Weekly Perspective - W3 November 2018

Penurunan Harga Minyak Memberikan Sentimen Positif di Emerging Market

  • Harga minyak mentah WTI Crude selama sepekan terakhir periode 12 – 17 November 2018 mengalami penurunan dari level USD 59.93 / barrel ke level USD 53.43/ barrel (level terendah sejak November 2017) melanjutkan penurunan yang terjadi di minggu sebelumnya. Penurunan harga Minyak dipengaruhi oleh berbagai macam faktor diantaranya ekspektasi adanya perlambatan ekonomi global di tahun 2019 serta melimpahnya pasokan Minyak di pasar dari anggota OPEC dan Amerika. Penurunan harga Minyak memberikan sentimen positif untuk emerging market seperti Indonesia karena akan membuat biaya impor BBM berkurang yang tentunya akan memperbaiki posisi current account deficit (CAD) dan penguatan nilai mata uang Rupiah terhadap USD serta level inflasi sampai dengan akhir tahun 2018 bisa tetap dijaga di angka 3.50%.
  • Menurunnya harga Minyak memberikan sentimen positif pada pasar saham Indonesia dimana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepekan terakhir mengalami kenaikan yang cukup signifikan sebesar +2,35% ditutup di level 6,012.35. Kenaikan IHSG Sejalan dengan investor asing yang kembali melakukan net buy Rp 3.40 triliun selama week to date (month to date: net buy Rp 7.10 triliun). Hampir seluruh sektor mengalami kenaikan dimana sektor Basic Industry mengalami kenaikan terbesar +5.72% diikuti oleh Miscellaneous Industry +3.75%, Infrastructure +3.28% dan Manufacturing +2.96%. Adapun sektor yang mengalami penurunan hanya Agriculture sebesar -3.12%. 
  • Kenaikan pada IHSG juga diikuti oleh kenaikan harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) yang mengalami kenaikan +0.68% melanjutkan kenaikan harga obligasi sejak awal bulan November 2018 sejalan dengan pergerakan Yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari 8.15% ke level 8.00%. Berdasarkan laporan Direktorat Jendral Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 19 November 2018, investor asing membukukan net buy sebesar Rp 17 triliun dari posisi Rp 864.35 triliun di akhir Oktober 2018 menjadi Rp 881.35 triliun yang didominasi oleh pembelian SUN seri pendek dan menengah. Nilai Rupiah selama sepekan terakhir juga mengalami penguatan dan ditutup di level Rp 14,588 / USD. 
  • Trade Balance Oktober 2018 kembali mengalami defisit USD -1.80 milyar (consensus: USD -342 juta) yang disebabkan oleh pertumbuhan impor sebesar 23.70% YoY (consensus: 10.65%) yang didominasi oleh impor migas dan pertumbuhan ekspor yang relatif rendah sebesar 3.60% YoY (consensus: 5.77%) disebabkan oleh menurunnya harga komoditas terutama harga CPO dan karet.  Kami melihat trade balance bulan November 2018 akan ada perbaikan salah satunya dipengaruhi oleh penurunan harga minyak. 
  • Bank Indonesia Kembali Menaikkan BI – 7 Day Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) 25 Bps dari 5.75% ke 6.00% pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) yang berlangsung 15 November 2018. Kenaikan ini cukup mengejutkan pelaku pasar karena ekspektasi kenaikan BI-7DRRR baru akan terjadi di Desember 2018. BI berpendapat bahwa kenaikan rate bertujuan untuk memperbaiki posisi CAD serta melakukan strategi mendahului kenaikan Fed Fund Rate di bulan Desember 2018 untuk menjaga volatilitas pergerakan nilai tukar Rupiah. 
  • Portfolio Reksa Dana Saham akan membeli saham-saham yang berpotensi memberikan return yang optimal jika terjadi koreksi akibat dari profit taking. Sektor pilihan antara lain sektor Finance, Trade (retailer) , Basic Industry (poultry) dan Consumer. Reksa Dana Obligasi akan kembali melakukan profit taking secara bertahap pada level yield 10 tahun 7.90 – 8.00% dan kembali melakukan akumulasi SUN tenor menengah dan panjang (tenor 10-15 tahun) secara bertahap ketika level yield 10 tahun berada di level 8.20 – 8.30%. Porsi Obligasi Korporasi tenor pendek (3-5 tahun) dengan kupon yang tinggi tetap dipertahankan untuk menjaga volatilitas pergerakan market dan memaksimalkan Return Portfolio. Durasi portfolio Reksa Dana akan ditingkatkan ke level 5.00 – 6.00.



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list