Weekly Perspective - W4 June 2020

Harga minyak dunia kembali meningkat akibat pemangkasan produksi oleh OPEC

Harga minyak mentah dunia meningkat pada akhir pekan lalu dipengaruhi sentimen positif kesepakatan negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan sekutunya untuk memangkas produksi sebesar 100,000 barel/hari. Namun kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan terjadinya gelombang kedua COVID-19 dapat membuat perekonomian Amerika Serikat melemah kembali sehingga kenaikan harga minyak kedepannya dibatasi. Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman bulan Agustus meningkat 68 sen atau 8.90% menjadi USD 42.19/barel di London ICE Futures Exchange, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan Juli naik 9.60% menjadi USD 39.75/barel di New York Mercantile Exchange. Menurut data Dow Jones, harga minyak mentah WTI untuk kontrak bulan depan mencatatkan penutupan tertinggi sejak  6 Maret 2020.

BI kembali menurunkan BI-7D Reverse Repo Rate dari 4.50 ke 4.25%

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) yang berlangsung tanggal 17-18 Juni 2020 memutuskan untuk menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebanyak 25 bps dari 4.50% menjadi 4.25%. Bank Indonesia (BI) memandang keputusan penurunan suku bunga ini konsisten dengan upaya menjaga stabilitas perekonomian dan mendorong pemulihan ekonomi di tengah pandemi COVID-19. BI tetap melihat adanya ruang penurunan suku bunga seiring rendahnya tekanan inflasi, terjaganya stabilitas eksternal, dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi. BI berkomitmen untuk mendukung pendanaan APBN melalui pembelian SBN dari pasar perdana maupun menyediakan likuiditas bagi perbankan untuk kelancaran program restrukturisasi kredit dalam mendukung program Pemulihan Ekonomi Nasional.

BI- 7 Day Reverse Repo Rate Periode Juli 2019 – Juni 2020 (dalam %)

Sumber: Bank Indonesia

Penurunan BI-7D Reverse Repo Rate memberikan sentimen positif Pasar Saham dan Obligasi

  • Selama sepekanterakhir (15-19 Juni 2020), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan sebesar +1.27% setelah mengalami koreksi di minggu sebelumnya dan ditutup di level 4,924.27 sehingga secara Year-to-Date koreksi IHSG sebesar -21.82%. Ekspektasi adanya penurunan suku bunga BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps dari 4.50 menjadi 4.25% memberikan sentimen positif terhadap kenaikan IHSG. Meskipun IHSG mengalami kenaikan, namun investor asing masih membukukan net sell sepanjang Week-to-Date sebesar Rp -2.70 triliun dan Year-to-Date net sell Rp -24.80 triliun. Sektor yang mengalami kenaikan terbesar yaitu Infrastructure +6.01%, Agriculture sebesar +2.00%, Miscellaneous Industry +1.95%, Consumer Goods +1.17% dan Property +1.13%. Adapun sektor yang mengalami penurunan hanya Mining sebesar -0.32%.
  • Sedangkan untuk pasar Obligasi Domestik, harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) mengalami kenaikan +0.43% selama satu minggu terakhir setelah minggu lalu mengalami koreksi. Kenaikan harga Obligasi selama sepekan terakhir dipengaruhi sentimen penurunan suku bunga 7-day Reverse Repo Rate yang direspon dengan penurunan yield dari 7.20 ke 7.15. Kami melihat pasar Obligasi Domestik dengan level yield SUN 10 Tahun di level saat ini masih atraktif, apabila dibandingkan dengan negara yang memiliki rating seperti Indonesia, yaitu India dengan yield 10 tahun yang menyentuh level 5.80%, sehingga masih ada upside penurunan yield SUN kedepannya. Faktor pendukung lainnya yaitu ekspektasi BI akan kembali menurunkan suku bunga 25-50 bps di Q3 dan Q4 2020 untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi COVID-19. Kenaikan harga Obligasi juga sejalan dengan stabilnya nilai tukar Rupiah di level Rp 14,010-14,050/USD. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per 17 Juni 2020, investor asing membukukan net buy sepanjang Month-to-Date sebesar Rp +7.00 triliun dan secara Year-to-Date net sell sebesar Rp -118.00 triliun di pasar Obligasi Domestik dari posisi akhir Desember 2019 sebesar Rp 1,062.20 triliun menjadi Rp 944.20 triliun.
  • Strategi Portofolio Reksa Dana Saham masih tetap defensif di level 81-86% sembari menunggu pergerakan IHSG kedepannya yang masih dengan tingkat volatilitas yang cukup tinggi akibat belum meredanya pandemi COVID-19. Tactical trading tetap dilakukan pada saham blue chip yang sudah berada dalam valuasi yang murah dan berpotensi memberikan pertumbuhan return kedepannya terutama di beberapa sektor seperti perbankan yang merupakan sektor dengan bobot terbesar dalam IHSG serta merupakan sektor yang akan menjadi penggerak ketika IHSG mengalami rebound, serta sektor Consumer, Infrastructure, Mining dan Miscellaneous Industries. Reksa Dana Obligasi berinvestasi pada SUN seri benchmark tenor 5-10 tahun serta durasi portofolio dijaga di level 6.00-6.50. Alokasi portofolio untuk Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi tetap dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan return Reksa Dana.

Download PDF



Back to list