Weekly Perspective - W4 February 2019

Pertemuan Trump dan Jong Un akan dilaksanakan tanggal 27-28 Februari 2019 di Vietnam

  • Presiden Amerika Serikat (AS ) Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un akan kembali mengadakan pertemuan lanjutan tanggal 27-28 Februari 2019 di Hanoi Vietnam menindaklanjuti pertemuan sebelumnya yang berlangsung di Singapura pada bulan Juni 2018. Pertemuan ini masih akan membahas tindak lanjut dari program denuklirisasi Korut serta rencana pencabutan sanksi ekonomi yang diberikan oleh AS dan sekutunya kepada Korut yang berdampak terjadinya krisis ekonomi dan pangan di negara tersebut. Kami melihat proses negosiasi kedua negara akan berjalan dengan baik dikarenakan dari pihak Korut sedang mengalami krisis ekonomi di negaranya sehingga butuh dukungan dari negara-negara lain untuk mengatasinya. Membaiknya hubungan antara AS dan Korut dapat menjadi katalis positif bagi pasar saham dan obligasi di emerging market kedepannya.
  • Perkembangan negosiasi perang dagang antara AS dan China memasuki babak baru yang positif setelah Presiden AS Donald Trump sepakat untuk menunda sampai waktu yang belum ditentukan terkait pengenaan tarif impor kepada China yang rencananya akan dilaksanakan mulai 1 Maret 2019. Penundaan ini karena Trump melihat negosiasi kedua negara mengalami progress yang cukup baik diantaranya adanya komitmen China untuk membeli barang-barang AS hingga senilai USD 1.2 triliun serta rancangan undang-undang  hak cipta yang sudah disepakati di parlemen China pada minggu ketiga Februari 2019. Para pelaku pasar optimis bahwa negosiasi kedua negara dengan perekonomian terbesar kedua akan mencapai kesepakatan yang akan menguntungkan kedua belah pihak.

Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 6.00%

  • Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) yang berlangsung pada hari Kamis 21 Februari 2019 memutuskan mempertahankan BI-7 day reverse repo rate di level 6.00%. Tingkat suku bunga deposit facility dan lending facility dipertahankan di level 5.25% dan 6.75%. Bank Indonesia melihat perekonomian global di 2019 akan mengalami perlambatan didominasi oleh perlambatan ekonomi AS, China dan zona Eropa. Sedangkan untuk perekonomian domestik di tahun 2019 ada beberapa hal yang menjadi perhatian BI diantaranya pertumbuhan ekonomi diestimasi akan tumbuh 5.00 – 5.20%, deficit neraca perdagangan akan diperbaiki dari -2.98% ke posisi -2.50% dari GDP karena ekspektasi penurunan harga minyak dan cadangan devisa juga akan dijaga di level USD 120 – 130 milyar.

Menguatnya nilai tukar Rupiah memberikan dampak positif di pasar saham dan obligasi

  • Selama sepekan terakhir periode (18 – 23 Februari 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan yang cukup signifikan sebesar +1.76% ditutup di level 6,501.37 setelah mengalami penurunan di minggu sebelumnya. Penguatan IHSG diikuti oleh investor asing yang membukukan net buy selama week to date sebesar +1.10 triliun sehingga secara year to date masih membukukan net buy sebesar Rp 9.20 triliun. Seluruh sektor mengalami kenaikan selama sepekan terakhir dimana yang memiliki kenaikan tertinggi yaitu sektor mining +5.77%, Trade Services +2.81%, Infrastructure +1.81% dan Finance +2.51%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami kenaikan sebesar +0.60% dampak positif dari menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar. Hal ini juga sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 8.00% menjadi 7.90%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 22 Februari 2019 investor asing membukukan net buy secara year to date sebesar Rp 34.20 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 927.40 triliun. Kami melihat pergerakan pasar obligasi di bulan Februari 2019 masih akan positif didorong oleh membaiknya situasi ekonomi global
  • Portfolio Reksa Dana Saham telah melakukan profit taking di level IHSG saat ini dan kembali melakukan akumulasi pembelian saham-saham blue-chip dan mid-cap yang telah mengalami koreksi dengan beberapa sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, Infrastructure,Miscellaneous Industry dan Mining. Reksa Dana Obligasi telah melakukan profit taking SUN benchmark seri panjang dan telah melakukan akumulasi kembali pada SUN benchmark seri panjang tenor 15 dan 20 tahun secara bertahap serta durasi portfolio tetap dipertahankan di level 6.00 – 6.50. Alokasi pada Obligasi Korporasi tenor pendek (3-5 tahun) dengan kupon tinggi tetap dijaga untuk menahan volatilitas pergerakan market dan memaksimalkanReturn Portfolio Reksa Dana.



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list