Weekly Perspective – W2 May 2020

Tingkat pengangguran di Amerika mencapai 14.70% tertinggi sejak era Great Depression

Badan Pusat Statistik Amerika Serikat melaporkan data non-farm payroll bulan April 2020 mencapai minus 20.50 juta, yang artinya warga Amerika Serikat sebanyak angka tersebut kehilangan pekerjaannya. Angka ini merupakan yang terbesar sejak era Great Depression tahun 1930-an silam, setelah pandemi virus Corona membuat ekonomi AS terhenti. Sebelumnya di bulan Februari 2020, jumlah pengangguran hanya mencapai 3.50% yang merupakan unemployment level  terendah dalam lima dekade terakhir, namun hanya dalam tempo dua bulan di April 2020 meningkat hampir 5x lipat ke level 14.70%. Penurunan pada bulan April, menyusul penurunan angka payroll bulan Maret sebesar 870.000, menghapus hampir seluruh lapangan kerja yang dibuka dalam ekspansi ekonomi satu dekade terakhir dan menjelaskan sulitnya lapangan kerja bagi sebagian besar orang Amerika.

US- Non-Farm Payroll May 19 – Apr 20 (In Thousand)

Sumber: US Bureau Statistic 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia Q1 2020 hanya tumbuh 2.97% dibawah rata-rata konsensus

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di Q1 2020 hanya tumbuh sebesar 2.97% jauh dibawah rata-rata konsensus sebesar 4.30 – 4.50%.  Dibandingkan Q4 2019, perekonomian Indonesia juga mengalami kontraksi -2.41%. Penurunan pertumbuhan ekonomi ini disebabkan turunnya sejumlah ekspor Indonesia diantaranya ke China dan Amerika Serikat yang merupakan dua negara tujuan ekspor terbesar Indonesia. Dengan China yang porsinya mencapai 15% dari total ekspor pada Q1 2020 mengalami kontraksi -6.80%,  sementara untuk Amerika Serikat hanya tumbuh tipis sebesar 0.20%. Demikian juga ekspor ke negara lainnya hanya naik tipis 0.50 – 1.00%.

GDP Q1 2020 yang dibawah ekspektasi memberikan dampak negatif pasar saham dan obligasi

  • Selama sepekan terakhir periode (04 – 08 Mei 2020), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar -2.52% dan ditutup di level 4,597.43 sehingga secaraYear-to-Date IHSG mengalami koreksi sebesar -27.01%. Penurunan IHSG dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia (GDP) di Q1 2020 yang tumbuh hanya sebesar 2.97% (lebih rendah dibandingkan ekspektasikonsensus di level 4.30-4.50%). Penurunan IHSG sejalan dengan investor asing yang membukukan net sell sepanjangWeek-to-Date sebesar Rp -1.70 trilliun dan Year-to-Date Rp -25.50 trilliun. Sektor yang mengalami kenaikan hanya sektor Property Real Estate +4.37% diikuti oleh  Mining +3.83% dan Agriculture +0.29%.  Adapun sektor yang mengalami penurunan terbesar selama seminggu terakhir diantaranya Basic Industry -8.82%, Infrastructure -5.18%, Manufacturing -3.82%, Trade Services -2.75% dan Finance -2.28%.

  • Sedangkan untuk pasar Obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami penurunan sejalan dengan pasar saham sebesar -1.05% selama satu minggu terakhir setelah mengalami kenaikan harga selama dua minggu berturut-turut. Penurunan ini dipengaruhi oleh sentimen negatif pertumbuhan GDP Q1 2020 yang jauh dibawah ekspektasi sehingga memberikan kekhawatiran pelaku pasar bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2020 bisa dibawah 2.00%. Sentimennegatif membuat harga Obligasi mengalami penurunan tercermin dari yield SUN 10 tahun naik dari 7.85 ke 8.10% diikuti pelemahan nilai tukar Rupiah ke Rp 14,950/USD dibandingkan penutupan minggu sebelumnya di Rp 14,800/USD. Penurunan harga Obligasi sejalan dengan rata-rata transaksi harian dari Rp 10-12 triliun, masih lebih rendah 40% dari rata-rata transaksi sebelum Maret 2020. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 6 Mei 2020 investor asing masih membukukan net sell sepanjang Mei 2020 sebesar Rp -1.50 triliun dan secaraYear-to-date membukukan net sell sebesar Rp -139.50 trilliun di pasar Obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2019 sebesar Rp 1,062.20 trilliun menjadi Rp 922.70 trilliun.

  • Portfolio Reksa Dana Saham masih tetapdefensif di level 80-85% sembari menunggu pergerakan IHSG kedepannya yang masih memiliki tingkat volatilitas yang cukup tinggi akibat belum meredanyapandemik COVID-19. Tactical trading tetap dilakukan terutama pada sahambluechipyang sudah berada dalam valuasi yang murah dan berpotensi memberikan pertumbuhan return kedepannya terutama di beberapa sektor diantaranya perbankan yang masih menjadi salah satu sektor pilihan karena merupakan sektor dengan bobot terbesar dalam IHSG, serta sektor Consumer, Infrastructure dan Miscellaneous Industries. Reksa Dana Obligasi berinvestasi pada SUN seri benchmark tenor 5-10 tahun serta menjaga durasiportofolio di level 5.50-6.00. Alokasi portfolio untuk Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi tetap dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan return Reksa Dana.


Download PDF



Back to list