Weekly Perspective - W5 August 2018

Membaiknya Situasi di Turki Memberikan Sentimen Positif di Pasar Modal

  • Dari sisi perekonomian global setelah selama sebulan terakhir pelaku pasar memperhatikan krisis ekonomi di Turki yang ditandai oleh melemahnya nilai tukar Lira terhadap USD lebih dari 50% ( Jan 2018 nilai tukar lira 3.4/USD dan Aug 2018 turun ke 6.1/USD) serta meningkatnya inflasi lebih dari 15%, seminggu terakhir krisis ekonomi di Turki sudah mulai mereda terlihat dari nilai mata uangnya yang sudah stabil di level 5.9 – 6.1/USD dan rencana Bank Sentral Turki menaikkan suku bunga hingga mencapai 300 Bps sampai dengan akhir 2018 direspon positif oleh pasar. Pelaku pasar masih wait and see menanti langkah pemerintah Turki untuk menyelamatkan nilai tukar Lira terhadap mata uang USD dan memperbaiki posisi current account deficit (CAD) yang di bulan Juli 2018 mencapai -6.27% (ambang batas di Turki: maksimal -4% per GDP) dari total GDP.
  • Selain adanya krisis ekonomi di Turki, pelaku pasar juga mengamati krisis ekonomi yang terjadi di Venezuela yang terjadi sejak tahun 2014 dampak dari menurunnya harga minyak dunia yang sempat menyentuh USD 28 per barrel sehingga sebagai negara yang menggantungkan pendapatan dari minyak membuat Venezuela mengalami pertumbuhan ekonomi menurun dari tahun 2014 – 2018 (GDP 2Q 2018: -20%) serta mengalami hyperinflation yang sudah melebihi 1000% di bulan Agustus 2018.  Selain itu lembaga rating S&P juga telah mengumumkan bahwa Venezuela mengalami default setelah tidak mampu membayar kupon global bonds yang jatuh tempo 2019 dan 2021.
  • Menguatnya nilai mata uang Lira terhadap USD dari level terendahnya di posisi 7.2 / USD ke level stabil 5.9 – 6.1 / USD memberikan sentimen positif pergerakan pada pasar saham domestik dimana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan +3.20% selama sepekan terakhir (20-24 Agustus 2018) diikuti oleh investor asing yang membukukan net buy secara week to date (wtd) sebesar Rp 120 milyar meskipun secara month to date masih membukukan net sell Rp -2.0 triliun. Seminggu terakhir hampir seluruh sektor mengalami kenaikan dimana kenaikan terbesar untuk sektor basic industry mengalami kenaikan +5.94% diikuti oleh banking sebesar +4.69% dan manufacturing +3.83%, sedangkan sektor yang mengalami penurunan hanya infrastructure sebesar -0.83%.
  • Positifnya pasar saham domestik juga diikuti oleh pasar obligasi dimana harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Index mengalami kenaikan +0.02% selama seminggu terakhir (20 – 24 Agustus 2018) sejalan dengan pergerakan yield SUN tenor 10 tahun yang bergerak di kisaran 7.90 – 7.96%. Berdasarkan laporan DJPPR per tanggal 28 Agustus 2018 investor asing masih membukukan net buy secara month to date Rp 9.1 triliun dari posisi Rp 839.3 triliun di akhir Juli 2018  menjadi Rp 848.4 triliun. Pergerakan nilai Rupiah bergerak di level 14,588 – 14,649 / USD.

Menanti Rilis Data Ekonomi Amerika dan Data Inflasi Indonesia

  • Data US Non- Farm Payroll dan US Unemployment Rate untuk bulan Agustus 2018 akan diumumkan pada tanggal 30 Agustus 2018 dimana ekspektasi konsensus untuk US- Non Farm Payroll akan ada penambahan jumlah tenaga kerja diluar sektor pertanian sebesar 220K (lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan bulan sebelumnya di angka 200K) dan level unemployment rate yang akan kembali mengalami penurunan dari 3.8% di bulan Juli 2018 menjadi 3.7% estimasi konsensus di bulan Agustus 2018 sehingga kami melihat dengan solidnya data perekonomian Amerika akan semakin memantapkan The Fed untuk kembali menaikkan Fed Fund Rate pada FOMC Meeting tanggal 23 September 2018 sebesar 25 Bps ke level 2.25%.
  • Data Inflasi Indonesia Agustus 2018 akan diumumkan tanggal 3 September 2018 dimana ekspektasi konsensus menunjukan inflasi akan mengalami peningkatan 3.29% secara year on year (Juli 2018: 3.18%) dan secara month to date inflasi Agustus 2018 akan mengalami kenaikan 0.32% (Juli 2018: 0.28%). Peningkatan inflasi disebabkan oleh kenaikan harga bahan pokok makanan terutama daging, ayam dan telur serta kenaikan harga bahan bakar minyak.

DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list