Weekly Perspective - W2 February 2018

Global Equity Sell-off on Rate Hike Concerns

  • Setelah mengalami koreksi signifikan selama 2 minggu terakhir (peak 26 Jan 2018 – lowest 8 Febr 2018) sebesar -10%, indeks S&P500 kembali rebound +3,2% di awal minggu ini. Pelaku pasar terus mengamati pergerakan yield US Treasury tenor 10 tahun yang terus menyentuh level tertingginya dalam 4 tahun terakhir sebesar 2,8%. Kekhawatiran mengenai kenaikan inflasi dan suku bunga yang lebih tinggi dan lebih cepat masih mendorong pergerakan pasar dalam zona negatif.
  • Bloomberg survey yang dilakukanpadabulanFebruari 2018 menunjukkan peningkatan ekspektasi pasar akan pertumbuhan ekonomi, inflasi dan yield obligasi. Pertumbuhan ekonomi AS QQ1/2018 diprediksi naik dari survei sebelumnya yang dilakukan pada bulan Januari 2018, dari 2,5% yoy menjadi 2,7% yoy. Pada periode yang sama, inflasi AS QQ1/2018 diprediksi naik dari 1,9% menjadi 2,1%. Yield obligasi AS (US Treasury) tenor 10 tahun untuk QQ1/2018 diprediksi naik dari 2,57% menjadi 2,74%. Kenaikan bunga The Fed sebanyak 3x di tahun 2018 masih mendominasi consensus pasar, namun survei juga menunjukkan adanya kenaikan probabilitas bunga The Fed menjadi 4x dari 10% menjadi 18% dari total economist yang mengikuti survei tersebut.

Pasar Modal Indonesia terus Bertahan

  • Menariknya ditengah koreksi pasar yang begitu signifikan, penurunan IHSG relative terbatas. Selama month to date (mtd) hingga 13 Febr’18, IHSG hanya turun -0,42% menjadi 6.578. Bila dibandingkan penurunan indeks saham AS -5,7%; Nikkei -8,0%; Hangseng -9,3% dan Shanghai -8,5% mtd. Artinya sudah 2 minggu berturut-turut, IHSG outperformed dibandingkan pasar regional. Equity net outflow selama mtd mencapai Rp 7,8 Tn namun investor local terus optimis dan menopang pergerakan pasar. Sektor Banking terus mencatatkan kenaikan 2,25%, sedangkan koreksi terbesar pada sector Basic Industry -5,6% dalam 1 minggu terakhir.
  • Surat Utang Negara (SUN) juga mengalami penurunan harga dengan kisaran -0,27 s/d -0,5%. Penurunan terbesar terjadi pada tenor 15 dan 18 tahun. Yield SUN tenor 10 tahun beranjak naik dari level 6,22% menjadi 6,41%. Outflow di pasar obligasi mulai terlihat di bulan Februari 2018 ini, tercatat sebesar Rp 14,2 Tn, hamper separuh dari inflow yang masuk di bulan Januari 2018 sebesar Rp 34 Tn.
  • Dengan total net outflow di pasar saham dan obligasi sebesar Rp 22 Tn, maka Rupiah yang sempat menguat ke level Rp 13.389/USD maka berbalik melemah signifikan menjadi Rp 13.658/USD. Pelemahan Rupiah sejalan dengan pelemahan di pasar regional. Hanya mata uang safe heaven asset yang menunjukkan penguatan yakni Yen Jepang +1,5% dan Dollar Index 0,6%.
  • Apa sebenarnya yang membuat pasar modal Indonesia relative bertahan ditengah factor ketidak pasatian pasar global.
  • Pertama, perbaikan dan stabilitas makro ekonomi. Inflasi periode Jan2018 masih menunjukkan penurunan dari 3,6% menjadi 3,25% yoy.
  •  Current Account Deficit (CAD) QQ4/2017 terlihat melebar sebesar –USD 5.761 juta dari QQ3/2017 sebesar –USD 4.337 juta. Namun secara overall year 2017, porsi CAD masih membaik sebesar -1,7% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar -1,8% terhadap PDB. Surplus neraca perdagangan meningkat sepanjang 2017 namun pada QQ4 lalu impor minyak dan deficit jasa khususnya transportasi meningkat seiring kenaikan harga minyak dan pertumbuhan aktivitas ekonomi.
  • Kedua, kenaikan peringkat kredit Indonesia.Setelah lembaga rating internasional S&P menaikkan rating Indonesia menjadi Investment Grade (BBB-) pada bulan Mei 2017. The Fitch dalam reviewnya di bulan Des 2017 juga menaikkan rating Indonesia dari BBB- menjadi BBB, yang selanjutnya diikuti dengan Japan Rating Agency yang meng-upgrade dari BBB- menjadi BBB (stable outlook). Pasar masih berekspektasi adanya kenaikan rating dari Moody’s. Dengan kenaikan rating ini maka risk premium yang salah satunya ditunjukkan dengan CDS 5yr mengalami penurunan dari rata-rata sebesar 180 (2013 – 2016) menjadi rata-rata sebesar 116 (2017). Hal inilah yang menahan kenaikan yield SUN ditengah kenaikan Fed fund rate. 
  • Apa sebenarnya yang membuat pasar modal Indonesia relative bertahan ditengah factor ketidak pasatian pasar global. Ketiga, recovery ekonomi domestik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia secara bertahap terus melangkah dan menunjukkan peningkatan. PDB QQ4/2017 tumbuh sebesar 5,19% yoy, diatas estimasi konsensus 5,12%. Kenaikan ini membawa pertumbuhan ekonomi secara full year 2017 meningkat menjadi 5,06% yoy (vs FY16 sebesar 5,03% yoy). Peningkatan pertumbuhan Ekonomi pada QQ4/2017 ditopang dengan peningkatan konsumsi swasta dan kegiatan investasi.
  • Ekspektasi pertumbuhan ekonomi di tahun 2018 akan terus meningkat diprediksi sebesar 5,2% yoy didukung peningkatan government spending, stimulus fiscal dan kegiatan politik. Meningkatnya harga komoditas, ekspor dan investasi pasar global seiring pemulihan ekonomi dunia, juga akan mendorong peningkatan investasi domestic khususnya pada sector mining dan manufacturing terkait ekspor. Selain itu, dari pemulihan harga komoditas, aktivitas ekspor, government spending dan investasi ini juga diestimasi memberikan efek multiplier pada konsumsi domestik.

