Weekly Perspective - W4 November 2018

Menurunnya Harga Minyak dari Awal November 2018 Memberikan Sentimen Positif Emerging Market


  • Harga minyak mentah WTI Crude selama sepekan terakhir periode 19 – 23 November 2018 melanjutkan penurunan yang sudah terjadi sejak akhir Oktober 2018 dari posisi USD 69,40 / barrel turun ke level USD 50.45 / barrel (level terendah sejak November 2017). Beberapa hal yang mendorong penurunan harga minyak diantaranya ekspektasi adanya perlambatan ekonomi global di tahun 2019 serta melimpahnya pasokan Minyak di pasar dari anggota OPEC dan Amerika. Di bulan Desember 2018 negara-negara anggota OPEC akan kembali mengadakan pertemuan dengan agenda membahas rencana untuk memangkas produksi agar harga Minyak kedepannya bisa stabil di kisaran USD 50 – 70 per barrel. 
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan terakhir mengalami penurunan tipis -0.10% di level 6,006.20 setelah minggu sebelumnya mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Meskipun IHSG mengalami penurunan tipis namun investor asing masih membukukan net buy sebesar Rp 1.00 triliun selama week to date (month to date: net buy Rp 8.10 triliun). Sektor yang mengalami kenaikan terbesar diantaranya Basic Industry +3.21%, diikuti oleh Property +2.48% dan Consumer Goods +1.96%. Adapun yang mengalami penurunan terbesar yaitu Mining -7.01% dampak dari permintaan batubara dari China yang menurun akibat kuota impor, diikuti oleh Trade Services -2.06%, Miscellaneous Industry -1.47% dan Infrastructure -1.43%. 
  • Sedangkan untuk Pasar Obligasi selama sepekan terakhir harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) mengalami kenaikan +0.49% melanjutkan kenaikan harga obligasi sejak awal bulan November 2018 sejalan dengan pergerakan Yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari 8.00% ke level 7.89%. Berdasarkan laporan Direktorat Jendral Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 23 November 2018, investor asing membukukan net buy sebesar Rp 25 triliun dari posisi Rp 864.35 triliun di akhir Oktober 2018 menjadi Rp 889.35 triliun yang didominasi oleh pembelian SUN benchmark seri pendek dan menengah. Nilai Rupiah selama sepekan terakhir juga mengalami penguatan dan ditutup di level Rp 14,512 / USD. 
  • Pemerintah memutuskan untuk tidak mengadakan kegiatan lelang obligasi baik SUN maupun SBSN di bulan Desember 2018 karena defisit APBN 2018 lebih rendah dari target awal yang ditetapkan sebesar -2.19%  menjadi -1.80 s/d -1.90% dari APBN. Tidak adanya lelang di bulan Desember menjadi katalis positif bagi Pasar Obligasi di bulan Desember 2018 karena masih adanya pemenuhan kebutuhan SUN dari beberapa institusi seperti asuransi dan dana pensiun yang belum mencapai target.
  • Pemerintah kembali merilis paket kebijakan ekonomi XVI yang didalamnya berisi beberapa perubahan regulasi diantaranya tax holiday untuk sektor Manufacturing berbasis Agriculture beserta E- Commerce agar terjadi peningkatan investasi dari kedua sektor tersebut. Selanjutnya adanya perubahan regulasi dalam Daftar Negatif Investasi (DNI) yang telah ditetapkan Pemerintah sebelumnya dari 25 sektor yang boleh diinvestasikan asing 100% menjadi 54 sektor. Paket kebijakan ekonomi ini bertujuan untuk memperbaiki Balance of Payment dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi domestik dalam  jangka menengah melalui Foreign Direct Investment.
  • Portfolio Reksa Dana Saham, jika terjadi koreksi yang temporary akibat dari profit taking, akan membeli saham-saham yang berpotensi outperform karena kami melihat potensi kenaikan lebih lanjut. Sektor pilihan antara lain sektor Finance, Trade (retailer) , Basic Industry (poultry) dan Consumer. Reksa Dana Obligasi sudah menaikkan durasi portfolio dari posisi 4.00 menjadi kisaran 5.00 – 6.00 dengan melakukan overweight pada SUN seri benchmark FR78 dengan tenor 10 tahun agar sejalan dengan pergerakan SUN sampai dengan akhir tahun 2018. Selain itu alokasi pada Obligasi Korporasi tenor pendek (3-5 tahun) dengan kupon yang tinggi tetap dijaga untuk menahan volatilitas pergerakan market dan memaksimalkan Return Portfolio.



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list