Weekly Perspective - W3 Desember 2017

Market Review : IHSG MencapaiNew Record High

  • Memasuki minggu-minggu terakhir di penghujung akhir tahun 2017 ini, IHSG terus mencatatkan kenaikan tertingginya menembus level 6.221,0 pada akhir perdagangan sebelum libur Panjang Natal (22/12/2017). Selama 1 minggu terakhir, IHSG mencatatkan kenaikan sebesar 1,66%, didorong kenaikan harga saham di sector Consumer Goods +3,9%, Banking +2,4% dan Mining 2,2%. Adapun sektor yang mengalami penurunan yakni sector Agri -2,4%, Basic Industry -1,6% dan Aneka Industri -1,3%. Investor asing mulai menunjukkan net buy sebesar Rp 537 miliar, walaupun secara month to date (mtd) akumulasi perdagangan sejak awal Des 2017 masih mencatatkan net sell sebesar Rp 4,29 Triliun.
  • Kenaikan harga saham dan obligasi selama bulan Desember 2017 ini didorong kondisi pasar global yang positif dengan ekspektasi reformasi pajak AS dan juga didorong kenaikan peringkat utang Indonesia dari BBB- menjadi BBB oleh Lembaga pemeringkat Fitch Ratings. Kenaikan peringkat dari Fitch tersebut sejalan dengan keputusan sebelumnya yang menaikkan prospek utang Indonesia dari stabil menjadi positif pada Desember 2016. Faktor yang mempengaruhi kenaikan peringkat tersebut diantaranya meningkatnya stabilitas atau ketahanan makroekonomi Indonesia, kebijakan nilai tukar yang meningkatkan cadangan devisadan menahan gejolak aliran modal asing keluar dari Indonesia, serta kebijakan makro prudensial yang menahan lonjakan utang luar negeri korporasi.
  • Selama bulan Desember 2017 ini, harga obligasi mengalami kenaikan sebesar 0,54 – 1,08%. Seiring kenaikan harga obligasi, yield SUN terus menunjukkan penurunan dari level 6,49% (15/12/2017) berhasil menembus level 6,36% (22/12/2017) untuk tenor 10 tahun. Selain kenaikan rating Indonesia, kenaikan harga SUN juga didorong tingginya kebutuhan investor institusi akan SUN dalam portofolio investasinya. Adapun yield US Treasury tenor 10 tahun masih relatif flat pada kisaran 2,35 – 2,47%, dimana level yield ini sudah mem-price in kenaikan Fed Fund rate selama tahun 2017 ini. Mata uang Rupiah bergerak terbatas pada level Rp 13.561 – 13.579/USD.

Market Expectation

  • Kenaikan rating Indonesia oleh Fitch memberikan katalist positif pada pasar modal Indonesia, di tengah meningkatnya risiko pasar global dari potensi kenaikan bunga The Fed dan normalisasi moneter yang akan dilakukan Bank Sentral di Negara lainnya. Dengan terus terjaganya stabilitas makro ekonomi Indonesia, diprediksi Moody’s akan melakukan upgrade rating menjadi Baa2 pada periode review berikutnya di bulan Februari 2018. Dengan potensi kenaikan rating ini maka akan mendorong penurunan cost of fund berinvestasi di Indonesia, yang akan terlihat pada penurunan bunga obligasi korporasi. 
  • Selanjutnya pada level yield SUN tenor 10 tahun sudah menyentuh level yang cukup rendah yakni 6,35% dan dengan potensi kenaikan inflasi di tahun 2018 dan kenaikan bunga (policy rate) sebagai normalisasi kebijakan bunga setelah melewati masa krisis menuju momentum pemulihan ekonomi global yang lebih stabil di tahun 2018, maka potensi kenaikan harga obligasi menjadi lebih terbatas. Dengan kata lain, keuntungan investasi obligasi di tahun 2018 akan lebih didominasi dari pendapatan kupon obligasi, khususnya bila dibandingkan kenaikan capital gain yang berhasil dicapai selama tahun 2016 dan 2017. 
  • Adapun pada pasar saham, potensi kenaikan harga saham lebih terbuka seiring ekspektasi pemulihan pertumbuhan ekonomi global. Adapun ekonomi domestik juga diprediksi mengalami pemulihan, dengan pertumbuhan sebesar 5,1 – 5,2% yoy di tahun 2018. Pemulihan pertumbuhan ekonomi menjadi hal positif menggerakkan pasar saham, namun risiko pasar global dan gejolak politik menjelang Pilkada dan Pemilihan Presiden di tahun 2019 menjadi hal yang perlu kita perhitungkan dalam pengelolaan portofolio investasi. 




DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list