Weekly Perspective - W3 Oktober 2017

Market Review

  • IHSG bergerak terbatas pada kisaran 5.880-5.950 dimana setelah menyentuh level tertingginya, IHSG cenderung kembali terkoreksi. Selama 1 minggu terakhir (9-13 Okt 2017), IHSG berhasil mengalami kenaikan 0.32% dari level terendahnya 5.882,8 ditutup pada 5.926,2. Namun investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp 1,3 Triliun atau akumulasi selama Month to Date (MTD) hingga 13 Okt 2017 sebesar Rp 5,1 Triliun. Sentimen yang mempengaruhi pergerakan IHSG antara lain : rilis notulensi hasil meeting The Fed yang memperkirakan masih adanya kenaikan suku bunga di akhir 2017. Adapun dari sisi domestik, penerimaan pajak hingga Sept 2017 baru mencapai Rp 770,7 Triliun atau sekitar 60% dari target APBN-P 2017 sebesar Rp 1,28 Triliun. Secara sektoral, aneka industri mengalami kenaikan tajam +5.4% diikuti dengan Mining +1.6% dan Basic Industry +1.6%. Adapun sektor Infrastructure mengalami penurunan terbesar -2,0% khususnya dari penurunan saham Telco dan diikuti dengan penurunan di sektor Consumer Goods -1.1%.
  • Pada pasar obligasi, setelah mengalami kenaikan signifikan dalam 2 bulan terakhir, harga obligasi cenderung mengalami penurunan tipis. Walaupun inflasi relatif masih menurun dan Bank Indonesia sudah menurunkan suku bunga acuan, yield SUN tenor 10 tahun cenderung naik tipis dari level 6,53% naik ke level 6,56%. Setelah 1 minggu sebelumnya, pelaku pasar cenderung mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 11,49 Triliun, kepemilikan asing di pasar SUN masih bertahan sebesar Rp 807 Triliun atau 39% dari total outstanding. Mata uang Rupiah menguat tipis dari level Rp 13.504/USDmenjadi Rp 13.499/USD.

Global

  • The Fed merilis notulensi FOMC meeting bulan Sept 2017. Dalam notulensi tersebut, beberapa petinggi The Fed menyatakan bahwa rendahnya inflasi AS hanya berlangsung sementara. Selain itu, rendahnya laju inflasi tidak akan menghalangi rencana The Fed untuk menaikkan Fed Fund Rate.
  • Data inflasi AS Sept’17 mengalami kenaikan dari 1,9% yoy menjadi 2,2% yoy. Walaupun mengalami peningkatan namun masih dibawah ekspektasi konsensus sebesar 2,3%yoy.
  • Data pertumbuhan ekonomi Singapura QQ3/2017 mengalami kenaikan +4.6% yoy diatas periode sebelumnya 3,8% yoy, didorong peningkatan ekspor barang elektronik, biomedical manufacturing dan ekspor hasil olahan manufacturing lainnya.

Domestic

  • Pendapatan pajak hingga Sept17 baru mencapai Rp 770,7 Tn atau 60% dari target APBN-P 2017 sebesar Rp 1.283 Tn. Bila dibandingkan realisasi Sept16 terlihat adanya penurunan -2,8% yoy karena faktor high base tahun lalu dari pendapatan tax amnesty.
  • Data perdagangan yang dirilis untuk periode Sept 2017 mencatatkan surplus sebesar USD 1,8 miliar. Apabila diakumulasikan sepanjang 2017 maka surplus neraca perdagangan ini sudah mencapai USD 10,8 miliar atau 72% lebih tinggi dari level tahun 2016 lalu, didorong kenaikan harga komoditas dan peningkatan volume dari pemulihan ekonomi global.
  • Pertumbuhan ekspor di bulan Sept 2017 sebesar +15,6% yoy, setelah mengalami kenaikan +19,2% yoy di bulan Agustus 2017. Adapun dari sisi impor mengalami peningkatan dari +9,1% yoy menjadi +13,1% yoy di Sept2017.
  • Diestimasi peningkatan ekspor akan kembali normalisasi setelah faktor low base di tahun lalu. Namun peningkatan ekspor ini yang mendorong optimisme IMF hingga merevisi estimasi pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2017dari 5,1%yoy menjadi 5,2%yoy.

Market Expectation

  • IHSG masih berfluktuatif dan melanjutkan konsolidasinya dengan bergerak sideways. Investor asing masih cenderung net sell di pasar saham dengan akumulasi sebesar –Rp 15,9 Tn dibandingkan net buy selama 1 tahun di 2016sebesar +Rp 22,6Tn.
  • Pelaku pasar bersikap hati-hati menjelang serangkaian faktor yang akan dirilis dalam 1-2 minggu mendatang. Dari rilis laporan keuangan emiten QQ3/2017, rilis data pertumbuhan ekonomi dan indikator ekonomi penting lainnya dari China. Dimana ekonomi China diestimasi masih melambat dengan tumbuh 6,8% yoy dibandingkan periode sebelumnya 6,9%yoy.
  • Presiden China Xi Jinping juga akan memberikan pidato pada pembukaan Kongress Partai Komunis, dimana pasar menantikan sinyal-sinyal terkait rencana deleveraging, penurunan kapasitas produksi dan global belt and road infrastructure plan.
  • Adapun dari AS, kita masih menantikan persetujuan atas cetak biru anggaran yang menjadi panduan belanja Federal dan rancangan UU Pajak yang sangat dinantikan pasar.
  • Pertemuan Bank Indonesia pada minggu ini juga diestimasi akan menahan level suku bunga acuan, setelah penurunan selama 2 bulan sebelumnya dengan akumulasi sebesar 50bps.



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list