Weekly Perspective - W3 Desember 2018

Wait and See Menantikan Arah Trade War di tahun 2019

  • Setelah terjadinya gencatan senjata antara Amerika dan China terkait dengan perang dagang selama sampai dengan akhir Maret 2019, hal penting yang dicapai diantaranya Amerika menunda pengenaan tarif baru 25% untuk barang-barang impor dari China dari sebelumnya 10% dan China yang akan kembali membeli produk pertanian Amerika serta berkomitmen untuk mengurangi defisit perdagangan terutama dari sektor pertanian dan manufaktur dengan Amerika. Pelaku pasar global maupun domestik menantikan arah pembicaraan kedua negara tersebut selanjutnya terutama yang berkaitan dengan hak atas kekayaan intelektual serta hambatan non tarif kedepannya.
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan terakhir mengalami kenaikan +0.71% ke level 6,169.84 melanjutkan kenaikan pada minggu sebelumnya. Meskipun IHSG mengalami kenaikan namun investor asing membukukan net sell sebesar Rp -2.30 triliun selama week to date. Hampir seluruh sektor mengalami kenaikan dimana sektor yang mengalami kenaikan terbesar diantaranya Miscellaneous Industry +2.04%, diikuti oleh Agriculture +2.00%, Mining +1.53% dan Infrastructure +1.11%. Adapun sektor yang mengalami penurunan yaitu Basic Industry sebesar -0.09% dan Trade Services -0.02%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik mengalami rebound dimana harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) mengalami kenaikan tipis +0.09% sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang bergerak di kisaran 8.10 – 8.15% setelah di minggu sebelumnya mengalami penurunan dampak dari inverted yield curve di Amerika. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 14 Desember 2018 investor asing membukukan net sell sebesar Rp 8 triliun dari posisi Rp 900.20 triliun di akhir November 2018  ke posisi Rp 892.20 triiun yang didominasi oleh penjualan SUN seri benchmark tenor seri menengah dan panjang. Nilai tukar Rupiah selama sepekan terakhir bergerak flat di kisaran Rp 14,450 – Rp 14,520 / USD.
  • Data Trade Balance di bulan November 2018 kembali mengalami defisit sebesar USD -2.05 milyar yang merupakan defisit perdagangan terbesar sejak bulan Juli 2013 (Oktober 2018: USD -1.80 milyar). Defisit Neraca perdagangan bersumber dari sektor migas sebesar USD 1.50 milyar dan non migas USD 505 juta. Secara kumulatif neraca perdagangan periode Januari – November 2018 defisit USD -7.25 milyar.  
  • FOMC Meeting tanggal 20 Desember 2018 mengindikasikan bahwa The Fed akan kembali menaikkan Fed Fund Rate (FFR) sebesar 25 Bps dari posisi 2.25% menjadi 2.50% sehingga sepanjang tahun 2018 The Fed sudah menaikkan FFR sebanyak 4x. Kami melihat di tahun 2019 The Fed masih akan kembali menaikkan tingkat suku bunga namun pelaku pasar wait and see terhadap arah kebijakan selanjutnya apakah masih akan hawkish (agresif) maupun dovish (moderat) tergantung bagaimana tingkat pertumbuhan US - Non Farm Payroll dan inflasi kedepannya. Sedangkan untuk Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) tanggal 21 Desember 2018 kami melihat BI masih akan mempertahankan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI—7DRR) di level 6.00% setelah terlebih dahulu menaikkan 25 Bps dari 5.75% ke 6.00% pada RDGBI November 2018.
  • Portfolio Reksa Dana Saham akan membeli saham-saham blue chip yang berpotensi akan mengalami window dressing di akhir tahun 2018. Reksa Dana akan berfokus pada beberapa sektor pilihan diantaranya Infrastructure, Trade (retailer) , dan Consumer. Reksa Dana Obligasi menjaga durasi portfolio di kisaran 5.00 – 5.50 dengan melakukan overweight pada SUN seri benchmark FR78 dengan tenor 10 tahun agar sejalan dengan pergerakan yield SUN sampai dengan akhir tahun 2018. Alokasi pada Obligasi Korporasi tenor pendek (3-5 tahun) dengan kupon tinggi tetap dijaga untuk menahan volatilitas pergerakan market dan memaksimalkan Return Portfolio.


DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list