Weekly Perspective - W4 August 2019

China menetapkan tarif balasan sebesar 5 dan 10% untuk produk otomotif AS 

  • Tensi perang dagang kembali memanas setelah China mengumumkan bahwa mereka akan mengenakan tarif impor barang dari Amerika Serikat (AS) senilai USD 75 miliar sebagai respon atas ancaman tambahan tarif impor atas produk Tiongkok yang disiapkan Donald Trump di bulan September 2019. Rinciannya, tarif tambahan sebesar 5% akan dikenakan untuk produk kedelai AS dan impor minyak mentah mulai bulan September 2019. Sementara bea masuk sebesar 10% akan dibebankan kepada komponen mobil dari AS yang akan dimulai pada 15 Desember 2019. Perang dagang antara AS dan China yang belum berakhir menimbulkan kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global yang sudah melambat selama setahun terakhir. 

Bank Indonesia kembali menurunkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 5.50%

  • Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) yang berlangsung tanggal 22 Agustus 2019 memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5.50 persen. Sebelumnya pada bulan Juli BI juga menurunkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 5.75 persen. Strategi moneter BI berfokus menjaga likuiditas di pasar keuangan dan meningkatkan efisiensi pasar uang sehingga bisa memperkuat kebijakan moneter yang akomodatif. Beberapa faktor global yang mempengaruhi keputusan BI menurunkan suku bunga diantaranya pertumbuhan ekonomi AS yang melambat akibat turunnya ekspor serta melambatnya pertumbuhan ekonomi Uni Eropa, Jepang, China dan India.

Sentimen negatif trade war AS dan China mendorong pelemahan nilai tukar Rupiah

  • Selama sepekan terakhir periode (19 – 23 Agustus 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar -0.49% setelah mengalami kenaikan pada dua minggu sebelumnya dan ditutup di level 6,255.59. Pergerakan IHSG selama sepekan terakhir dipengaruhi sentimen global diantaranya isu perang dagang dimana China mengenakan tarif balasan berupa tambahan impor untuk barang AS senilai USD 75 milyar sebagai respon terhadap AS yang sebelumnya kembali mengenakan tarif tambahan untuk produk China sebesar USD 300 milyar.  Selanjutnya pasar juga wait and see terhadap rencana The Fed apakah akan kembali menurunkan Fed Fund Rate pada FOMC Meeting di bulan September 2019 mengantisipasi perlambatan ekonomi global akibat perang dagang yang masih berlanjut hingga saat ini. Pergerakan nilai tukar Rupiah selama sepekan terakhir juga melemah tipis di level Rp 14,270 /USD dari level sebelumnya di Rp 14,240 /USD. Penurunan IHSG sejalan dengan investor asing yang membukukan net sell sepanjang week to date sebesar Rp  -1.60 triliun dan Rp -7.20 triliun secara year to date. Sektor yang mengalami kenaikan diantaranya Infrastructure +0.78% diikuti oleh Miscellaneous Industry +0.53%, Basic Industry +0.40% dan Manufacturing +0.04%. Sedangkan sektor yang mengalami penurunan terbesar diantaranya Mining -1.34% diikuti oleh Agriculture  -1.18%,  Finance -1.14% dan Trade Services –0.98%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami penurunan -0.30% selama satu minggu terakhir dipengaruhi oleh sentimen perang dagang AS dan China.  Penurunan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami kenaikan dari level yield 7.30% menjadi 7.38%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 23 Agustus 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesarRp +4.00 triliun dan secara year to date membukukan net buy sebesar Rp +115.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 1,008.20 triliun.
  • Portfolio Reksa Dana Saham melakukanakumulasi pembelian pada saham-saham khususnya blue-chip dan mid-cap yang sebelumnya mengalami koreksi dengan sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, Infrastructure dan Miscellaneous Industry serta menjaga alokasi portfolio di level 90 – 92% untuk meminimalkan volatilitas dan memaksimalkan Return Portfolio. Reksa Dana Obligasi berfokus pada SUN seri benchmark tenor 15 dan 20 tahun serta menjaga durasi portfolio di level 7.00 – 7.50. Alokasi Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.




DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list