Weekly Perspective - W4 February 2020

Standard & Poor menurunkan proyeksi ekonomi China dari 5.70% menjadi 5.00%

  • Lembaga rating Standard and Poors (S&P) menurunkan proyeksi pertumbuhan China pada tahun ini dari sebelumnya 5.70% menjadi 5.00%. Wabah virus corona diperkirakan bakal membuat perekonomian nomor dua terbesar ini melambat dari posisi tahun lalu sebesar 6.10%. S&P memperkirakan wabah virus corona bakal memukul perekonomian China pada Q1 2020. Namun, S&P memperkirakan ekonomi China akan kembali pulih tahun seiring berakhirnya wabah tersebut dan estimasi pertumbuhan ekonomi China akan kembali meningkat sebesar 6.40%.

Bank Indonesia kembali menurunkan BI 7DRR 25 Bps dari 5.00% ke 4.75%

  • Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) yang berlangsung tanggal 20 Februari 2020 memutuskan untuk menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 4.75% dari sebelumnya 5.00%. Bank Indonesia menyatakan kebijakan moneter akan tetap akomodatif dan konsisten dengan ekspektasi inflasi yang terkendali sesuai proyeksi BI, stabilitas eksternal yang aman, serta langkah pre-emptive untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tertahannya prospek pemulihan ekonomi global sehubungan dengan terjadinya virus Corona. Strategi monetary policy tetap dilakukan untuk menjaga likuiditas dan mendukung kebijakan yang akomodatif. Sementara itu, kebijakan makroprudensial yang akomodatif ditempuh untuk mendorong pembiayaan ekonomi sejalan dengan siklus finansial yang di bawah optimal dengan tetap memerhatikan prinsip kehati-hatian. 

Valuasi IHSG yang atraktif membuat investor kembali melakukan akumulasi

  • Selama sepekan terakhir periode (17 – 21 Februari 2020) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan sebesar +0.26% setelah mengalami penurunan di minggu sebelumnya dan ditutup di level 5,882.25. Kenaikan IHSG selama sepekan terakhir dipengaruhi level valuasi IHSG secara PE (Price Earning Ratio) saat ini yang sudah di level -1.00 standar deviasi dan secara PBV (Price to Book Value) sudah menyentuh level -2.00 std. Sepekan terakhir nilai tukar Rupiah melemah ke level Rp 13,760 /USD dari level sebelumnya di Rp 13,675 /USD dampak dari sentimen pelemahan ekonomi global. Meskipun IHSG mengalami kenaikan namun investor asing membukukan net sell sepanjang week to date sebesar Rp  -1.40 triliun. Sektor yang mengalami kenaikan terbesar yaitu Mining +2.39% diikuti oleh Miscellaneous Industry +1.42% dan Infrastructure +0.95%.  Adapun sektor yang mengalami penurunan terbesar yaitu Agriculture -1.50%, diikuti oleh Trade Services -1.31%, dan Finance -0.06%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) masih melanjutkan kenaikan seperti di minggu sebelumnya sebesar +0.20% selama satu minggu terakhir dipengaruhi oleh data makroekonomi yang cukup baik serta melanjutkan sentimen positif pasca upgrade rating peringkat utang Indonesia yang diberikan Japan Credit Rating Agency dari BBB menjadi BBB+. Kenaikan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 6.55% menjadi 6.51%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 20 Februari 2020 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesar Rp +2.00 triliun dan secara year to date membukukan net buy sebesar Rp +10 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2019 sebesar Rp 1,061.20 triliun menjadi 1,071.20 triliun.
  • Portfolio Reksa Dana Saham kembali melakukanakumulasi pembelian pada saham-saham blue-chip dan mid-cap yang sudah berada dalam valuasi yang murah dan berpotensi memberikan pertumbuhan laba yang baik. Sektor perbankan masih salah satu sektor pilihan, di samping itu ada sektor Consumer, dan Plantation. Alokasi portfolio di level 95% untuk dan memaksimalkan Return Portfolio karena kami melihat potensi valuasi dari indeks sudah cukup atraktif. Reksa Dana Obligasi berfokus pada SUN seri benchmark tenor 10 dan 15 tahun serta menjaga durasi portfolio di level 7.00- 7.50. Alokasi portfolio untuk Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.





DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list