Weekly Perspective - W4 August 2018

Krisis Ekonomi di Turki Mendorong Pelemahan Pasar Saham dan Obligasi

  • Krisis ekonomi di Turki yang berlangsung dari awal tahun 2018 membuat nilai tukar Lira melemah hingga 70% dari level 3.78/USD dan sempat menyentuh level terendahnya di 7.04/USD (14 Agustus 2018), saat ini diperdagangkan di level 6.20/USD. Melemahnya nilai tukar Lira secara ekstrem membuat beberapa Lembaga rating seperti S&P dan Moody melakukan downgrade rating satu notch dari B+/Stable ke BA3/Negative. Beberapa hal yang menjadi perhatian dari kedua lembaga rating tersebut diantaranya: 1) Posisi bank sentral yang tidak independen dan sekarang dibawah Presiden, 2) belum ada clear strategy untuk mengatasi krisis dan 3) Tingginya utang korporasi dalam mata uang USD sehingga bisa memicu gagal bayar. Kami melihat bahwa krisis di Turki tidak akan berdampak langsung pada ekonomi Indonesia karena nilai ekspor ke Turki tidak sampai 5% dari total ekspor, namun yang patut diwaspadai adalah potensi foreign outflow dari emerging market ke safe haven country.
  • Terjadinya krisis di Turki dan rilis data data current account deficit (CAD) Q2 2018 yang menyentuh level -3% terhadap GDP (Q1 2018: -2.2% GDP) membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan yang sangat dalam sebesar -4.83% selama seminggu terakhir ( 13- 16 Agustus 2018) dari level 6,077.17 menjadi 5,783.79 diikuti oleh (net sell)  investor asing secara week to date (wtd) sebesar Rp -2.5 triliun dan secara month to date (mtd) sebesar Rp -2.1 triliun. Sektor yang mengalami kenaikan seminggu terakhir yaitu agriculture sebesar +3.11%, sedangkan hampir semua sektor mengalami penurunan dimana yang terbesar yaitu mining -6.09% diikuti oleh finance -5.62% dan property -5.13%.
  • Pelemahan di pasar saham juga diikuti oleh pasar obligasi dimana harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Index mengalami penurunan sebesar -0.47% selama 1 minggu terakhir (13 – 16 Agustus 2018), sedangkan pergerakan yield SUN tenor 10 tahun mengalami koreksi dari level 7.69% bergerak ke level 7.96% sejalan dengan kenaikan US Treasury 10 years yang sempat menyentuh level 3%. Meskipun pasar obligasi mengalami koreksi, berdasarkan laporan DJPPR per tanggal 15 Agustus 2018, investor asing masih melakukan pembelian (net buy) Rp 5.10 triliun sehingga Kepemilikan asing naik dari Rp 839.30 triliun di akhir Juli 2018 menjadi Rp 844,40 triliun. Seminggu terakhir nilai Rupiah juga mengalami pelemahan dari level 14,495/USD ke level 14,590/USD.


Data Makroekonomi & Ekspektasi Pasar Saham dan Obligasi

  • Current Account Deficit (CAD) di 2Q 2018 mengalami kenaikan dari level sebelumnya (-2.2% dari PDB setara USD -5.7 milyar di 1Q 2018) menjadi (-3.0% dari PDB setara USD -8 milyar) dipengaruhi oleh meningkatnya aktifitas impor terutama minyak dan bahan baku untuk proyek infrastruktur. Kami melihat CAD di 3Q dan 4Q 2018 akan mengalami perbaikan kembali ke level -2.20 – 2.26% dari PDB yang didorong oleh rencana Pemerintah mengevaluasi beberapa proyek infrastruktur serta tiga event besar seperti Asian Games, IMF World Bank Summit dan Pilpres 2019 bisa meningkatkan domestic consumption.
  • Data Trade Balance Juli 2018 menunjukan defisit perdagangan USD -2.03 milyar (Est Cons: USD -680 juta) yang disebabkan oleh peningkatan impor yang signifikan di Juli 2018 sebesar USD 18.27 milyar (+62.17% MoM dan +31.56% YoY), sedangkan nilai ekspor hanya tumbuh sebesar USD 16.24 milyar (+25% MoM dan +19.20% YoY).
    Cadangan devisa di bulan Juli 2018 juga kembali mengalami penurunan ke level USD 118.3 milyar dari level sebelumnya di bulan Juni 2018 sebesar USD 119.8 milyar karena intervensi Bank Indonesia dalam menjaga mata uang Rupiah. Salah satu langkah untuk menjaga nilai Rupiah yang dilakukan oleh BI yaitu pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) yang berlangsung hari Rabu 15 Agustus 2018 memutuskan kembali menaikkan BI – 7 Day Reverse Repo Rate 25 Bps dari 5.25% menjadi 5.5%.
  • Pergerakan IHSG sampai akhir Agustus 2018 kami memperkirakan ada di level 5,950 dengan alokasi portfolio overweight di sektor banking, consumer dan telco. Sedangkan untuk pasar obligasi, alokasi portfolio overweight pada SUN Non- Benchmark tenor pendek dan menengah ( 4-10 tahun) untuk menjaga market volatility.



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list