Monthly Update - January 2021

Perkembangan Pasar dan Global

Market Summary

  • Pasar saham Indonesia melanjutkan kenaikan pada bulan akhirDesember 2020. Pasar menguat dan ditutup di level 5.979. Kami memperkirakan pasar masih akanbergerak dengan volatilitas yang cukup tinggi kedepannya dengan mempertimbangkan perkembangan pandemi COVID-19 dan situasi ekonomi global maupun nasional. Valuasi saat ini berada pada hampir mendekati 17x Price-to-Earning. Meski perubahan ekspektasi terhadap earnings masih dapat berubah.
  • Volatilitas yang tinggi di pasar saham masih akan terjadi karena prospek pertumbuhan yang diragukan. Namun dengan potensi vaksin, stimulus ekonomi di Amerika Serikat dan kelanjutan quantitative easing, pasar sepertinya mendiskon pemulihan di tahun 2021.
  • Mulai terlihat kenaikan yield USD Treasury untuk tenor 10 tahun yang saat ini berada di atas level 1,1. Mulai ada pendapat yang mengkhawatirkan terjadinya inflasi atau penurunan kepercayaan terhadap US Dollar mengingat potensi QE dan stimulus fiskal yang besar kedepannya.
  • Kenaikan harga saham telah menjadikan valuasi secara Price/Book Value menjadi 2,1x dan angka ini sudah berada di atas -1 standar deviasi namun masih di bawah average yaitu di 2,45. Sementara secara Price-to-Earning sudah di sekitar 17x dimana terlihat cukup tinggi dibandingkan prospek recovery.
  • Sentimen positif di pasar obligasi dipengaruhi oleh rendahnya inflasi sehingga membuka  penurunan suku bunga sampai dengan pertengahan tahun 2021, terlihat dari menurunnya yield SUN 10 tahun ke level 5,8 di akhir Desember 2020. Dari sisi kurs pergerakan nilai tukar, Rupiah juga sedikit menguat terhadap US Dollar di akhir bulan Desember 2020 di level Rp 14.000/USD.
Perkembangan Global
  • Eropa dan Amerika Serikat berpotensi mengalami second wave dari pandemi COVID-19 setelah mencatatkan kasus per hari dalam jumlah yang besar sejak minggu terakhir bulan November 2020. Sejumlah langkah termasuk lockdown akan diterapkan kembali di sejumlah wilayah di Eropa dan Inggris.
  • Usaha vaksinasi telah dilakukan di banyak tempat di seluruh dunia, terutama di Amerika Serikat, Kanada dan Eropa. Vaksin hasil produksi Pfizer dan Moderna sudah banyak disetujui penggunaannya oleh beberapa negara baik secara  darurat maupun penuh.
  • Makin banyak kandidat vaksin di tahap ketiga dan akan segera mengajukan persetujuan penggunaan. Vaksin keluaran Johnson & Johnson diharapkan akan mendapat approval darurat di Amerika Serikat pada awal Februari 2021.  Di  Indonesia, vaksin Sinovac yang sedang diujicoba tahap ketiga telah mendapatkan persetujuan darurat penggunaan dan vaksinasi telah mulai dilaksanakan di Indonesia.
  • Presiden Amerika Serikat terpilih, Joe Biden, mengusulkan stimulus yang besar untuk penanganan COVID-19 dan ekonomi, serta berharap Parlemen segera membahasnya. Presiden Biden juga mengharapkan vaksinasi untuk 100 juta penduduk di 100 hari pertama.
  • Nilai tukar Dolar Amerika Serikat tertekan terhadap Euro meski akhir-akhir ini terjadi penguatan. Tekanan terhadap nilai tukar sudah berlangsung cukup lama sejak stimulus besar-besaran dan suku bunga rendah, serta quantitative easing.

Perkembangan Domestik
  • Angka Purchasing Manager Index Indonesia menunjukkan angka expansionary di atas level 50. Purchasing Manager Index naik ke level 51,3 di Desember 2020. Ini adalah angka yang lebih baik dibandingkan bulan November 2020.
  • Inflasi tahunan untuk bulan Desember adalah 1,68, terbilang cukup rendah secara Year-on-Year namun ada kenaikan untuk angka bulanan dimana inflasi tercatat di level 0,45%.
  • Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mengharapkan kenaikan penjualan mobil untuk tahun 2021 menjadi 725.000. Angka ini belum kembali ke level normal di sekitar 900 ribu sampai 1 juta kendaraan per tahun. Pemulihan ekonomi diharapkan menjadi pendorong kenaikan ini.
  • Bank Indonesia mencatatkan perbaikan reserve currency menjadi USD 135,9 miliar didorong perbaikan data perdagangan dan arus investasi portofolio.
  • Bank Indonesia akan memberikan arahan tentang suku bunga pada tanggal  21 Januari, dan kami memperkirakan suku bunga 7-day Repo Rate akan tetap di level 3,75%. Namun kami melihat adanya potensi penurunan 25bps untuk tahun 2021 ini yang dapat dilaksanakan pada semester pertama tahun 2021.

