Weekly Perspective - W3 March 2019

Ketidakpastian Brexit menyebabkan perlambatan ekonomi Inggris

  • Bank of England merevisi pertumbuhan ekonomi Inggris di tahun 2019 dari 1.40% menjadi 1.10%, dimana hal itu merupakan pertumbuhan  ekonomi terendah dalam satu dekade terakhir. Hal ini sejalan dengan estimasi yang dikeluarkan oleh British Chambers Association (Asosiasi Pengusaha Inggris) bahwa Perusahaan – perusahaan multinasional yang berkantor di London akan memangkas nilai investasi sampai dengan level terendah dalam 10 tahun terakhir yang akan memicu kenaikan upah dan membebani perekonomian Inggris secara keseluruhan meskipun Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan bahwa Inggris akan diberi kemudahan untuk keluar dari Uni Eropa. Saat ini ada tiga skenario yang dihadapi oleh Inggris terkait dengan Brexit diantaranya membuat kesepakatan dengan Uni Eropa (UE) di menit terakhir, tetap bergabung dengan UE dan terakhir keluar dari UE tanpa kesepakatan berarti. Minggu ini Perdana Menteri akan kembali melakukan pertemuan dengan parlemen untuk meminta dukungan terkait proses referendum Brexit yang akan berakhir pada akhir bulan Maret 2019 sehingga terhindar dari skenario Inggris keluar dari UE tanpa adanya kesepakatan yang berpotensi menyebabkan resesi ekonomi dalam beberapa tahun mendatang. 

Neraca dagang Indonesia bulan Februari 2019 surplus USD 330 juta

  • Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan bulan Februari 2019 mengalami surplus USD +330 juta (konsensus: USD  -800.00 juta). Surplus neraca perdagangan terjadi karena nilai impor turun lebih dalam dibandingkan nilai ekspor. Nilai ekspor di bulan Februari 2019 mencapai ISD 12.53 milyar atau turun 10.03% dibandingkan Januari 2019 karena penurunan ekspor migas dan non-migas, sedangkan nilai impor Februari 2019 sebesar USD 12.20 milyar mengalami penurunan 18.61% dibandingkan bulan sebelumnya. 

Positifnya neraca perdagangan memberikan sentimen positif pada pasar domestik

  • Selama sepekan terakhir periode (11– 15 Maret 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan sebesar +1.22% ditutup di level 6,461.18 setelah mengalami penurunan di minggu sebelumnya dampak dari pelemahan nilai tukar Rupiah. Meskipun IHSG mengalami kenaikan namun investor asing membukukan net sell selama week to date sebesar Rp -1.80 triliun tetapi secara year to date investor asing masih membukukan net buy sebesar Rp 8.20 triliun. Hampir seluruh sektor mengalami kenaikan dimana yang mengalami kenaikan terbesar yaitu Basic Industry  +2.85%, diikuti oleh Finance +1.65%, Consumer Goods +1.49% dan Property +1.33%. Sedangkan sektor yang mengalami penurunan hanya  Agriculture -0.28% dan Infrastructure -0.01%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami kenaikan sebesar +0.60% dampak dari positifnya neraca perdagangan di bulan Februari 2019 sebesar USD 330 juta. Hal ini sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 7.88% menjadi 7.75%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 14 Maret 2019 investor asing membukukan net buy secara year to date sebesar Rp 51.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 944.20 triliun. Kami melihat pergerakan pasar obligasi di bulan Maret 2019 masih akan positif didorong oleh besarnya total bid baikpada lelang SUN dan SBSN di sepanjang tahun 2019.
  • Portfolio Reksa Dana Saham telah melakukan profit taking di level IHSG saat ini dan akan kembali melakukan akumulasi pada saham-saham blue-chip dan mid-cap yang mengalami koreksi dengan beberapa sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, Infrastructure dan Miscellaneous Industries. Reksa Dana Obligasi telah melakukan profit taking danakankembali melakukan akumulasi SUN benchmark seri panjang tenor 15 dan 20 tahun secara bertahap serta durasi portfolio dijaga pada level 6.50 – 7.00. Alokasi Obligasi Korporasi tenor pendek (3-5 tahun) dengan kupon tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list