Weekly Perspective - W2 September 2019

PM Inggris kembali mengalami kekalahan dalam voting di parlemen terkait isu Brexit

  • Pemerintahan Inggris dibawah pimpinan Perdana Menteri (PM) Boris Johnson kalah dalam pemungutan suara di parlemen terkait usulan pengunduran diri negara itu dari Uni Eropa (Brexit) tanpa kesepakatan. Dalam voting yang digelar Kamis 5 September 2019 anggota parlemen yang menolak usulan Brexit mencapai 328 orang, sedangkan yang setuju sebanyak 301 orang. Selanjutnya Johnson mengusulkan untuk mengadakan pemilihan umum sela tanggal 17-18 Oktober 2019 dengan harapan kesepakatan terkait dengan Brexit dapat tercapai. Apabila sampai dengan tanggal 31 Oktober 2019 tidak tercapai kesepakatan dengan Uni Eropa, maka Inggris akan meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan. Brexit tanpa kesepakatan akan menyebabkan terjadinya eksodus perusahaan multinasional keluar negeri sehingga akan membuat perekonomian Inggris mengalami penurunan yang signifikan.
  • Data US-Non Farm Payroll (USNFP) yang dirilis pada bulan Agustus 2019 menunjukan tingkat pertumbuhan sebesar 130 ribu (estimasi konsensus: 160 ribu) dan unemployment rate yang stabil di level 3.70%. Pertumbuhan data USNFP yang lebih rendah daripada ekspektasi semakin memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan kembali memangkas Fed Fund Rate sebesar 25 bps dari 2.25% menjadi 2.00% pada FOMC Meeting yang berlangsung tanggal 19 September 2019 karena ketidakpastian perang dagang dengan China dan pertumbuhan ekonomi global yang melambat.

Cadangan Devisa Indonesia bulan Agustus 19 mencapai USD 126.40 miliar

  • Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2019 tercatat sebesar USD 126.40 miliar. Posisi ini meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir Juli 2019 yang sebesar USD 125.90 miliar. Peningkatan cadangan devisa pada Agustus 2019 dipengaruhi oleh penerimaan devisa migas dan penerimaan valas lainnya. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7.40 bulan impor atau 7.10 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Pelemahan nilai tukar Rupiah mendorong pelemahan pasar saham dan obligasi

  • Selama sepekan terakhir periode (02 – 06 September 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar -0.31% setelah mengalami kenaikan pada dua minggu sebelumnya dan ditutup di level 6,308.09. Pergerakan IHSG selama sepekan terakhir dipengaruhi sentimen global terkait perang dagang dimana China mengenakan tarif balasan berupa tambahan impor untuk barang AS senilai USD 75 miliar sebagai respon terhadap AS yang sebelumnya kembali mengenakan tarif tambahan untuk produk China sebesar USD 300 miliar serta perkembangan isu Brexit yang belum mencapai kesepakatan tentang bagaimana proses Inggris keluar dari Uni Eropa. Pergerakan nilai tukar Rupiah selama sepekan terakhir juga melemah tipis di level Rp 14,180 /USD dari level sebelumnya di Rp 14,195 /USD. Penurunan IHSG sejalan dengan investor asing yang membukukan net sell sepanjang week to date sebesar Rp -1.80 triliun dan Rp -9.00 triliun secara year to date. Sektor yang mengalami kenaikan terbesar diantaranya Mining +4.95% diikuti oleh Basic Industry +2.79%, Trade Services +1.95% dan Miscellaneous Industry +0.52%. Sedangkan sektor yang mengalami penurunan terbesar diantaranya Infrastructure -3.30% diikuti oleh Property Real Estate -2.47%, Consumer Goods -1.67% dan Finance  -0.51%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) mengalami kenaikan +0.25% selama satu minggu terakhir dipengaruhi oleh data cadangan devisa Agustus 2019 yang mengalami kenaikan. Kenaikan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 7.38% menjadi 7.32%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 05 September 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesarRp +1.00 triliun dan secara year to date membukukan net buy sebesar Rp +123.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 1,016.20 triliun.
  • Portfolio Reksa Dana Saham melakukanakumulasi pembelian pada saham-saham khususnya blue-chip dan mid-cap yang sebelumnya mengalami koreksi dengan sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, Infrastructure dan Miscellaneous Industry serta menjaga alokasi portfolio di level 90 – 92% untuk meminimalkan volatilitas dan memaksimalkan Return Portfolio. Reksa Dana Obligasi berfokus pada SUN seri benchmark tenor 15 dan 20 tahun serta menjaga durasi portfolio di level 7.00 – 7.50. Alokasi Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.


DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list