Weekly Perspective - W3 February 2018

FOMC Minutes : Further isn’t Faster in 2018

  • Pelemahan kembali terjadi pada bursa saham AS setelah The Fed merilis FOMC minutes meeting yang menunjukkan ekspektasi akan pertumbuhan ekonomi AS di atas estimasi awal, yang dapat memicu kenaikan inflasi. Hal ini masih mendorong spekulasi pasar akan ekspektasi kenaikan bunga The Fed dari 3 kali kenaikan atau 4 kali kenaikan selama tahun 2018 ini, dengan target laju inflasi pada level 2%. 
  • Dollar index langsung mengalami penguatan sebesar 0,97% secara month to date (mtd) per 21 Febr 2018, seiring kenaikan yield US Treasury ke level 2,95%. Penguatan Dollar index ini memberikan pressure pada pergerakan mata uang emerging market. Pelaku pasar berspekulasi akan kenaikan yield US Treasury dapat menyentuh level 3%. 
  • Ditengah spekulasi pasar ini, kami terus bertahan dengan ekspektasi kenaikan bunga The Fed sebanyak 3x sepanjang 2018. Dimana level kenaikan bunga diestimasi terjadi secara tidak agresif untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi.

RiskoPasar Global MendorongPelemahanPasarDomestik

  • Kenaikan yield US Treasury dan penguatan Dollar Index, mendorong pelemahan mata uang Rupiah terhadap USD. Secara MTD hingga 21 Februari 2018, Rupiah bergerak melemah sebesar -1,7% ke level Rp 13.658 / USD. Selain Rupiah, mata uang India Rupee juga turut melemah -1,87% mtd.
  • Surat Utang Negara (SUN) yang pada 1-2 minggu sebelumnya cukup bertahan level koreksinya, selama pergerakan 19-21 Febr 2018 ini terus mengalami penurunan harga sebesar -1,5 hingga -2% khususnya pada tenor panjang (15 dan 20 tahun). Yield SUN mengalami kenaikan dari level 6,4% menjadi 6,6% untuk tenor 10 tahun.
  • Pada pasar saham, IHSG masih bertahan dengan kenaikan 0,57% secara mtd hingga 21 Februari 2018, bila dibandingkan Dow Jones -5,1%, Euro Stoxx  -4,9%, Nikkei -4,8%, Hang Seng -4,4%, dan Nifty India -5,7%. Investor asing masih mencatatkan net sell sebesarRp 9,2 Tn.
  • Secara keseluruhan kami melihat pasar modal domestic perlu terus bersiap diri dengan volatilitas atau risiko pasar global ini.


What’s new on market

  • Lower trade balance turun menambah tekanan pada Rupiah. Defisit neraca perdagangan bulan Januari 2018 mencapai USD 676,9 juta, berbeda jauh dibandingkan estimasi konsensus surplus sebesar USD 280 juta. Impor mengalami pertumbuhan yang signifikan sebesar 26,4% yoy, dibandingkan ekspor yang tumbuh melambat sebesar +7,9% yoy, moderating setelah mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi sebelumnya(high base effect). Tekanan pada mata uang perlu terus diperhatikan selama beberapa bulan mendatang, selain dari tekanan capital outflow juga dari risiko melebarnya Current Account Deficit (CAD).
  • Strong Start. Dari sudut fiskal, deficit anggaran belanja negara per-Jan 2018 menunjukkan penurunan sebesar Rp 37 Tn, dibandingkan Jan 2017 sebesarRp 45 Tn. Penurunan deficit ini didorong peningkatan pendapatan sebesar 14% yoy dibandingkan pengeluaran +3,9% yoy. Kenaikan pendapatan ini didorong pertumbuhan pendapatan pajak sebesar 11,7% yoy menjadi Rp 78,9 Tn dan pertumbuhan pendapatan non   pajak sebesar 33% menjadi Rp 18,9 Tn. Pemulihan ekonomi domestik dan kenaikan harga minyak dunia memberikan dampak positif pada pendapatan negara. Pada sisi pengeluaran, Pemerintah mempercepat realisasi social spending yang menunjukkan pertumbuhan 122% yoy dan penyaluran dana desa   sebesarRp 400 miliar. Hal ini ditujukan untuk mendorong pemulihan konsumsi domestik. 
  • Bloomberg akan memasukkan obligasi Pemerintah Rupiah dalam indeks Bloomberg Barclay Global Aggregate, yang merupakan flagship global aggregate index, efektif per 1 Juni 2018. Masuknya series SUN dalam indeks internasional ini berpotensi mendorong inflow yang diperkirakan sebesar USD 5 - 7,5 miliar. Hal ini setidaknya dapat membantu menahan laju koreksi harga obligasi, ditengah ketidak pastian pasar global.



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list