Weekly Perspective - W2 February 2020

Standard & Poor menurunkan proyeksi ekonomi China dari 5.70% menjadi 5.00%

  • Lembaga rating Standard and Poors (S&P) menurunkan proyeksi pertumbuhan China pada tahun ini dari sebelumnya 5.70% menjadi 5.00%. Wabah virus corona diperkirakan bakal membuat perekonomian nomor dua terbesar ini melambat dari posisi tahun lalu sebesar 6.10%. S&P memperkirakan wabah virus corona bakal memukul perekonomian China pada Q1 2020. Namun, S&P memperkirakan ekonomi China akan kembali pulih tahun seiring berakhirnya wabah tersebut dan estimasi pertumbuhan ekonomi China akan kembali meningkat sebesar 6.40%.

Cadangan Devisa Januari 2020 mengalami Peningkatan sebesar USD 131.70 Miliar

  • Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2020 sebesar USD 131.70 Miliar. Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir Desember 2019 sebesar USD 129.20 Miliar.  Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7.80 bulan impor atau 7.50 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi cadangan devisa tersebut juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Peningkatan cadangan devisa pada Januari 2020 didorong oleh penerbitan global bond pemerintah, penerimaan devisa migas, dan penerimaan valas lainnya.
  • Bank Indonesia (BI) mencatat Neraca Pembayaran Indonesia Q4 2019 surplus sebesar USD 4.30 Miliar. Realisasi ini tercatat jauh lebih baik ketimbang kuartal sebelumnya yang defisit USD 46 Juta. surplus neraca pembayaran ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial yang meningkat, serta defisit transaksi berjalan yang tetap terkendali. Secara keseluruhan, neraca pembayaran sepanjang 2019 surplus USD 4.70 Miliar lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang defisit USD 7.10 Miliar. Adapun defisit neraca transaksi berjalan sebesar USD 30.40 Miliar setara -2.72% dari PDB atau membaik dari tahun sebelumnya yaitu -2.94%.

Valuasi IHSG yang atraktif membuat investor kembali melakukan akumulasi

  • Selama sepekan terakhir periode (03 – 07 Februari 2020) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan sebesar +1.00% setelah memgalami penurunan selama dua minggu berturut-turut dan ditutup di level 5,999.60. Kenaikan IHSG selama sepekan terakhir dipengaruhi oleh valuasi IHSG yang cukup atraktif sehingga investor asing maupun domestik kembali melakukan akumulasi pembelian. Sentimen positif dari global dan domestik membuat nilai tukar Rupiah menguat ke level Rp 13,675 /USD dari level sebelumnya di Rp 13,780 /USD. Kenaikan IHSG sejalan dengan investor asing yang membukukan net buy sepanjang week to date sebesar Rp 160 miliar. Hampir seluruh sektor mengalami kenaikan dimana sektor yang mengalami kenaikan terbesar yaitu Agriculture +2.78%, diikuti oleh Finance +2.39%, Mining +1.65%, dan Property Real Estate +0.87%. Sedangkan sektor yang mengalami penurunan yaitu Basic Industry  –0.65%, Trade Services -0.41% dan Manufacturing -0.11%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) mengalami kenaikan sebesar +0.55% selama satu minggu terakhir dipengaruhi oleh data makroekonomi yang cukup baik serta sentimen positif pasca upgrade rating peringkat utang Indonesia yang diberikan Japan Credit Rating Agency dari BBB menjadi BBB+. Kenaikan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 6.70% menjadi 6.58%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 06 Februari 2020 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesar Rp +2.00 triliun dan secara year to date membukukan net buy sebesar Rp +20.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2019 sebesar Rp 1,061.20 triliun menjadi 1,081.20 triliun.
  • Portfolio Reksa Dana Saham kembali melakukanakumulasi pembelian pada saham-saham blue-chip dan mid-cap yang sudah berada dalam valuasi yang murah dan berpotensi memberikan pertumbuhan laba yang baik. Sektor perbankan masih salah satu sektor pilihan, di samping ituada sektor Consumer, dan Plantation. Alokasi portfolio di level 95% untuk dan memaksimalkan Return Portfolio karena kami melihat potensi menguatnya indeks sampai akhir tahun. Reksa Dana Obligasi berfokus pada SUN seri benchmark tenor 10 dan 15 tahun serta menjaga durasi portfolio di level 7.00- 7.50. Alokasi portfolio untuk Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.





DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list