Weekly Perspective - W3 September 2019

Bank Sentral Eropa kembali memangkas suku bunga simpanan menjadi -0.50%

  • Bank Sentral Eropa (ECB) mengumumkan memangkas suku bunga simpanan utamanya sebesar 10 basis poin menjadi -0,50% serta memproyeksikan suku bunga untuk tetap pada tingkat saat ini atau lebih rendah sampai prospek inflasi berada di tingkat yang cukup dekat tetapi di bawah 2.00 % sesuai dengan proyeksi. Selain itu ECB juga masih akan melakukan program pembelian obligasi setiap bulan dengan nilai sebesar Euro 15-20 milyar sampai dengan batas waktu yang tidak ditentukan serta berbagai macam stimulus lainnya yang bertujuan untuk merangsang ekonomi zona euro yang sedang lemah serta inflasi yang terus-menerus rendah dan perang dagang antara Amerika Serikat (AS)-China yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi global menurun.
  • Presiden AS Donald Trump pada hari Kamis 12 September 2019 telah sepakat untuk menunda kenaikan tarif impor China senilai USD 250 miliar hingga 15 Oktober 2019. Keputusan itu diambil setelah China setuju untuk tidak memberlakukan tarif balasan terhadap sejumlah produk AS. Dalam waktu dekat, AS dan China akan menggelar pembicaraan awal di tingkat deputi untuk memastikan negosiasi berikutnya yang dihadiri pejabat senior bisa mengarah kepada tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang dagang yang telah berlangsung selama 1.5  tahun terakhir.

Neraca perdagangan Agustus 2019 surplus USD 85 juta

  • Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Agustus 2019 surplus tipis sebesar USD 85.1 juta. Pada Agustus 2019, kinerja ekspor tercatat USD 14.20 miliar atau turun 7,65% dibandingkan dengan Juli 2019. Sementara itu, impor Agustus 2019 tercatat sebesar USD 14.28 miliar atau turun 8.50% dibandingkan dengan Juli 2019. Secara kumulatif Januari - Agustus 2019 masih defisit neraca dagang sebesar USD 1.81 miliar. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan posisi tahun sebelumnya sebesar USD 4.16 miliar.

Menguatnya nilai tukar Rupiah mendorong penguatan pasar saham dan obligasi

  • Selama sepekan terakhir periode (09 – 13 September 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan sebesar +0.41% setelah mengalami penurunan di minggu sebelumnya dan ditutup di level 6,334.84. Pergerakan IHSG selama sepekan terakhir dipengaruhi sentimen positif global diantaranya ECB yang kembali menurunkan suku bunga sebesar 10 bps sehingga membuat time deposit rate menjadi -0.5% serta kembali melanjutkan program quantitative easing dimana hal ini berdampak positif terhadap emerging market. Sedangkan terkait dengan perang dagang, AS sepakat untuk menunda tarif tambahan sebesar USD 300 miliar untuk barang China setelah China juga membatalkan untuk mengenakan tarif sebesar USD 75 miliar untuk barang AS dan kedua negara akan kembali melakukan pembicaraan antar kedua negara di minggu keempat September 2019 sehingga membuat nilai tukar Rupiah menguat ke level Rp 13,940 /USD dari level sebelumnya di Rp 14,180 /USD. Meskipun IHSG mengalami kenaikan namun investor asing yang membukukan net sell sepanjang week to date sebesar Rp -700 Milyar dan Rp -9.7 triliun secara year to date. Sektor yang mengalami kenaikan terbesar diantaranya Property +2.40% diikuti oleh Agriculture +1.90%, Finance +0.92% dan Infrastructure +0.58%. Sedangkan sektor yang mengalami penurunan terbesar diantaranya Mining -1.28% diikuti oleh Basic Industry-1.05%, Trade Services -0.24% dan Manufacturing -0.11%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) mengalami kenaikan +0.70% selama satu minggu terakhir dipengaruhi oleh situasi global yang mulai membaik serta data cadangan devisa Agustus 2019 yang mengalami kenaikan. Kenaikan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 7.32% menjadi 7.17%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 12 September 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesarRp +10.00 triliun dan secara year to date membukukan net buy sebesar Rp +126.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 1,019.20 triliun.
  • Portfolio Reksa Dana Saham melakukanakumulasi pembelian pada saham-saham khususnya blue-chip dan mid-cap yang sebelumnya mengalami koreksi dengan sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, dan Miscellaneous Industry serta menjaga alokasi portfolio di level 90 – 93% untuk meminimalkan volatilitas dan memaksimalkan Return Portfolio. Reksa Dana Obligasi berfokus pada SUN seri benchmark tenor 15 dan 20 tahun serta menjaga durasi portfolio di level 7.50 – 8.00. Alokasi Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.




DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list