkatan kepercayaan bisnis dan konsumen dapat meningkatkan ekonomi global pada tahun 2021. Namun, jika pandemi COVID-19 masih berlangsung dan membuat negara-negara kembali menerapkan lockdown, maka kondisi tersebut dapat memangkas 2.00-3.00% dari pertumbuhan global pada tahun 2021.

Read more
Weekly Perspective - W4 Sept 2020
Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2020 mengalami surplus USD 2.33 miliar dengan nilai ekspor USD 13.16 miliar dan impor USD 10.74 miliar. Surplus ini masih jauh lebih besar dibandingkan posisi neraca perdagangan Agustus 2019 yang waktu itu surplus USD 92.60 juta. Di Agustus 2020, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus dengan beberapa negara, yakni dengan Amerika Serikat mengalami surplus USD 1.05 miliar dengan produk pakaian dan aksesoris serta mesin dan perlengkapan listrik. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif pada Januari-Agustus 2020 mengalami surplus USD 11.05 miliar, jauh lebih besar daripada periode yang sama 2019 yang angkanya defisit USD 2.04 miliar.

Read more