Weekly Perspective - W2 March 2019

European Central Bank tetap mempertahankan rate suku bunga acuan +/- 0.50%

  • Rapat Dewan Gubernur European Central Bank (ECB) yang berlangsung tanggal 7 Maret 2019 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di level +/- 0.50% dan memperkirakan bahwa tidak akan ada kenaikan suku bunga sampai akhir 2019 untuk memastikan inflasi tetap di angka 2.00%. ECB juga merevisi pertumbuhan ekonomi Eropa di tahun 2019 dari sebelumnya 1.70% menjadi 1.10% serta akan memberikan program stimulus jangka panjang jilid III (Jilid I dimulai 2014) dengan bunga rendah kepada perbankan yang akan dimulai September 2019 sampai dengan Maret 2021. Tujuan pemberian stimulus jangka panjang untuk memudahkan bank memberikan pinjaman kepada konsumen sehingga akan meningkatkan aktifitas perekonomian Uni Eropa kedepannya. Revisi pertumbuhan ekonomi yang disampaikan oleh ECB membuat investor beralih kepada US Dollar sehingga mata uang US Dollar menguat dibandingkan semua mata uang lainnya sehingga memberikan dampak negatif terutama emerging market.
  • Data US-Non Farm Payroll (UNFP) di bulan Februari 2019 hanya tumbuh sebesar 20 ribu (ekspektasi consensus: 180 ribu) yang merupakan pertumbuhan yang terendah sejak bulan September 2017 dan level unemployment rate turun ke 3.80%. The Fed akan terus memantau pertumbuhan UNFP kedepannya serta level inflasi sebagai pertimbangan dalam menentukan kebijakan moneter kedepannya.
  • Defisit perdagangan Amerika Serikat (AS) sepanjang tahun 2018 mencapai USD 621 milyar yang merupakan rekor tertinggi sejak tahun 2008. Peningkatan defisit perdagangan disebabkan adanya perang dagang dengan China dimana AS dan China sama-sama mengenakan bea masuk dengan tarif yang tinggi untuk barang-barang yang diproduksi satu sama lain. Defisit perdagangan terhadap China juga meningkat ke level tertinggi sepanjang masa sebesar USD 419 milyar dan merupakan defisit terbesar dibandingkan negara mitra dagang lainnya.

Cadangan devisa bulan Februari 2019 meningkat menjadi USD 123.30 milyar

  • Bank Indonesia mengumumkan cadangan devisa bulan Februari 2019 sebesar USD 123.30 milyar, mengalami peningkatan sebesar USD 3.20 milyar dari level sebelumnya USD 120.10 milyar di bulan Januari 2019. Posisi cadangan devisa saat ini setara dengan 6.90 bulan impor dan berada diatas standar internasional sebesar 3 bulan impor. Kenaikan cadangan devisa dipengaruhi oleh penerbitan sukuk global oleh Pemerintah sebesar USD 2.00 milyar dan instrumen valas lainnya.

Pelemahan Rupiah memberikan sentimen negatif pada pasar domestik

  • Selama sepekan terakhir periode (04– 08 Maret 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar -1.80% ditutup di level 6,383.06 setelah mengalami kenaikan di minggu sebelumnya dampak dari pelemahan nilai tukar Rupiah. Meskipun IHSG mengalami penurunan, investor asing justru membukukan net buy selama week to date sebesar Rp +1.80 triliun sehingga secara year to date masih membukukan net buy sebesar Rp 10.00 triliun. Seluruh sektor mengalami penurunan dimana yang mengalami penurunan terbesar yaitu Infrastructure -4.63%, diikuti oleh Consumer Goods -2.05%, Property -1.78% dan Finance -1.50%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami penurunan sebesar -0.40% dampak dari melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar le level IDR 14,300/USD. Hal ini juga sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 7.88% menjadi 7.98%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 06 Maret 2019 investor asing membukukan net buy secara year to date sebesar Rp 51.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 944.20 triliun. Kami melihat pergerakan pasar obligasi di bulan Maret 2019 masih akan positif didorong oleh besarnya total bid baikpada lelang SUN dan SBSN di sepanjang tahun 2019.
  • Portfolio Reksa Dana Saham kembali melakukan akumulasi saham-saham blue-chip dan mid-cap yang telah mengalami koreksi dengan beberapa sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, dan Infrastructure. Reksa Dana Obligasi kembali melakukan akumulasi SUN benchmark seri panjang tenor 15 dan 20 tahun secara bertahap serta durasi portfolio dinaikkan ke level 6.50 – 7.00. Alokasi Obligasi Korporasi tenor pendek (3-5 tahun) dengan kupon tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.




DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list