Weekly Perspective - W4 June 2019

The Fed pertahankan kebijakan suku bunga acuan

  • Federal Open Market Committee Meeting (FOMC) yang berlangsung tanggal 19 Juni 2019 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di level 2.25 – 2.50% . Di dalam FOMC tersebut The Fed mempertimbangkan untuk memangkas suku bunga 25 – 50 Bps di Q3 atau Q4 2019 bergantung pada data makroekonomi diantaranya tingkat inflasi, data US – Non Farm Payroll dan level pertumbuhan ekonomi AS yang cenderung melambat dampak dari perang dagang dengan China yang masih berlangsung dari tahun 2018. 

Statement Dovish The Fed memberikan sentimen positif pasar saham dan obligasi

  • Selama sepekan terakhir periode (17 – 21 Juni 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan sebesar + 1.04% ditutup di level 6315.43 melanjutkan penguatan yang siginifikan dari akhir bulan Mei 2019 setelah mengalami penurunan hingga menyentuh level 5,826.86. Kenaikan IHSG selama sepekan terakhir dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya sentimen positif dari rencana The Fed  untuk menurunkan fed fund rate 25-50 Bps di Q3 tahun 2019 sehingga membuat nilai tukar Rupiah menguat terhadap USD dari level Rp 14,310 /USD ke level Rp 14,220 /USD. Kenaikan IHSG sejalan dengan investor asing yang membukukan net buy selama week to date sebesar Rp +1.40 triliun dan Rp -1.00 triliun secara year to date. Sektor yang mengalami kenaikan terbesar diantaranya Property +4.41% diikuti oleh Agriculture +2.73%, Basic Industry +2.38% dan Infrastructure +1.86%.  Adapun sektor yang mengalami penurunan terbesar diantaranya Trade Services -1.26 diikuti oleh Consumer Goods -1.14%, Miscellaneous Industry -0.19% dan Manufacturing -0.10%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami kenaikan yang signifikan sebesar +3.20% selama dua minggu berturut-turut dari akhir bulan Mei 2019 setelah adanya upgrade rating dari lembaga pemeringkat Standard and Poor’s (S&P) terhadap peringkat utang Indonesia satu notch dari BBB- (investment grade) yang sebelumnya diberikan pada bulan Mei 2017 menjadi BBB pada tanggal 31 Mei 2019  serta statement The Fed yang akan menurunkan suku bunga di Q3 atau Q4 tahun 2019. Kenaikan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan secara signifikan dari level yield 7.66% menjadi 7.36%. Pergerakan pasar obligasi di bulan Juni 2019 masih akan didorong oleh faktor global seperti perundingan dagang antara Amerika dan China yang akan berlangsung di sela-sela KTT G-20 akhir Juni 2019 dan dari sisi domestik neraca perbaikan current account deficit akan menjadi perhatian dari investor asing maupun lokal kedepannya. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 20 Juni 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesarRp +17.00 triliun dan secara year to date jugamembukukan net buy sebesar Rp +73.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 966.20 triliun.
  • Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) yang berlangsung pada hari Kamis 20 Juni 2019 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga BI – 7 day Reverse Repo Rate 6.00%, suku bunga Deposit Facility 5.25% dan suku bunga Lending Facility 6.75%. BI mengatakan bahwa tingkat suku bunga kedepannya masih bisa diturunkan namun melihat situasi perekonomian global dan domestik. Meskipun belum menurunkan suku bunga acuan, BI merilis kebijakan yang akomodatif yaitu penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 50 Bps untuk meningkatkan likuiditas.
  • Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia di bulan Mei 20190 mengalami surplus USD 210 juta dimana jumlah ekspor di Mei 2019 mencapai USD 14.74 milyar , nilai tersebut mengalami penurunan 8.99% dibandingkan periode Mei 2018.  Sedangkan nilai impor sebesar USD 14.33 milyar mengalami penurunan lebih dalam 17.71% dibandingkan periode tahun sebelumnya.
  • Portfolio Reksa Dana Saham melakukan akumulasi pembelian pada saham-saham khususnya blue-chip dan mid-cap yang sebelumnya mengalami koreksi dengan sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, Infrastructure dan Miscellaneous Industry serta meningkatkan alokasi portfolio di level 90 – 93% untuk memaksimalkan Return Portfolio. Reksa Dana Obligasi akan melakukan profit taking untuk seri benchmark secara bertahap serta durasi portfolio mulai diturunkan ke durasi 6.00 – 6.50. Alokasi Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list