Weekly Perspective - W3 August 2019

Inverted yield curve menjadi indikator terjadinya resesi ekonomi di masa mendatang

  • Risiko resesi ekonomi di Amerika Serikat (AS) semakin nyata terlihat dari Yield obligasi AS tenor dua tahun tercatat lebih tinggi dibanding yield sepuluh tahun pertama kali sejak tahun 2007. Inverted yield curve merupakan suatu keadaan di mana imbal hasil obligasi tenor pendek lebih tinggi daripada tenor panjang. Dalam situasi normal imbal hasil obligasi tenor pendek seharusnya lebih rendah dibandingkan tenor panjang. Ancaman resesi ekonomi AS meningkat setelah ekonomi Jerman dan Prancis berbalik arah dan mengalami perlambatan ekonomi pada Q2 2019 disertai pertumbuhan output industri China yang turun ke level terendah selama lebih dari 17 tahun pada Juli 2019. 
  • Ancaman resesi AS terhadap Indonesia setidaknya bakal berdampak pada dua hal. Pertama, pergerakan rupiah sangat dipengaruhi faktor fundamental dan faktor sentimen dimana belakangan ini faktor sentimen lebih mendominasi, terutama perang dagang AS-China yang belum berakhir. Kedua defisit transaksi berjalan alias current account deficit (CAD) bakal berdampak terhadap penurunan harga minyak dunia. 

Defisit neraca perdagangan Juli 2019 sebesar USD -63.50 juta

  • Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan hasil ekspor dan impor di Juli 2019 dimana nilai ekspor mencapai USD 15.45 miliar dan nilai impor mencapai USD 15.51 miliar, sehingga secara bulanan neraca dagang mengalami defisit USD 63.50 Juta. Defisit neraca perdagangan ini berasal dari migas yang mengalami defisit USD 152.40 Juta sementara non migas mengalami surplus USD 78.90 juta sehingga sepanjang Januari - Juli 2019, neraca perdagangan mengalami defisit sebesar USD 1.90 miliar.

Market wait and see menunggu kepastian penurunan suku bunga

  • Selama sepekan terakhir periode (12 – 16 Agustus 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan tipis +0.07% setelah mengalami penurunan di minggu sebelumnya dan ditutup di level 6,286.66. Pergerakan IHSG selama sepekan terakhir dipengaruhi sentimen global diantaranya rencana The Fed untuk kembali menurunkan Fed Fund Rate pada FOMC Meeting di bulan September 2019 sebagai antisipasi terhadap perlambatan ekonomi akibat perang dagang dengan China yang masih berlanjut hingga saat ini. Pergerakan nilai tukar Rupiah selama sepekan terakhir juga relatif stabil di level Rp 14,240 /USD dari level sebelumnya di Rp 14,250 /USD. Meskipun IHSG mengalami kenaikan tipis namun investor asing masih membukukan net sell sepanjang week to date sebesar Rp  -2.60 triliun dan Rp -6.10 triliun secara year to date. Sektor yang mengalami kenaikan diantaranya Property Real Estate +3.95% diikuti oleh Consumer +2.19%, Infrastructure +0.86% dan Manufacturing +0.83%. Adapun sektor yang mengalami penurunan terbesar diantaranya Miscellaneous Industry -3.61% diikuti oleh Finance -1.20%, Mining  -1.02% dan Trade Services –1.00%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami kenaikan +0.40% selama satu minggu terakhir dipengaruhi ekspektasi pelaku pasar bahwa The Fed kemungkinan besar akan kembali menurunkan Fed Fund Rate sebesar 25 bps pada FOMC Meeting pasca China melakukan kebijakan devaluasi Yuan untuk meningkatkan level kompetitif ekspor dibandingkan negara lainnya. Kenaikan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 7.35% menjadi 7.30%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 15  Agustus 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesarRp +6.00 triliun dan secara year to date membukukan net buy sebesar Rp +119.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 1,012.20 triliun.
  • Portfolio Reksa Dana Saham melakukanakumulasi pembelian pada saham-saham khususnya blue-chip dan mid-cap yang sebelumnya mengalami koreksi dengan sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, Infrastructure dan Mining serta menjaga alokasi portfolio di level 90 – 92% untuk meminimalkan volatilitas dan memaksimalkan Return Portfolio. Reksa Dana Obligasi kembali melakukan akumulasi pembelian SUN seri benchmark tenor 15 dan 20 tahun serta menjaga durasi portfolio di level 7.00 – 7.50. Alokasi Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.




DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list