Market Expectation

  • Selama 1 minggu kedepan, pergerakan pasar saham dan obligasi cenderung sideways, masih dengan kekhawatiran akan kenaikan inflasi dan suku bunga The Fed diatas ekspektasi pasar sebelumnya. Pelaku pasar akan mengamati data inflasi AS yang akan dirilis pada minggu ini. Selain itu dengan masuknya libur tahun baru Imlek maka aktivitas/volume perdagangan dipasar regional relative menurun dengan kecenderungan koreksi.
  • Inflasi AS periode Jan 2018 mencatatkan kenaikan +0.5% mom diatas estimasi consensus pasar +0.3% mom, sehingga membawa inflasi tahunan menjadi 2.1% yoy diatas estimasi consensus sebesar 1.9% yoy. Kenaikan inflasi ini didorong kenaikan biaya transportasi (terkait energi) dan harga apparel yang naik tajam. Kenaikan ini mendorong kepanikan pasar dan yield US Treasury kembali menyentuh level tertingginya 2,94%. Ekspektasi pasar akan kenaikan bunga The Fed menjadi 4x ditahun 2018 ini, dibandingkan ekspektasi sebelumnya sebanyak 3x.
  • Namun dibalik setiap kepanikan yang berlebihan, kami melihat sisi lain dari inflasi. Memang benar inflasi mengalami kenaikan diatas estimasi pasar, namun levelnya masih sama dengan periode Des 2017 sebesar 2,1% yoy. Selain itu menuju akhir Februari ke Maret 2018 maka peak seasonality demand dari Natal, tahun baru Jan 2018, musim dingin dan imlek sudah mulai mereda. Demand akan mulai melambat, ditambah dengan harga minyak yang mulai terkoreksi, maka level inflasi AS diprediksi mulai mereda. Hal ini setidaknya akan mengerem laju pergerakan yield obligasi, setelah periode kenaikan yang cukup signifikan hingga menyentuh level 2,92% untuk yield US Treasury tenor 10 tahun.
  • Pemerintah diberbagai belahan dunia juga masih berkepentingan untuk menjaga sustainbilitas momentum recovery ekonomi, sehingga masih ada katalist lain yang dapat kembali membawa pasar saham global kembali dalam tren positif, yakni dari peningkatan fundamental earning dan reformasi US tax yang dapat mendorong upgrade growth.
  • Bagi Indonesia, gejolak pasar global ini akan cukup berpengaruh. Namun sifatnya masih jangka pendek dan fokus utama yang perlu terus diperhatikan adalah potensi outflow khususnya di pasar obligasi dan pengaruhnya pada mata uang Rupiah. Adapun pada pasar saham, potensi outflow relative terbatas mengingat posisi asing yang sudah cukup underweight terhadap Indonesia selamatahun 2017 lalu. Ditambah dengan harapan akan consumer recovery yang sudah mulai terlihat pada pertumbuhan ekonomi pada kuartal 4/2017 sebesar 5,19% yoy. Economic recovery dan consumer inflection point masih menjadi big theme di sepanjang tahun 2018 ini.



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list