Game Changer 2021
  • Kami melihat ada beberapa hal yang akan menjadi penentu arah pasar di tahun 2021. Penanganan COVID-19 secara global adalah faktor terpenting. Tingkat keberhasilan penanganan COVID-19 dan pelaksanaan imunisasi  COVID-19 di seluruh dunia menjadi kritikal memasuki gelombang kedua dan di saat yang bersamaan dilaksanakannya vaksinasi.
  • Selain itu arah kebijakan pemerintah Amerika Serikat dalam fiskal termasuk stimulus, serta pengaruhnya terhadap kebijakan  bank sentral  dan selanjut-nya global yield akan menjadi  penentu. US Treasury sudah dianggap sebagai risk-free global dan juga kadang adalah cost of fund untuk investasi global. Kenaikan yield akan mengganti ekspektasi return dari asset termasuk investasi di pasar berkembang.
  • Suka tidak suka, pergerakan yield global akan mempengaruhi yield SUN 10 tahun sehingga rencana pembiayaan pemerintah akan terpengaruh. Kenaikan yield SUN akan menganggu rencana pembiayaan pemerintah yang cukup ambisius sebesar 1,300 triliun.
  • Nilai tukar Rupiah akan susah ditebak. Meski terdapat potensi tekanan jangka pendek, potensi menguat kembali sampai dengan akhir tahun sangat terbuka. Lagi-lagi arah pergerakan nilai tukar Amerika Serikat dan kebijakan moneter Bank Sentral menjadi penting.

Pasar Saham
  • Pasar saham telah menguat di berbagai belahan dunia dengan harapan better year di tahun 2021. Namun sudah mulai terlihat valuasi mulai tinggi dengan potensi pemulihan yang sulit diperkirakan.  Sehingga penguatan lanjutan akan sangat dinamis tergantung faktor global terutama faktor pandemi COVID-19.
  • Valuasi saat ini berada di atas 2,1 Price-to-Book Value dan sudah cukup membaik daripada level terendahnya. Tercatat investor asing masih terus membukukan posisi net sell dan Year-to-Date sudah sekitar IDR 60 triliun, meski di penghujung tahun sering tercatat posisi net buy.
  • Para analis mulai menaikkan proyeksi target IHSG menuju 6.400-7.000 untuk tahun 2021, namun tentunya membutuhkan kepastian penanganan COVID-19 yang baik secara global.
  • Kami melihat potensi kenaikan di saham-saham yang sudah undervalue meski harus diperhatikan kembali proses pemulihannya. Namun jika  arus dana akan masuk, biasanya saham-saham perusahaan blue chip dengan balance sheet telah menjadi motor kenaikan pasar. Selain saham-saham cyclical yang naik belakangan.
  • Resiko terbesar datang dari kelanjutan penanganan pandemi COVID-19 dan pergerakan nilai tukar Rupiah. Selain itu resiko perlambatan ekonomi bisa berlangsung lama.

Pasar Obligasi
  • Sampai akhir Desember 2020, pasar obligasi menghasilkan kinerja positif dimana yield Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun mengalami penurunan ke level 5,8%.
  • Perbaikan ini terjadi karena terjaganya inflasi di level yang rendah yang diikuti penurunan suku bunga serta relatif stabilnya nikai tukar. Selain itu juga kejelasan budget deficit, monetisasi SUN oleh Bank Indonesia, posisi supply terlihat membaik mendekati penghujung tahun dan potensi crowding out bisa dikurangi.
  • Meski agak tertekan di awal tahun ini, kami melihat potensi yield bisa menguat di level 5,7-5,8% dalam 12 bulan. Secara relatif yield 10 tahun Indonesia mulai sejalan dengan India di 6,0%. Namun potensi penguatan akan tergantung recovery ekonomi dalam negeri.
  • Katalis positif akan timbul dari kelanjutan likuiditas pasar global yang berlimpah karena bisa mempengaruhi aliran dana modal ke pasar negara berkembang.
  • Potensi aksi ambil untung (profit taking) sementara mulai terlihat setelah yield mengalami penurunan cukup tajam dalam dua bulan terakhir.

Download PDF


Back to list