Weekly Perspective - W4 October 2019

Uni Eropa setuju untuk menunda proses Brexit hingga 31 Januari 2020

  • Uni Eropa memberi sinyal akan menunda Brexit selama tiga bulan hingga 31 Januari 2020. Rencana tersebut akan dibahas dalam pertemuan yang digelar Senin 28 Oktober 2019. Meski Demikian tidak menutup kemungkinan perpanjangan waktu hanya sampai 30 November atau 31 Desember 2019 jika Perdana Menteri Inggris Boris Johnson bisa mendapatkan kesepakatan dengan parlemen. Parlemen Inggris akan melakukan pemungutan suara pada Senin sore untuk mendapatkan persetujuan atas rencana Johnson untuk menggelar pemilihan umum 12 Desember 2019. Johnson menegaskan akan menggelar pemilihan umum lebih cepat dengan harapan dapat memecah kebuntuan proses Brexit.

Bank Indonesia kembali menurunkan suku bunga 25 bps ke 5.00%

  • Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) sebesar 25 bps menjadi 5.00%. Sebelumnya pada bulan September 2019 BI juga menurunkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 5.25%. BI juga menurunkan suku bunga deposit facility sebesar 4.25% dan lending facility 5,75%. Beberapa alasan penurunan suku bunga yaitu rendahnya perkiraan inflasi yang berada di bawah titik tengah +/- 3.50%. Selain itu, imbal hasil aset keuangan domestik tetap menarik dalam mendukung stabilitas eksternal dan langkah pre-emptive BI dalam mendorong momentum pertumbuhan ekonomi ke depan dampak perlambatan ekonomi global. Sedangkan faktor global yang mempengaruhi keputusan BI tersebut di antaranya pertumbuhan AS yang melambat akibat perang dagang dengan China.

Situasi politik nasional yang stabil memberikan dampak positif bagi pasar domestik

  • Selama sepekan terakhir periode (21 – 25 Oktober 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan sebesar +0.98% melanjutkan kenaikan selama dua minggu berturut-turut dan ditutup di level 6,252.34. Kenaikan IHSG selama sepekan terakhir dari sisi global dipengaruhi sentimen positif perundingan dagang antara AS dan China yang saat ini sedang berlangsung di Washington DC dan akan dilanjutkan dengan pertemuan puncak antara Trump dan Xi Jinping di KTT APEC November 2019. Sedangkan dari sisi domestik pasar merespon positif susunan Kabinet Indonesia Maju yang dibentuk oleh Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Maruf Amin pada tanggal 23 Oktober 2019 setelah dilantik oleh MPR pada tanggal 20 Oktober 2019. Selain itu sentimen positif lainnya juga datang dari Bank Indonesia yang kembali menurunkan BI-7 Day Reverse Repo Rate dari 5.25% menjadi 5.00%. Sentimen positif dari global dan domestik membuat nilai tukar Rupiah menguat ke level Rp 14,005 /USD dari level sebelumnya di Rp 14,080 /USD. Kenaikan IHSG sejalan dengan investor asing yang membukukan net buy sepanjang week to date sebesar Rp 300 miliar dan Rp -15.40 triliun secara year to date. Hampir seluruh sektor mengalami kenaikan dimana sektor yang mengalami kenaikan terbesar yaitu Finance +1.91%, diikuti oleh Basic Industry +1.72%, Property Real Estate +1.60% dan Manufacturing +0.95%. Sedangkan sektor yang mengalami penurunan yaitu Mining  –1.60% dan Trade Services -0.95%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) mengalami kenaikan sebesar +0.55% selama satu minggu terakhir dipengaruhi proses negosiasi perang dagang antara AS dan China yang mencapai beberapa kesepakatan diantaranya berkaitan dengan sektor pertanian dan manufaktur, selain itu China juga menyetujui usulan yang disampaikan oleh AS terkait dengan regulasi atas hak kekayaan intelektual yang lebih diperketat kedepannya. Sentimen positif lainnya yaitu ekspektasi The Fed akan kembali menurunkan suku bunga Fed Fund Rate sebesar 25 bps dari 2.00% menjadi 1.75% pada FOMC Meeting yang berlangsung tanggal 30 Oktober 2019 dan telah dilakukan terlebih dahulu oleh Bank Indonesia dengan menurunkan BI-7 Day Reverse Repo Rate dari 5.25% menjadi 5.00% pada RDGBI 24 Oktober 2019 untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik. Kenaikan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 7.12% menjadi 7.05%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 24 Oktober 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesarRp +21.00 triliun dan secara year to date membukukan net buy sebesar Rp +157.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 1,050.20 triliun.
  • Portfolio Reksa Dana Saham melakukanakumulasi pembelian pada saham-saham khususnya blue-chip dan mid-cap yang sebelumnya mengalami koreksi dengan sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, Mining dan Miscellaneous Industry serta meningkatkan alokasi portfolio di level 93 – 95% untuk meminimalkan volatilitas dan memaksimalkan Return Portfolio. Reksa Dana Obligasi berfokus pada SUN seri benchmark tenor 10 dan 15 tahun serta menjaga durasi portfolio di level 7.50 – 8.00. Alokasi Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.




DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list