Weekly Perspective – W3 Apr 2020

Lembaga rating S&P merevisi outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif

  • Lembaga pemeringkat global Standard and Poor’s (S&P) mempertahankan Sovereign Credit Rating atau peringkat utang Indonesia tetap BBB. Akan tetapi, S&P merevisi outlook Indonesia menjadi negatif. Outlook negatif ini diyakini bukan cerminan dari permasalahan ekonomi yang bersifat fundamental, tetapi lebih dipicu oleh kekhawatiran S&P terhadap risiko pemburukan kondisi eksternal dan fiskal akibat pandemi COVID-19 yang bersifat temporer. Selain itu S&Pmemprediksi dalam beberapa waktu ke depan Indonesia menghadapi kenaikan risiko eksternal dan fiskal akibat meningkatnya kewajiban luar negeri dan beban utang pemerintah untuk membiayai penanganan pandemi virus COVID-19.

Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di level 4.50%

  • Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDGBI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate di level 4.50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3.75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5.25%. Keputusan ini mempertimbangkan perlunya menjaga stabilitas eksternal di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang saat ini masih relatif tinggi.

BI- 7 Day Reverse Repo Rate Apr 19 – Mar 20

BI- 7 Day Reverse Repo Rate

Sumber: Bloomberg

IHSG dan Yield Obligasi masih mengalami koreksi yang cukup dalam akibat COVID-19

  • Selama sepekan terakhir periode (13 – 17 April 2020) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar -0.31% melanjutkan penurunan di minggu sebelumnya dan ditutup di level 4,634.82 sehingga secaraYear to Date IHSG mengalami penurunan sebesar -26.43%. Penurunan IHSG yang berlangsung sangat cepat dipengaruhi oleh meluasnya dampak virus Corona di Indonesia dimana 6,760 orang telah terinfeksi dan merupakan yang tertinggi di Asia tenggara sehingga memberikan kepanikan pada investor terutama yang berinvestasi di emerging market. Penurunan IHSG yang cukup signifikan membuat level valuasi IHSG secara PE (Price Earning Ratio) saat in sudah di level -2.00 standar deviasi dan secara PBV (Price to Book Value) sudah menyentuh level 1.30x dan hampir mencapai level valuasi ketika terjadi krisis global di tahun 2008 sebesar 1.25x. Mayoritas saham bluechip di IHSG saat ini juga cukupatraktif dengan PBV di bawah 1.00 akibat penurunan ini. Penurunan IHSG serta pasar Obligasi domestik secara signifikan juga membuat nilai tukar Rupiah melemah secara signifikan mendekati tahun 1998 ke level Rp 15,800/USD setelah sempat mencapai level tertinggi pada Januari 2020 di  Rp 13,440/USD dampak dari capital outflow yang dilakukan oleh investor asing dari emerging market. Penurunan  IHSG sejalan dengan investor asing yang membukukan net sell sepanjangWeek to Date sebesar Rp -2.30 trilliun dan Year to Date Rp -19.80 trilliun. Sektor yang mengalami kenaikan terbesar diantaranya yaitu Infrastructure +4.88% diikuti oleh Mining +1.36%, Basic Industry +0.66%, dan Trade Services +0.64%. Sedangkan yang mengalami penurunan yaitu Miscellaneous Industries -4.30% diikuti Property -2.70% dan Finance -2.40%.
  • Sedangkan untuk pasar Obligasi domestic, harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami kenaikan sebesar 0.55% selama satu minggu terakhir. Kenaikan ini dipengaruhi oleh sentimen positif perkembangan vaksin COVID-19 yang terus dilakukan uji coba agar bisa secepatnya didistribusikan ke seluruh dunia tanpa menunggu 12 – 18 bulan kedepan serta valuasi SUN maupun SBSN yang cukup atraktif sehingga investor kembali melakukan akumulasi meskipun secara nilai transaksi masih rendah. Kenaikan harga Obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 7.98% menjadi 7.85%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 16 April 2020 investor asing masih membukukan net sell secara month to date sebesar Rp -5.00 trilliun (Week to date: net buy  Rp 1 triliun) dan secaraYear to Date membukukan net sell sebesar Rp -140.00 trilliun di pasar Obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2019 sebesar  Rp 1,062.20 trilliun menjadi Rp 922.20 trilliun.
  • Portfolio Reksa Dana Saham kembali melakukanakumulasi pembelian pada saham blue-chip yang sudah berada dalam valuasi yang murah dan berpotensi memberikan pertumbuhan laba yang baik kedepannya. Sektor perbankan masih menjadi salah satu sektor pilihan, di samping itu ada sektor Consumer dan Miscellaneous Industries. Alokasi portfolio dijaga di level 81-86% sebagai antisipasi volatilitas market yang masih akan berlangsung dampak dari penyebaran COVID-19 yang masih cukup masif. Reksa Dana Obligasi berfokus pada SUN seri benchmark tenor 5 - 10 tahun serta menjaga durasi portfolio di level 5.50- 6.00. Alokasi portfolio untuk Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.

Download PDF



Back to list