Weekly Perspective - W3 March 2020

Pemerintah Indonesia memberlakukan stimulus insentif fiscal untuk mengatasi Covid 19

  • Pemerintah Indonesia kembali mengeluarkan stimulus ekonomi yang meliputi stimulus fiskal dan nonfiskal dengan tujuan untuk menjaga agar sektor industri tetap bergerak serta memacu daya beli masyarakat demi mendorong kinerja ekonomi nasional Stimulus fiskal yang diluncurkan dalam rangka penanganan Covid 19 meliputi relaksasi Pajak Penghasilan Pasal 21 PPh 21 melalui skema Ditanggung Pemerintah ( sebesar 100 atas penghasilan dari pekerja dengan besaran sampai Rp 200 juta pada industri manufaktur PPh 21 diberikan selama enam bulan terhitung mulai April hingga September 2020 Nilai besaran yang ditanggung pemerintah mencapai Rp 8 60 triliun

Bank Indonesia kembali menurunkan suku bunga 25 bps menjadi 4 50

  • Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia RDGBI memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin ( menjadi 4 50 Selain itu bank sentral juga menurunkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 3 75 Kemudian suku bunga Lending Facility juga diturunkan menjadi 5 25 Kebijakan moneter akan tetap akomodatif dan konsisten dengan perkiraan inflasi yang terkendali serta langkah preemptive untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi

BI-7 Day Reverse Repo Rate

Apr 19 - Mar 20

sumber: Bloomberg

IHSG dan Yield Obligasi masih mengalami koreksi yang cukup dalam akibat Covid 19
  • Selama sepekan terakhir periode 1 6 2 0 Maret 2020 Indeks Harga Saham Gabungan ( melanjutkan penurunan yang sangat dalam sebesar 14 52 melanjutkan penurunan di minggu sebelumnya yang turun sebesar 10 75 dan ditutup di level 4 194 94 sehingga secara year to date IHSG mengalami penurunan sebesar 33 40 Penurunan IHSG yang berlangsung sangat cepat dipengaruhi oleh meluasnya dampak virus Corona di Indonesia dimana 540 orang telah terinfeksi sehingga memberikan kepanikan pada investor terutama yang berinvestasi di emerging market Penurunan IHSG yang cukup signifikan membuat level valuasi IHSG secara PE Price Earning Ratio) saat in sudah di level 2 00 standar deviasi dan secara PBV (Price to Book Value) sudah menyentuh level 1 30 x dan hampir mencapai level valuasi ketika terjadi krisis global di tahun 2008 sebesar 1 25 x Mayoritas saham bluechip di IHSG saat ini juga cukup attractive dengan PBV di bawah 1 00 a kibat penurunan ini Penuruna n IHSG serta pasar Obligasi domestik secara signifikan juga membuat nilai tukar Rupiah melemah secara signifikan mendekati tahun 1998 ke level Rap 15 800 /USD dari level sebelumnya di Rp 14 940 /USD dampak dari capital outflow yang dilakukan oleh investor asing dari emerging marke t Penurunan IHSG sejalan dengan investor asing yang membukukan net sell sepanjang week to date sebesar Rp 2 40 trilliun dan year to date Rp 12 80 trilliun Seluruh sektor mengalami penurunan dimana yang mengalami penurunan terbesar yaitu Miscellaneous Industry 19 43 diikuti oleh Financ e 18 58 Infrastructur e 14 76 Manufacturing 13 99 dan Agriculture 13 59
  • Sedangkan untuk pasar Obligasi domestik harga Surat Utang Negara ( yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (juga melanjutkan penurunan yang cukup dalam sebesar 3 50 selama satu minggu terakhir sehingga secara year to date sudah turun sebesar 4 65 Penurunan in dipengaruhi oleh meluasnya penyebaran virus corona dari sebelumnya hanya di Kawasan Asia berkembang hingga ke Eropa dan Amerika sehingga banyak negara yang memutuskan untuk melakukan lockdown terhadap pendatang dari luar sehingga dalam jangka pendek akan memukul perekonomian kedepannya Penurunan harga Obligasi sejalan denga pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami Kenaikan dari level yield 7 60 menjadi 8 1 0 Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko ( per tanggal 18 Maret 2020 investor asing membukukan net sell secara month to date sebesar Rp 7 2 00 trilliun dan secara year to date membukukan net sell sebesar Rap 8 4 00 trilliun di pasar Obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2019 sebesar Rp 1 062 20 trilliun menjadi 97 8 20 trilliun
  • Portfolio Reksa Dana Saham akan kembali melakukan akumulasi pembelian pada saham saham blue chip yang sudah berada dalam valuasi yang murah dan berpotensi memberikan pertumbuhan laba yang baik kedepannya Sektor perbankan masih menjadi salah satu sektor pilihan, di samping itu ada sektor C onsumer, dan Miscellaneous Industries Alokasi portfolio dijaga di level 80 85 sebagai antisipasi volatilitas market yang masih akan berlangsung dampak dari penyebaran Covid 19 yang masih cukup masif Reksa Dana Obligasi berfokus pada SUN seri benchmark tenor 5 10 tahun serta menurunkan durasi portfolio di level 5 50 6 00 A lokasi portfolio untuk Obligasi Korporasi tenor pendek 3 tahun) dengan kupon yang tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list