Weekly Perspective - W5 Oktober 2018

Pelaku Pasar Wait and See Terhadap Perekonomian Global

  • Selama sepekan terakhir periode 22 – 26 Oktober 2018 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar -0.90% ditutup di level 5,784.92 setelah mengalami kenaikan selama dua minggu berturut-turut. Meskipun IHSG mengalami penurunan, investor asing membukukan net buy selama week to date sebesar Rp 336 milyar (secara month to date net sell: -5.00 triliun). Sektor yang mengalami kenaikan hanya Miscellaneous Industry sebesar +1.06% yang dipengaruhi oleh kenaikan saham Astra Internasional, sedangkan sektor yang mengalami penurunan terbesar yaitu Agriculture -2.58% diikuti oleh Infrastructure -2.29%, Basic Industry -2.01% dan Mining -1.51%. 
  • Sedangkan di Pasar Obligasi harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Index (BINDO) selama sepekan terakhir mengalami kenaikan tipis +0.05% dimana pergerakan Yield SUN tenor 10 tahun bergerak pada range 8.55 – 8.65% Sejalan dengan pergerakan US Treasury yang bergerak di level 2.19 – 2.24%. Berdasarkan dengan laporan DJPPR per tanggal 26 Oktober 2018,  investor asing membukukan net buy Rp 13.50 triliun secara month to date yang didominasi oleh pembelian SUN seri pendek dan menengah sehingga kepemilikan asing naik dari posisi Rp 850.45 triliun di akhir September 2018 menjadi Rp 863.95 triliun. Kami melihat dengan dengan level yield SUN tenor 10 tahun yang sudah di atas 8.50%, valuasi harga SUN sudah cukup atraktif bagi investor asing untuk mulai kembali melakukan akumulasi pembelian SUN kedepannya baik di seri Benchmark maupun Non- Benchmark. 
  • Pelaku pasar baik investor Saham dan Obligasi masih harus mewaspadai situasi perekonomian global kedepannya seperti kenaikan Fed Fund Rate yang diperkirakan masih cukup agresif di tahun 2019 serta Trade War antara Amerika dan China. Dampak negatif dari Trade War sudah terlihat dimana minggu lalu rilis data GDP China Q3 2018 sebesar 6,50% (level terendah sejak 2009) serta rilis data manufacturing (PMI) Oktober 2018 yang mengalami penurunan dari 50.80 ke 50.60 disebabkan oleh menurunnya permintaan domestik serta penurunan ekspor dampak dari implementasi tarif impor oleh Amerika tahap I bulan Juli 2018 dan tahap II September 2018. 
  • Data US-Non Farm Payroll  bulan Oktober 2018 akan diumumkan tanggal 2 November 2018 dimana ekspektasi konsensus menyatakan bahwa akan ada pertumbuhan lapangan kerja di luar sektor pertanian sebesar 212K, sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan September 2018 sebesar 215K. Pertumbuhan lapangan kerja yang cukup agresif sepanjang tahun 2018 mendorong pertumbuhan ekonomi Amerika tumbuh tinggi pada periode Q1 – Q3 2018 dengan rata-rata 3.30% ditambah level Unemployment Rate dibawah 4.00% sehingga menjadi alasan yang kuat bagi The Fed untuk kembali menaikkan Fed Fund Rate kedepannya.
  • Data Inflasi Indonesia bulan Oktober 2018 akan diumumkan pada tanggal 1 November 2018 dimana berdasarkan estimasi konsensus di Bloomberg mengalami kenaikan 3.05% Year on Year (YoY) (September 2018: 2.88 YoY) dan 0.18% secara Month to Month (MtM) (September 2018: -0.18%). Kenaikan inflasi salah satunya dipengaruhi oleh kenaikan harga BBM (Premium tidak dinaikkan) yang disahkan oleh Pemerintah tanggal 10 Oktober 2018 serta kenaikan beberapa barang kebutuhan pokok. 
  • Portfolio Reksa Dana Saham akan mengambil tactical position secara selektif jika terdapat peluang untuk kenaikan IHSG. Laporan keuangan emiten yang dilaporkan relatif baik meski tekanan makro ekonomi masih ada. Sektor pilihan antara lain sektor Finance, Agriculture, Basic Industry (poultry) dan mining (coal). Reksa Dana Obligasi akan kembali melakukan akumulasi pada SUN tenor menengah (tenor 5-10 tahun) dimana level Yield SUN 10 tahun saat ini sudah diatas 8.50% serta obligasi korporasi tenor pendek (3-5 tahun) dengan kupon yang tinggi melalui IPO ataupun di secondary market untuk menjaga volatilitas pergerakan market dan memaksimalkan Return Portfolio. Durasi portfolio Reksa Dana tetap dijaga di level 4.00 – 4.50. 



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list