Weekly Perspective - W3 Januari 2020

Trade Deal

  • Amerika Serikat dan China menandatangani perjanjian yang disebut sebagai fase 1 dari perjanjian dagang antara Amerika Serikat  dan China. Meski dianggap sebagai tidak cukup kuat perjanjian ini bisa membuat lega sementara waktu. Sejak 2018, dispute yang terjadi telah menjadikan pasar negara berkembang (emerging market)  bergerak dalam volatilitas yang tinggi. Kami melihat ini adalah hal yang positif terhadap emerging market secara umum, respon awal adalah adanya penguatan mata uang Rupiah terhadap US Dollar yang saat ini berada dalam kisaran 13650-13700. Jika bertahan cukup laama ini adalah hal yang positif secara umum terhadap Indonesia.  Bank Indonesia bisa lebih percaya diri untuk menurunkan kembali suku bunga sehingga memberikan perbaikan cost of fund secara umum dan meningkatkan likuiditas di pasar.

Data perdagangan Indonesia

  • Data perdagangan membaik jika dilihat dari ekpektasi pasar dan realita-nya. Salah satu penyebabnya diperkirakan perbaikan harga CPO sehingga nilai ekspor menguat. Posisi ini juga akan memberikan sumbangsih yang positif terhadap nilai current account deficit yang selama ini menjadi momok bagi investor untuk berinvestasi di Indonesia. Perkembangan positif ini jika bisa dipertahankan, dan kami melihat kemungkinan itu ada, maka investasi portfolio ke pasar Indonesia akan mengalir dari investor-investor global yang butuh dana-nya bekerja

IHSG berpotensi ke level 7200, yes we are bullish

  • Valuasi yang murah, dan kami melihat perbaikan GDP, kebijakan bank sentral yang akomodatif, dan terutama perbaikan pertumbuhan laba dalam dua tahun ke depan akan mendorong kenaikan pasar saham secara umum. Menurut kami, jika daya beli masyarakat dijaga, karena ekonomi Indonesia masih sangat tergantung konsumsi, dan harga CPO bisa bertahan di level saaat ini kemungkinan perbaikan ekonomi itu sangat mungkin terjadi. Bukan hanya itu, sudah terlihat tanda-tanda perbaikan investasi selain karena base yang rendah sepanjang 2019, juga terrlihat dari data ,penjualan lahan industry. Kami memperkirakan sangat mungkin bagi IHSG menguat ke level kembali ke level 7,200 dimana ini adalah ‘hanya’ level average-nya secara price to book value. 

SUN 10 tahun berpotensi ke level 6.3%, still upside 

  • Yield Surat Utang Negara (SUN) dengan tenor 10 tahun mulai bergerak naik ke level 6.8-6.9 % di awal bulan Januari ini. Pergerakan ini sejalan dengan yield pasar obligasi ini menurut kami adalah dorongan dari penguatan nilai tukar rupiah pasaca perjanjian perdagangan Amerika Serikat dan China. Namun potensi katalis positif yaitu potensi penurunan kembali suku bunga Bank Indonesia masih ada hingga tahun 2020 dan kemudian akan bergerak flat untuk waktu yang lama. Kami melihat potensi untuk Reksdana pendapatan teteap masih akan  memeberikan hasil yang baik di tahun 2020 ini. Kami memperkirakan SUN 10 tahun akan berada di level 6.2-6.3% untuk akhir tahun 2020. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 2 Desember foreign holding relatof stabil dan tercatat di level Rp1,068.8tn (38.6% dari total).

Stay invested

  • Kami menyarakan investor untuk stay invested pada portfolio saham (dan jika memungkinkan menaikkan posisi-nya) dan obligasi. Karena kami melihat 2020 adalah tahun yang lebih baik daripada  2019, terutama di pasar saham, kami menyarakan investor mengalokasikan level optimum di anatar kedua asset ini. Kami melihat suku bunga yang rendah akan memberikan money market return yang lebih rendah di tahun ini. untuk Portfolio Reksa Dana Saham, kami mengalokasikan portfolio di level 93-95% untuk dan memaksimalkan return kami melihat potensi menguatnya indeks untuk jangka pendek ini, maupun jangka menengah sampai akhir tahun.  Reksa Dana Obligasi berfokus pada SUN seri benchmark tenor 10 dan 15 tahun serta menjaga durasi portfolio di level 7.00- 7.50. Masih terdapat alokasi untuk Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list