Weekly Perspective - W3 July 2019

The Fed beri sinyal kuat pangkas suku bunga akhir Juli 2019

  • Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat Jerome Powell memberikan sinyal lebih kuat dalam pidato di depan kongres AS terkait kemungkinan penurunan suku bunga lebih besar pada Federal Open Meeting Commitee ( FOMC) yang berlangsung tanggal 31 Juli 2019. Powell mengatakan terjadinya perang dagang antara AS dan China yang masih berlanjut hingga saat ini mendorong terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi global sehingga memerlukan kebijakan moneter yang lebih akomodatif untuk menjaga pertumbuhan ekonomi AS kedepannya. Pelaku pasar melihat ini sebagai sinyal bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga acuan di akhir Juli 2019 sebesar 25-50 Bps dan kebijakan ini akan memberikan dampak positif pada emerging market termasuk Indonesia. 

Statement Dovish dari The Fed memberikan dampak positif pada nilai tukar Rupiah

  • Selama sepekan terakhir periode (08 – 12 Juli 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup flat sebesar 0% setelah mengalami kenaikan selama satu bulan berturut-turut ditutup di level 6,373.47. Pergerakan IHSG selama sepekan terakhir dipengaruhi sentimen global dan domestik diantaranya ekspektasi pelaku pasar bahwa The Fed akan melakukan pemangkasan suku bunga di FOMC Meeting Juli 2019 sebesar 25-50 bps sehingga membuat nilai tukar Rupiah kembali menguat terhadap USD dari level Rp 14,105 /USD ke level Rp 14,010 /USD. Sedangkan dari sisi domestik ekspektasi terhadap neraca perdagangan Indonesia bulan Juni 2019 akan kembali mengalami surplus seperti di bulan Mei 2019 dan meningkatnya cadangan devisa bulan Juni 2019 dibandingkan bulan sebelumnya akan menjadi katalis positif kedepannya. Kenaikan IHSG sejalan dengan investor asing yang membukukan net buy selama week to date sebesar Rp 2.20 triliun dan Rp +5.50 triliun secara year to date. Sektor yang mengalami kenaikan terbesar diantaranya Miscellaneous Industry +3.95% diikuti oleh Property +1.98%, Finance +1.47% dan Trade Services +1.29%. Adapun sektor yang mengalami penurunan terbesar diantaranya Consumer Goods  -3.14% diikuti oleh Mining -2.40%, Infrastructure -1.47% dan Manufacturing –1.32%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami kenaikan +0.50% selama satu bulan berturut-turut dari akhir bulan Mei 2019 pasca upgrade rating dari lembaga pemeringkat Standard and Poor’s (S&P) terhadap peringkat utang Indonesia satu notch dari BBB- (investment grade) menjadi BBB serta adanya ekspektasi bahwa The Fed akan menurunkan fed fund rate sebesar 25-50 Bps pada FOMC Meeting akhir Juli 2019. Kenaikan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 7.22% menjadi 7.15%. Pergerakan pasar obligasi di bulan Juli 2019 masih didorong oleh faktor global seperti perundingan lanjutan terkait perang dagang antara Amerika dan China yang berlangsung di sepanjang bulan Juli 2019 serta monetary policy yang lebih akomodatif dari The Fed untuk menjaga pertumbuhan ekonomi AS. Adapun dari sisi domestik perbaikan current account deficit akan menjadi perhatian dari investor asing maupun lokal kedepannya. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 11 Juli 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesarRp +12.00 triliun dan secara year to date membukukan net buy sebesar Rp +107.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 1000.20 triliun.
  • Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data neraca perdagangan Indonesia bulan Juni 2019 mengalami surplus USD +200 juta (data konsensus: surplus USD +600 juta) melanjutkan surplus yang terjadi di Mei 2019 sebesar USD +210 juta. Nilai ekspor Juni 2019 sebesar USD +11.78 milyar mengalami penurunan -8.98% sedangkan nilai impor USD +11.58 milyar mengalami kenaikan +2.80% dibandingkan bulan sebelumnya.
  • Portfolio Reksa Dana Saham melakukan akumulasi pembelian pada saham-saham khususnya blue-chip dan mid-cap yang sebelumnya mengalami koreksi dengan sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, Infrastructure dan Miscellaneous Industry serta menjaga alokasi portfolio di level 92 – 95% untuk memaksimalkan Return Portfolio. Reksa Dana Obligasi masih mempertahankan durasi portfolio di level 7.00 – 7.50 dengan fokus pada SUN seri benchmark tenor 15 dan 20 tahun. Alokasi Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.




DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list