Weekly Perspective - W4 September 2019

The Fed pangkas suku bunga dari 2.25% menjadi 2.00% antisipasi resesi ekonomi

  • Bank Sentral Amerika Serikat The Fed pada hari Rabu tanggal 18 September 2019 kembali mnelakukan pemotongan Fed Fund Rate sebesar 25 bps menjadi 2.00% dari level sebelumnya di 2.25%. Ini merupakan langkah pemangkasan yang kedua kalinya sejak Juli 2019. Pelonggaran kebijakan kembali dilakukan karena kekhawatiran tentang potensi perlambatan global kian meningkat. The Fed Chairman Jerome Powell mengatakan  akan kembali melakukan pemotongan suku bunga tahun ini jika ekonomi melemah lebih lanjut. The Fed memproyeksikan ekonomi tetap kuat kedepannya dan inflasi tetap dijaga dengan target 2.00%. Di tahun 2019 ini The Fed memiliki jadwal dua FOMC Meeting di bulan November dan Desember 2019. Konsensus ekonomi memprediksi akan ada penurunan suku bunga satu kali lagi kedepannya di Desember 2019.

Bank Indonesia melanjutkan pemotongan suku bunga menjadi 5.25%

  • Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) bulan September 2019 memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan pada angka 5.25%. BI juga menahan suku bunga Deposit Facility pada angka 4.50% dan Lending Facility 6.00%. Penurunan suku bunga menurutnya dilakukan sejalan dengan kondisi perekonomian global yang melambat sehingga perlu melakukan stimulus fiskal dengan pelonggaran kebijakan moneter.

Situasi geopolitik Timur Tengah berdampak negatif terhadap emerging market

  • Selama sepekan terakhir periode (16 – 20 September 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar -1.63% setelah mengalami kenaikan di minggu sebelumnya dan ditutup di level 6,231.47. Pergerakan IHSG selama sepekan terakhir dipengaruhi sentimen negatif dari global market diantaranya situasi geopolitik di Timur Tengah pasca pengeboman salah satu kilang minyak terbesar milik Saudi Aramco oleh kelompok yang diduga memiliki afiliasi dengan Iran membuat harga minyak kembali menyentuh level USD 65/ Barrel. Kenaikan harga minyak yang signifikan akan semakin menurunkan pertumbuhan ekonomi global kedepannya yang sejak awal tahun sudah mengalami penurunan dampak dari perang dagang AS dan China yang belum mencapai kesepakatan hingga saat ini. Situasi global yang tidak kondusif membuat nilai tukar Rupiah melemah ke level Rp 14,190 /USD dari level sebelumnya di Rp 13,980 /USD. Penurunan IHSG sejalan dengan investor asing yang membukukan net sell sepanjang week to date sebesar Rp -2.90 triliun dan Rp -13.40 triliun secara year to date. Hanya dua sektor yang mengalami kenaikan selama sepekan terakhir diantaranya Infrastructure +2.63% danProperty +0.63%. Sedangkan sektor yang mengalami penurunan terbesar yaitu Consumer Goods -5.99% diikuti oleh Manufacturing -4.31%, Miscellaneous Industry -2.50% dan Basic Industry -2.03%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) mengalami kenaikan tipis selama +0.15% selama satu minggu terakhir dipengaruhi oleh penurunan suku bunga Fed Fund Rate dari level sebelumnya 2.25% menjadi 2.00% serta BI-7 Day Reverse Repo Rate mengalami penurunan dari 5.25% menjadi 5.00% untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Kenaikan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 7.21% menjadi 7.17%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 23 September 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesarRp +14.00 triliun dan secara year to date membukukan net buy sebesar Rp +132.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 1,025.20 triliun.
  • Portfolio Reksa Dana Saham melakukanakumulasi pembelian pada saham-saham khususnya blue-chip dan mid-cap yang sebelumnya mengalami koreksi dengan sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, dan Miscellaneous Industry serta menjaga alokasi portfolio di level 91 – 93% untuk meminimalkan volatilitas dan memaksimalkan Return Portfolio. Reksa Dana Obligasi berfokus pada SUN seri benchmark tenor 15 dan 20 tahun serta menjaga durasi portfolio di level 7.50 – 8.00. Alokasi Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.




DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list