Weekly Perspective - W2 May 2019

AS dan China setuju melanjutkan negosiasi di tengah perang dagang yang makin memanas

  • Amerika Serikat (AS) dan China sepakat untuk melanjutkan negosiasi perang dagang di tengah situasi yang memanas akibat keputusan Presiden AS Donald Trump yang menaikkan tarif impor barang dari China dari 10% menjadi 25% untuk nilai perdagangan USD 200 Milyar di tengah proses pembicaraan kedua negara. Hal ini diungkapkan Wakil Perdana Menteri China Liu Hue yang mengatakan bahwa pembicaraan antar kedua negara masih cukup baik dan akan semakin ditingkatkan di sepanjang bulan Mei 2019.  Beberapa hal penting yang menjadi permintaan AS di dalam proses negosiasi seperti hak atas kekayaan intelektual, transfer teknologi, akses kepada keuangan dan manipulasi mata uang terkait kebijakan China yang mendevaluasi mata uangnya. Sedangkan China meminta kepada AS untuk menetapkan target pembelian barang dari China secara rill dan menghapus seluruh tarif ekstra impor sebesar 25% (mengembalikan pada tarif 10%) untuk semua barang China yang akan masuk ke AS. 

Neraca pembayaran Indonesia surplus USD 2.40 Milyar di Q1 2019

  • Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) di Q1 2019 mengalami surplus USD 2.40 Milyar yang dipicu oleh capital inflow masuk ke Indonesia baik di pasar saham maupun obligasi sebesar USD 10.1 Milyar. Surplus yang terjadi di Q1 2019 lebih baik dibandingkan di Q1 2018 yang mengalami defisit USD -3.80 Milyar. Dengan demikian defisit transaksi berjalan mengalami perbaikan dari USD -9.20 Milyar menjadi USD -7.00  Milyar (-2.60% dari GDP). Laporan NPI di Q1 2019 menunjukan adanya surplus perdagangan barang karena aktifitas impor yang melemah namun ada peningkatan pada defisit jasa sehingga peningkatan Current Account Deficit tidak maksimal.
  • Bank Indonesia (BI) merilis data cadangan devisa bulan April 2019 sebesar USD 124.30 Milyar turun tipis dibandingkan bulan Maret 2019 sebesar USD 124.50 Milyar. Posisi cadangan devisa saat ini setara dengan pembiayaan tujuh bulan impor lebih tinggi dibandingkan standar internasional (standar internasional: minimum tiga bulan impor). BI menilai level cadangan devisa saat ini mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan keuangan. 

Sentimen Trade War memberikan dampak negatif Pasar Saham dan Obligasi

  • Selama sepekan terakhir periode (06 – 11 May 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan -1.75% ditutup di level 6,209.11 melanjutkan penurunan di dua minggu sebelumnya. Penurunan IHSG dipengaruhi oleh sentimen negatif perang dagang AS dan China sehingga membuat nilai tukar Rupiah melemah dari level Rp 14,280/USD ke level Rp 14,340/USD. Penurunan IHSG diikuti oleh net sell yang dilakukan oleh investor asing selama week to date sebesar Rp 2.00 triliun yang terdiri dari saham-saham sektor Banking, Infrastructure, Mining dan Miscellaneous Industry. Adapun secara year to date investor asing masih membukukan net buy sebesar Rp 10.80 triliun. Hampir seluruh sektor mengalami penurunan dimana yang mengalami kenaikan hanya sektor Consumer +1.55%. Sedangkan sektor yang mengalami penurunan terbesar yaitu Mining -4.39%, Agriculture -2.87%, Finance -2.86% dan Basic Industry -2.79%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami penurunan sebesar -0.95% didorong oleh melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar. Penurunan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami kenaikan dari level yield 7.90% menjadi 8.05%. Kami melihat pergerakan pasar obligasi di bulan Mei 2019 akan didorong oleh faktor global terutama yang berkaitan dengan perundingan antara Amerika dan China terkait dengan perang dagang yang terancam gagal mencapai kesepakatan, sedangkan dari sisi domestik data inflasi, neraca perdagangan dan perbaikan current account deficit tetap menjadi perhatian dari para pelaku pasar kedepannya. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 8 Mei 2019 investor asing membukukan net sell secara month to date sebesarRp 8.00 triliun dan year to date sebesar Rp 66.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 959.20 triliun.
  • Portfolio Reksa Dana Saham kembali melakukan akumulasi pembelian pada saham-saham khususnya blue-chip dan mid-cap yang mengalami koreksi dengan beberapa sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, Infrastructure dan Miscellaneous Industry serta menjaga alokasi portfolio di level moderat 90 – 93% untuk memaksimalkan Return Portfolio. Reksa Dana Obligasi kembali melakukan akumulasi SUN benchmark seri panjang tenor 10 dan 15 tahun secara bertahap serta durasi portfolio dijaga di level durasi 6.50. Alokasi Obligasi Korporasi tenor pendek (3-5 tahun) dengan kupon tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.




DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list