Weekly Perspective - W4 May 2019

Theresa May mengundurkan diri dari jabatan Perdana Menteri Inggris

  • Perdana Menteri Inggris Theresa May mengadakan konferensi pers pada hari Jumat 24 Mei 2019 dan menyatakan akan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri efektif per tanggal 7 Juni 2019. Keputusan mundur ini dipengaruhi oleh kegagalannya dalam menyusun proses Brexit (Inggris keluar dari Uni Eropa). Saat ini ada empat kandidat yang berpotensi untuk menggantikan May diantaranya Boris Johnson yang merupakan kandidat terkuat dan mantan Menlu, Dominic Raab yang merupakan anggota Parlemen, Porry Mondaut yang menjabat Menteri Pertahanan dan Rory Steward yang menjabat sebagai Menteri Pembangunan. Keempat kandidat tersebut menginginkan proses Brexit dengan kesepakatan terjadi sebelum tanggal 31 Oktober 2019 dan menghindari proses Brexit tanpa kesepakatan karena akan membahayakan perekonomian Inggris dan menghapus keistimewaan yang selama ini diperoleh Inggris dalam melakukan perdagangan dengan negara-negara Uni Eropa. Uni Eropa juga menyatakan tidak akan membuka negosiasi kembali dengan Inggris dan masih mengacu pada perjanjian yang disepakati dengan May meskipun telah tiga kali ditolak oleh Parlemen Inggris.
  • Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe meminta agar Jepang bisa memperbaiki perdagangan dengan AS setelah di tahun 2018 AS mengalami defisit perdagangan dengan Jepang mencapai USD -56.60 milyar. Defisit terjadi terutama di sektor pertanian, perdagangan dan manufaktur. Diharapkan negosiasi antara AS dan Jepang akan berjalan dengan lancar sehingga tarif baru yang ditetapkan oleh kedua negara dapat berjalan pada akhir Juni 2019. 

Menguatnya nilai tukar Rupiah membuat pasar saham dan obligasi kembali rebound

  • Selama sepekan terakhir periode (20 – 24 May 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan yang cukup signifikan sebesar  + 3.96% ditutup di level 6,057.35 setelah mengalami penurunan selama tiga minggu berturut-turut hingga menyentuh level 5,826.86. Kenaikan IHSG selama sepekan terakhir dipengaruhi oleh menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap USD setalah sempat menyentuh level Rp 14,510/USD akhirnya kembali menguat ke level Rp 14,350 / USD serta valuasi IHSG saat ini yang sudah cukup atraktif bagi investor asing maupun domestik untuk melakukan akumulasi di saham-saham big-cap maupun mid-cap. Meskipun IHSG mengalami kenaikan namun investor asing masih membukukan net sell selama week to date sebesar Rp -1.50 triliun dan Rp -9.50 triliun secara month to date yang terdiri dari saham-saham sektor Banking, Consumer, Infrastructure dan Miscellaneous Industry sehingga secara year to date posisiinvestor asing net sell sebesar Rp -3.50 triliun. Seluruh sektor mengalami kenaikan dimana yang mengalami kenaikan terbesar yaitu Miscellaneous Industry +6.55% diikuti oleh Infrastructure +5.93%, Finance +5.16% dan Basic Industry -+4.62%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami kenaikan sebesar +0.90% didorong oleh menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar yang dipengaruhi oleh situasi politik pasca pilpres yang sudah mulai kondusif serta valuasi yield SUN 10 tahun yang sempat menyentuh 8.10% sudah cukup atraktif bagi investor untuk melakukan pembelian kembali. Kenaikan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 8.08% menjadi 7.90%. Kami melihat pergerakan pasar obligasi di bulan Juni 2019 masih akan didorong oleh faktor global terutama yang berkaitan dengan perundingan dagang antara Amerika dan China yang belum mencapai kesepakatan, sedangkan dari sisi domestik neraca perdagangan, perbaikan current account deficit serta kondisi politik pasca Pemilihan Legislatif dan Presiden akan menjadi perhatian dari investor asing maupun lokal kedepannya. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 23 Mei 2019 investor asing membukukan net sell secara month to date sebesarRp -6.00 triliun dan secara year to date masih membukukan net buy sebesar Rp +59.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 952.20 triliun.
  • Portfolio Reksa Dana Saham telah melakukan akumulasi pembelian pada saham-saham khususnya blue-chip dan mid-cap yang mengalami koreksi selama tiga minggu terakhir dengan sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, Infrastructure dan Miscellaneous Industry serta meningkatkan alokasi portfolio di level 90 – 93% untuk memaksimalkan Return Portfolio. Reksa Dana Obligasi telah melakukan akumulasi SUN benchmark seri panjang yang mengalami koreksi tenor 10 dan 20 tahun secara bertahap serta durasi portfolio yang sudah ditingkatkan mulai dijaga pada durasi 7.00. Alokasi Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.




DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.

Download PDF



Back to list