Weekly Perspective - W3 October 2019

Parlemen Inggris menyetujui amandemen untuk menunda proses Brexit

  • Anggota parlemen Inggris memberikan pukulan telak kepada Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada kesepakatan Brexit (Inggris keluar dari Uni Eropa) di menit-menit terakhir pemungutan suara di parlemen pada hari Sabtu 19 Oktober 2019 dengan menyetujui amandemen yang menunda Brexit sampai undang-undang terkait penarikan diri dari Uni Eropa disahkan. Anggota parlemen memutuskan dengan 322 suara mendukung langkah yang diajukan oleh mantan menteri kabinet Oliver Letwin. Amandemen ini menunda keputusan apakah akan mendukung kesepakatan Brexit dan secara efektif memaksa Johnson untuk meminta perpanjangan waktu ketiga kalinya kepada Uni Eropa. Keputusan tersebut merupakan kemunduran besar bagi Johnson yang mengatakan kepada anggota parlemen setelah pemungutan suara bahwa Pemerintah akan memperkenalkan undang-undang Brexit yang diperlukan minggu depan.
  • IMF memperingatkan dampak perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina sebanding dengan nilai ekonomi Swiss tahun depan. Pada tahun 2020 tarif yang sudah diberlakukan akan menurunkan PDB global sebesar USD 700 miliar atau setara dengan ekonomi Swiss. Proyeksi ekonomi global saat ini menunjukan pertumbuhan PDB 2019 sebesar 3.00%, turun dari estimasi awal 3.20% karena meningkatnya dampak dari perang dagang AS dan China.

Membaiknya situasi geopolitik memberikan dampak positif bagi pasar domestik

  • Selamasepekanterakhirperiode (14 – 18 Oktober 2019) IndeksHargaSahamGabungan (IHSG) mengalamikenaikansebesar +1.41% melanjutkankenaikan di minggusebelumnya dan ditutup di level 6,191.94. Kenaikan IHSG selamasepekanterakhirdarisisi global dipengaruhisentimenpositifperundingandagangantara AS dan China yang saatinisedangberlangsung di Washington DC dan akandilanjutkandenganpertemuanpuncakantara Trump dan Xi Jinping di KTT APEC November 2019. Sedangkandarisisidomestik pasar meresponpositifsuasanakondusifmenjelangpelantikanPresiden dan Wakil Presiden pada tanggal 20 Oktober 2019 dan menantikansusunankabinetPresiden Joko Widodo periodeke II terutama yang berkaitandengansektorekonomi dan infrastruktur. Sentimenpositifdari global dan domestikmembuatnilaitukar Rupiah menguatke level Rp 14,080 /USD dari level sebelumnya di Rp 14,188 /USD. Meskipun IHSG mengalamikenaikannamun investor asingmasihmembukukannet sell sepanjangweek to date sebesarRp -1.30 triliun dan Rp -15.70 triliunsecarayear to date. Hampirseluruhsektormengalamikenaikandimanasektor yang mengalamikenaikanterbesaryaituBasic Industry +7.29%, diikuti oleh Miscellaneous Industry +3.62%, Finance  +2.75% dan Trade Services +1.57%. Sedangkansektor yang mengalamipenurunanyaituConsumer Goods – 2.26% dan Mining -1.91%.
  • Sedangkanuntuk pasar obligasidomestikharga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) mengalamikenaikansebesar +1.05% selamasatumingguterakhirdipengaruhi proses negosiasiperangdagangantara AS dan China yang mencapaibeberapakesepakatandiantaranyaberkaitandengansektorpertanian dan manufaktur, selainitu China juga menyetujuiusulan yang disampaikan oleh AS terkaitdenganregulasiatashakkekayaanintelektual yang lebihdiperketatkedepannya. SentimenpositiflainnyayaituekspektasiThe Fed akankembalimenurunkansukubungaFed Fund Ratesebesar 25 bps dari 2.00% menjadi 1.75% pada FOMC Meeting yang berlangsungtanggal 30 Oktober 2019 dan diprediksiakandiikuti oleh Bank Indonesia denganmenurunkanBI-7 Day Reverse Repo Rate dari 5.25% menjadi 5.00% untukmenjaga momentum pertumbuhanekonomidomestik. Kenaikanhargaobligasisejalandenganpergerakanyield SUN 10 tahun yang mengalamipenurunandari level yield 7.21% menjadi 7.12%. Berdasarkan data dariDirektoratJendralPembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 17 Oktober 2019 investor asingmembukukannet buy secaramonth to date sebesarRp +8.00 triliun dan secarayear to date membukukannet buy sebesarRp +143.00 triliun di pasar obligasidomestikdariposisiakhirDesember 2018 sebesarRp 893.20 triliunmenjadi 1,036.20 triliun.
  • Portfolio Reksa Dana Sahammelakukanakumulasipembelian pada saham-sahamkhususnyablue-chip dan mid-cap yang sebelumnyamengalamikoreksidengansektorpilihandiantaranyaFinance (Banking), Consumer, Mining dan Miscellaneous Industry sertamenjagaalokasi portfolio di level netral 90 – 93% untukmeminimalkanvolatilitas dan memaksimalkan Return Portfolio. Reksa Dana Obligasiberfokus pada SUN seribenchmark tenor 10 dan 15 tahunsertamenjagadurasi portfolio di level 7.50 – 8.00. Alokasi Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.





DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list