Weekly Perspective - W3 Oktober 2018

Kenaikan US treasury Yield dan Pelemahan Rupiah Berdampak Negatif pada Pasar Obligasi

  • Setelah mengalami penurunan yang cukup dalam pada Minggu pertama Oktober 2018 sebesar -4.09%, di minggu kedua Oktober 2018 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan tipis sebesar +0.43% ditutup di level 5,756.49. Walaupun IHSG mengalami kenaikan, investor asing masih melakukan net sell secara week to date sebesar Rp -4.10 triliun (secara month to date net sell: -6.50 triliun). Sektor yang mengalami kenaikan terbesar diantaranya Consumer Goods +2.02%, Infrastructure +1.80% dan Manufacturing +1.14%. Sementara sektor yang mengalami penurunan terbesar yaitu Mining -2.39%  diikuti oleh Agriculture -1.66%, Trade Services  -1.12% dan Miscellaneous Industry  -1.07%.
  • Sedangkan di Pasar Obligasi harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Index (BINDO) selama sepekan terakhir periode 8 -12 Oktober 2018 mengalami koreksi -1.28% dipengaruhi oleh sentimen negatif kenaikan Yield US Treasury 10 years yang sempat menyentuh level 3.25% (tertinggi sejak tahun 2011) serta sejalan dengan pergerakan yield SUN tenor 10 tahun yang mengalami kenaikan dari level 8.40% menjadi 8.85%. Berdasarkan dengan laporan DJPPR per tanggal 15 Oktober 2018,  investor asing membukukan net sell Rp -2.25 triliun secara month to date dari posisi Rp 850.45 triliun di akhir September 2018 menjadi Rp 848.20 triliun. Kami melihat dengan dengan level yield SUN tenor 10 tahun yang sudah di atas 8.5%, valuasi harga SUN sudah cukup atraktif bagi investor asing untuk mulai kembali melakukan akumulasi pembelian SUN kedepannya baik di seri Benchmark maupun Non- Benchmark.
  • Annual Meeting IMF – World Bank yang diadakan di Bali tanggal 8 -14 Oktober 2018 telah selesai dilaksanakan. Beberapa hal penting yang dibahas dan disepakati diantaranya: penguatan kerjasama ekonomi antar negara dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global (trade war issue), penguatan pembiayaan infrastruktur Indonesia sehingga kedepannya tidak hanya bergantung pada APBN, memanfaatkan perkembangan ekonomi dan keuangan digital terutama dalam hal pengembangan sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan bagaimana memajukan ekonomi syariah kedepannya.
  • Data Trade Balance Indonesia periode September 2018 mengalami surplus sebesar USD 230 Juta setelah dua bulan sebelumnya mengalami defisit (Juli 2018: USD -2.00 milyar dan Aug 2018: USD -1.00 milyar). Surplusnya neraca perdagangan dipengaruhi oleh penurunan import growth yang lebih besar dibandingkan export growth dimana September 2018 import growth sebesar +14.20% (bersumber dari impor migas) lebih rendah dibandingkan Agustus 2018 sebesar +24.50%, sedangkan untuk export growth +1.70% (CPO dan komoditas) lebih rendah dibandingkan Agustus 2018 sebesar +4.50%.  Pelaku pasar juga masih menantikan data Current Account Deficit (CAD) 3Q 2018 yang akan diumumkan November 2018 dimana ekspektasi market consensus CAD sebesar -3.20 – 3,60% dari GDP.
  • Portfolio Reksa Dana Saham akan mencoba memanfaatkan kondisi valuasi saham yang relatif murah dan berpotensi untuk menguat. Kenaikan jangka pendek dari IHSG masih bisa berlanjut, namun pemilihan saham harus dilakukan dengan tetap selektif sehingga bisa memberikan return yang optimal. Reksa Dana Obligasi mulai kembali melakukan akumulasi pada SUN tenor menengah (tenor 5-10 tahun) dimana level Yield SUN 10 tahun saat ini sudah diatas 8.50% serta obligasi korporasi tenor pendek (3-5 tahun) dengan kupon yang tinggi untuk menjaga volatilitas market dan memaksimalkan Return Portfolio. Durasi portfolio Reksa Dana tetap dijaga di level 4.00 – 4.50.



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list