Weekly Perspective - W3 January 2019

Wait and See Di Tengah Ketidakpastian Pasar Global

  • Tiga faktor utama yang akan mempengaruhi pergerakan market global maupun domestik sepanjang tahun 2019 terdiri dari: 

  1. Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China dimana apabila masih berlanjut di tahun 2019 berpotensi membuat pertumbuhan ekonomi kedua negara yang merupakan perekonomian nomor satu dan dua terbesar di dunia melambat sehingga akan berdampak juga kepada pertumbuhan ekonomi negara lainnya karena AS dan China merupakan negara tujuan ekspor baik bahan baku maupun manufaktur dari banyak negara di dunia.
  2. Kebijakan The Fed yang akan lebih moderat dalam menaikkan Fed Fund Rate (FFR) di tahun 2019 mengacu kepada pertumbuhan data ekonomi AS yang melambat seperti data manufacturing dan potensi penerimaan personal tax yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Rencana The Fed untuk lebih hati-hati menaikkan FFR dapat memberikan sentimen positif bagi emerging market seperti Indonesia berupa capital inflow karena imbal hasil investasi yang ditawarkan lebih tinggi dibandingkan di AS.
  3. Penurunan harga minyak mentah karena supply yang tersedia lebih banyak dibandingkan demand mengindikasikan adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi.

  • Dari pasar domestik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan terakhir periode (07 Januari - 11 Januari 2019) mengalami kenaikan yang signifikan sebesar +1.39% ke level 6,361.46 melanjutkan kenaikan yang terjadi pada minggu sebelumnya sebesar +1.29%. Kenaikan IHSG sejalan dengan investor asing yang membukukan net buy sebesar Rp 3.30 triliun selama week to date serta nilai tukar Rupiah juga menguat dari level Rp 14,270 / USD ke posisi Rp 14,040 / USD. Hampir seluruh sektor mengalami kenaikan dimana sektor yang mengalami kenaikan terbesar diantaranya Infrastructure +4.09%, diikuti oleh Property +2.91%, Basic Industry +2.67% dan Agriculture +2.37%. Adapun sektor yang mengalami penurunan yaitu sektor Consumer Goods -0.65% dan Trade Services -0.26%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) mengalami penurunan -0.20% sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang bergerak sideways di kisaran 7.90 – 8.00%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 11 Januari 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesar Rp 11 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 904.20 triliun. Lelang SBSN (Sukuk) pertama di tahun 2019 berlangsung tanggal 8 Januari 2019 dimana total bid yang masuk Rp 17.81 triliun dan yang dimenangkan oleh Pemerintah Rp 8.65 triliun. Seri yang menjadi benchmark SBSN di tahun 2019 diantaranya PBS 14 ( tenor 2 tahun), PBS 19 (tenor 5 tahun), PBS 21 (tenor 7 tahun) dan PBS 22 (tenor 15 tahun).
  • Cadangan Devisa Indonesia bulan Desember 2018 mengalami kenaikan USD 3.50 milyar dari posisi USD 117.20 milyar di bulan November 2018 menjadi USD 120.70 milyar sehingga selama dua bulan berturut-turut cadangan devisa mengalami kenaikan. Posisi cadangan devisa saat ini setara dengan  pembiayaan 6.70 bulan impor (standar internasional: 3 bulan). Kenaikan cadangan devisa dipengaruhi oleh penerimaan migas, penerbitan global bonds dan penarikan pinjaman luar negeri oleh Pemerintah.
  • Portfolio Reksa Dana Saham akan menjaga posisi netral namun tetap berfokus pada saham - saham blue chip dan mid-cap. Reksa Dana akan berfokus pada beberapa sektor pilihan diantaranya Infrastructure, Finance (Banking), Consumer dan MiscellaneousIndustry. Reksa Dana Obligasi menjaga durasi portfolio di kisaran 5.50 – 6.00 dengan melakukan overweight pada SUN seri benchmark FR78 dan FR75 dengan tenor 10 dan 20 tahun agar sejalan dengan pergerakan yield SUN. Alokasi pada Obligasi Korporasi tenor pendek (3-5 tahun) dengan kupon tinggi tetap dijaga untuk menahan volatilitas pergerakan market dan memaksimalkan Return Portfolio Reksa Dana.



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list