Weekly Perspective - W3 June 2020

The Fed pertahankan suku bunga acuan Fed Fund Rate di kisaran 0 – 0.25%

Di dalam Federal Open Market Committee (FOMC) Meeting yang berlangsung pada tanggal 9-10 Juni 2020, Bank sentral Amerika SerikatThe Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan Fed Fund Rate di kisaran 0 – 0.25% dan berkomitmen menggunakan seluruh instrumen untuk memulihkan perekonomian dari pandemi COVID-19. The Fed memandang krisis kesehatan yang timbul dari pandemi COVID-19 telah membebani aktivitas perekonomian, lapangan kerja, dan tingkat inflasi jangka pendek sehingga menimbulkan risiko besar terhadap prospek ekonomi Amerika Serikat dalam jangka menengah. The Fed mengestimasikan tingkat pengangguran di Amerika Serikat diperkirakan akan turun menjadi 9.30% di Q4 2020 dari posisi 13.30% pada bulan Mei 2020. Tingkat pengangguran diprediksi akan terus turun hingga 6.50% di tahun 2021. Sementara Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Sserikat diestimasi akan minus 6.50% tahun ini sebelum recovery dengan target pertumbuhan GDP 5% tahun 2021.

Neraca dagang Indonesia Mei 2020 surplus USD 2.09 miliar

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Mei 2020 mencatatkan surplus USD 2.09 miliar, sementara sepanjang Januari-Mei 2020 neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus USD 4.31 miliar. Kinerja ekspor Mei 2020 mencapai USD 10.53 miliar, turun 28.95% secara Year-on-Year (YOY) dari periode yang sama tahun sebelumnya, yang senilai USD 14.83 miliar. Terciptanya surplus ini kurang menggembirakan karena ekspor turun dan impor turun jauh lebih dalam. Penurunan ini perlu diperhatikan dan diwaspadai karena akan berpengaruh besar terhadap aktifitas perekonomian.

Neraca Perdagangan Indonesia Periode Jun 19– May 20 (dalam USD Jutaan)

Sumber: Badan Pusat Statistik

Pasar Saham dan Obligasi mengalami penurunan karena profit taking investor

  • Selama sepekan terakhir (08-12 Juni 2020), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar -1.36% setelah mengalami kenaikan >10% selama dua minggu terakhir dan ditutup di level 4,880.35 sehingga secaraYear-to-Date koreksi IHSG sebesar -22.50%. Faktor penurunan IHSG disebabkan adanya aksi profit taking dari investor terutama di sektor infrastruktur serta sektor Basic Industry dan Miscellaneous Industry mendorong penurunan terhadap IHSG. Penurunan IHSG sejalandengan investor sing yang membukukan net sell sepanjangWeek-to-Date sebesar Rp -1.80 triliun dan Year-to-Date net sell Rp -22.10 trilliun. Sektor yang mengalami kenaikan hanya Agriculture sebesar +0.78% dan Finance sebesar +0.48%. Adapun sektor yang mengalami penurunan yaitu Infrastructure -4.05%, Basic Industry -3.92%, Miscellaneous Industries -3.47%, Property -3.41% dan Manufacturing -2.04%.
  • Sedangkan untuk Pasar ObligasiDomestik, harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) mengalami penurunan -0.20% selama satu minggu terakhir setelah mengalami kenaikan selama dua minggu berturut-turut. Penurunan harga Obligasi selama sepekan terakhir dipengaruhi aksi profit taking dari investor terutama untuk SUN dan SBSN yang telah mengalami kenaikan harga yang signifikan. Kami melihat Pasar Obligasi Domestik dengan level yield SUN 10 Tahun di level 7.20% masih cukup atraktif, apabila dibandingkan dengan negara yang memiliki rating sama seperti Indonesia, yaitu India dengan yield Obligasi 10 tahun sudah menyentuh level 5.80%, sehingga masih ada potensi penurunan yield SUN untuk turun kedepannya. Penurunan harga Obligasi juga sejalan dengan melemahnya nilai tukar Rupiah ke Rp 14,010/USD dari posisi Rp 13,800/USD. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 11 Juni 2020 investor asing membukukan net buy sepanjang Month-to-Date sebesar Rp +5.00 triliun dan secara Year-to-Date net sell sebesar Rp -120.00 trilliun di pasar Obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2019 sebesar Rp 1,062.20 trilliun menjadi Rp 942.20 trilliun.
  • Strategi Portofolio Reksa Dana Saham masih tetapdefensif di level 85-90% sembari menunggu pergerakan IHSG kedepannya yang masih dengan tingkat volatilitas yang cukup tinggi akibat belum meredanya pandemi COVID-19. Tactical trading tetap dilakukan pada saham blue chip yang sudah berada dalam valuasi yang murah dan berpotensi memberikan pertumbuhan return kedepannya terutama di beberapa sektor seperti perbankan yang merupakan sektor dengan bobot terbesar dalam IHSG serta merupakan sektor yang akan menjadi penggerak ketika IHSG mengalami rebound, serta sektor Consumer, Infrastructure, Mining dan Miscellaneous Industries. Reksa Dana Obligasi berinvestasi pada SUN seri benchmark tenor 5 - 10 tahun serta durasi portofolio ditingkatkan ke level 6.00-6.50. Alokasi portfolio untuk Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi tetap dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan return Reksa Dana.

Download PDF



Back to list