Weekly Perspective - W4 July 2020

Neraca perdagangan Juni 2020 surplus USD 1.27 miliar dan Bank Indonesia kembali menurunkan BI 7-DRR

  • Badan Pusat Statistik mencatat kinerja neraca perdagangan dalam negeri mengalami surplus USD 1.27 miliar pada bulan Juni 2020. Hal ini merupakan surplus neraca perdagangan selama dua bulan berturut-turut setelah Mei 2020 sebesar USD 2.09 miliar. Secara total, neraca perdagangan mengalami  surplus USD 5.50 miliar dari Januari-Juni 2020. Surplus neraca perdagangan terjadi karena nilai ekspor mencapai USD 12.03 miliar atau naik 15.09% daribulan Mei 2020. Sementara nilai impor hanya mencapai USD 10.75 miliar atau naik 27.56% dari bulan sebelumnya.

  • Bank Indonesia memutuskan untuk memangkas kembali suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (7DRR) sebesar 25 bps dari 4.25% menjadi 4.00% berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada tanggal 15-16 Juli 2020. Keputusan Bank Indonesia konsisten dengan tingkat inflasi yang rendah, stabilitas eksternal yang terjaga dan langkah lanjutan untuk mendorong pemulihan ekonomi di masa pandemi COVID-19.

Suku Bunga BI-7 Day Reverse Repo Rate Periode Jul 19– Jun 20 (dalam %)

Sumber: Bank Indonesia

Surplus neraca perdagangan memberikan sentiment positif IHSG dan Pasar Obligasi

  • Selama sepekan terakhir (13-17 Juli 2020), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan sebesar +0.96% melanjutkan kenaikan yang terjadi pada pekan sebelumnya dan ditutup di level 5,079.58, sehingga secara Year-to-Date koreksi IHSG adalah sebesar -19.36%. Kenaikan IHSG sepekan terakhir didorong positifnya data perekonomian seperti neraca perdagangan dan penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia sebesar 25 bps dari 4.25% menjadi 4.00%. Meskipun IHSG mengalami kenaikan, tetapi investor asing masih membukukan net sell sepanjang Week-to-Date sebesar Rp -1.10 triliun dan Year-to-Date net sellsebesar Rp -30.00 trilliun. Sektor yang mengalami kenaikan terbesar yaitu Miscellaneous Industries sebesar +5.99%, Agriculture +5.69%, Manufacturing+3.84% dan Consumer Goods +3.63%. Adapun sektor yang mengalami penurunan diantaranya Property sebesar -2.15%, diikuti oleh Finance  -1.10%, dan Infrastructure -0.31%.
  • Sedangkan untuk Pasar Obligasi Domestik, harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami kenaikan tipis +0.43% selama satu minggu terakhir melanjutkan kenaikan yang terjadi di sepanjang bulan Juni 2020. Kenaikan harga Obligasi selama sepekan terakhir dipengaruhi surplusnya neraca perdagangan di bulan Juni 2020 sebesar USD 1.27 miliar melanjutkan surplus neraca perdagangan yang terjadi di bulan Mei 2020. Faktor positif lainnya didukung oleh Bank Indonesia yang kembali menurunkan suku bunga 7-Day Reverse Repo Rate sebanyak 25 bps dari 4.25% menjadi 4.00% karena didukung data ekonomi diantaranya inflasi yang terjaga. Dari sisi valuasi, Pasar Obligasi Domestik dengan level yield SUN 10 Tahun di level saat ini masih atraktif dibandingkan dengan negara yang memiliki rating sejenis Indonesia yaitu India dimana yield 10 tahun menyentuh level 5.80 – 6.00% sehingga masih ada upside penurunan yield SUN kedepannya. Kenaikan harga Obligasi sejalan dengan nilai tukar Rupiah yang relatif sideways terhadap USD di kisaran Rp 14,250 – 14,350/USD serta pergerakan yield SUN 10 Tahun yang mengalami penurunan dari level 7.10 ke 7.04%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 13 Juli 2020, investor asing membukukan net buy sepanjang Month-to-Date sebesar Rp 800 miliar meskipun secara Year-to-Date net sell sebesar Rp -115.00 trilliun di pasar Obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2019 sebesar Rp 1,062.20 trilliun menjadi 947.20 trilliun.
  • Strategi Portofolio Reksa Dana Saham menaikkan porsi alokasi investasi di kisaran di level 85 – 90% sembari menganalisa pergerakan IHSG kedepannya yang masih memiliki volatilitas yang tinggi akibat belum meredanya pandemi COVID-19. Tactical trading tetap dilakukan pada saham bluechip yang sudah berada dalam valuasi yang murah dan berpotensi memberikan pertumbuhan return kedepannya terutama di beberapa sektor seperti perbankan yang merupakan sektor dengan bobot terbesar dalam IHSG serta merupakan sektor yang menjadi penggerak ketika IHSG mengalami rebound, serta sektor Consumer, Infrastructure, Mining dan Miscellaneous Industries. Reksa Dana Obligasi berinvestasi pada SUN seri benchmark tenor 5 - 10 tahun serta durasi portfolio dijaga di level 6.50 – 7.00. Alokasi portofolio untuk Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi tetap dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan return Reksa Dana.



Download PDF



Back to list