Weekly Perspective - W3 February 2019

Trump deklarasikan dekrit darurat nasional untuk pembangunan tembok

  • Pada hari Jumat 15 Februari 2019 Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandatangani rencana anggaran pengeluaran untuk keamanan dan perbatasan yang di dalamnya termasuk dekrit yang menyatakan keadaan darurat sehingga Trump tetap bisa mencairkan anggaran untuk membangun tembok perbatasan AS dan Meksiko sebesar USD 5.70 milyar tanpa persetujuan dari kongres. Pihak Partai Demokrat sebagai mayoritas di kongres memperingatkan Trump bahwa deklarasi darurat Trump selain akan mendapatkan penolakan dari kongres, juga akan mendapatkan penolakan di pengadilan. Deklarasi darurat ini berpotensi meningkatkan kembali rivalitas Presiden dan kongres serta akan merusak hubungan diplomatik antara AS dan Meksiko.

Neraca perdagangan Januari 2019 kembali mengalami defisit

  • Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia di bulan Januari 2019 kembali mengalami defisit sebesar USD 1.16 milyar (konsensus: USD 920 juta) yang merupakan defisit tertinggi untuk periode Januari sejak tahun 2014. Faktor yang menyebabkan defisitnya neraca perdagangan diantaranya turunnya harga komoditas di pasar internasional seperti CPO dan karet sehingga meskipun secara persentase ekspor mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya, namun secara nilai mengalami penurunan karena turunnya harga komoditas. Di Januari 2019 total ekspor Indonesia sebesar USD 13.87 milyar turun 4.20% dibandingkan bulan sebelumnya (Des 2018: USD 14.33 milyar), adapun impor tercatat sebesar USD 15.03 milyar di Januari 2019 turun 2.25% dibandingkan bulan sebelumnya (Des 2018: USD 13.86 milyar).

Melemahnya nilai tukar Rupiah memberikan dampak negatif di pasar saham dan obligasi

  • Selama sepekan terakhir periode (11 – 15 Februari 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan yang cukup signifikan sebesar -2.03% ditutup di level 6,389.08 setelah mengalami kenaikan yang signifikan dari awal bulan Januari 2019. Penurunan IHSG diikuti oleh investor asing yang membukukan net sell selama week to date sebesar -3.20 triliun namun secara year to date masih membukukan net buy sebesar Rp 9.20 triliun. Hampir seluruh sektor mengalami penurunan, namun ada dua sektor yang masih mencatatkan kinerja positif yaitu sektor Infrastructure +0.02% dan Trade Services +0.01%. Adapun sektor yang mengalami penurunan terbesar yaitu sektor Miscellaneous Industry  -5.90%, diikuti oleh Property -4.64%, Mining -3.06% dan Agriculture -2.71%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami koreksi seperti di pasar saham sebesar -0.25% yang dipengaruhi oleh aksi profit taking investor setelah mengalami kenaikan selama dua minggu berturut-turut serta rilis data neraca perdagangan Indonesia Januari 2019 yang masih defisit. Hal ini juga sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami kenaikan dari level yield 7.90% menjadi 8.00%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 15 Februari 2019 investor asing membukukan net buy secara year to date sebesar Rp 32.66 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 925.86 triliun. Kami melihat pergerakan pasar obligasi di bulan Februari 2019 masih akan positif didorong oleh membaiknya situasi ekonomi global seperti pembicaraan perundingan perang dagang antara AS dan China yang cukup positif namun pelaku pasar juga mengantisipasi data-data ekonomi Indonesia terutama inflasi dan perbaikan data current account deficit di tahun 2019.
  • Portfolio Reksa Dana Saham telah melakukan profit taking di level IHSG saat ini dan akan kembali melakukan akumulasi pembelian saham-saham blue-chip dan mid-cap yang telah mengalami koreksi dengan beberapa sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, Infrastructure dan Miscellaneous Industry. Reksa Dana Obligasi telah melakukan profit taking SUN benchmark seri panjang dan akan kembali melakukan akumulasi pada SUN benchmark seri panjang secara bertahap serta durasi portfolio tetap dipertahankan di level 6.00 – 6.50. Alokasi pada Obligasi Korporasi tenor pendek (3-5 tahun) dengan kupon tinggi tetap dijaga untuk menahan volatilitas pergerakan market dan memaksimalkan Return Portfolio Reksa Dana.



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list