Weekly Perspective - W4 Desember 2018

Wait and See Menantikan Pertemuan antara AS dan China bulan Januari 2019

  • Delegasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang terdiri dari pejabat kementrian perdagangan akan mengunjungi China tanggal 7 Januari 2019. Dalam kunjungan tersebut akan dibahas tindak lanjut pembicaraan setelah kedua negara sepakat melakukan gencatatan senjata sampai dengan 31 Maret 2019. Pertemuan tersebut akan membahas implementasi rencana China yang akan memangkas 1400 produk AS kedepannya serta mendorong China untuk mengurangi berbagai hambatan perdagangan dan pencurian terhadap hak atas kekayaan intelektual yang marak terjadi di China. Dengan adanya pertemuan tersebut diharapkan negosiasi perdangangan kedua negara akan menemui titik terang kedepannya.
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan terakhir mengalami koreksi tipis -0.10% ke level 6,163.59 setelah mengalami kenaikan selama dua minggu berturut-turut. Penurunan IHSG Sejalan dengan investor asing membukukan net sell sebesar Rp -2.90 triliun selama week to date. Sektor yang mengalami kenaikan terbesar diantaranya Consumer Goods +3.09%, diikuti oleh Agriculture +1.68%, Manufacturing +1.58% dan Infrastructure +0.20%. Adapun sektor yang mengalami penurunan yaitu Property sebesar -2.35%, Mining -2.27%, Trade Services -1.33% dan Finance -1.02%. Di minggu keempat Desember 2018 kami melihat adanya potensi IHSG akan mengalami window dressing dan sektor yang berpotensi untuk mengalami kenaikan terbesar yaitu finance dan consumer goods yang mempunyai bobot terbesar di dalam IHSG.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) mengalami kenaikan tipis +0.92% sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang bergerak di kisaran 7.90 – 8.00% setelah di minggu sebelumnya mengalami penurunan dampak dari inverted yield curve di Amerika. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 21 Desember 2018 investor asing membukukan net sell sebesar Rp 8 triliun dari posisi Rp 900.20 triliun di akhir November 2018 ke posisi Rp 892.20 triiun yang didominasi oleh penjualan SUN seri benchmark tenor seri menengah dan panjang. Nilai tukar Rupiah selama sepekan terakhir bergerak flat di kisaran Rp 14,450 – Rp 14,520 / USD. Pemerintah menetapkan empat seri SUN benchmark di tahun 2019 yaitu FR 77 (Tenor 5 tahun), FR 78 (tenor 10 tahun), FR 68 (tenor 15 tahun) dan FR 79 (tenor 20 tahun), Adapun lelang SUN pertama di tahun 2019 akan diadakan tanggal 3 Januari 2019.
  • FOMC Meeting tanggal 20 Desember 2018 The Fed kembali menaikkan Fed Fund Rate (FFR) sebesar 25 Bps dari posisi 2.25% menjadi 2.50% sehingga sepanjang tahun 2018 The Fed sudah menaikkan FFR sebanyak 4x. Kami melihat di tahun 2019 The Fed masih akan kembali menaikkan tingkat suku bunga namun kenaikannya akan lebih soft (dovish) dibandingkan tahun 2018 karena adanya ekspektasi perlambatan ekonomi Amerika di tahun 2019. Sedangkan untuk Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) tanggal 21 Desember 2018 BI tetap mempertahankan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI—7DRR) di level 6.00% setelah terlebih dahulu menaikkan 25 Bps dari 5.75% ke 6.00% pada RDGBI November 2018. Arah kenaikan BI-7DRR di tahun 2019 akan memperhitungkan kondisi perekonomian global dan monetary policy The Fed.
  • Portfolio Reksa Dana Saham akan membeli saham-saham blue chip yang berpotensi akan mengalami window dressing di akhir tahun 2018. Reksa Dana akan berfokus pada beberapa sektor pilihan diantaranya Infrastructure, Finance (Banking), dan Consumer. Reksa Dana Obligasi menjaga durasi portfolio di kisaran 5.00 – 5.50 dengan melakukan overweight pada SUN seri benchmark FR78 dengan tenor 10 tahun agar sejalan dengan pergerakan yield SUN sampai dengan akhir tahun 2018. Alokasi pada Obligasi Korporasi tenor pendek (3-5 tahun) dengan kupon tinggi tetap dijaga untuk menahan volatilitas pergerakan market dan memaksimalkan Return Portfolio Reksa Dana.



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list