Weekly Perspective - W2 August 2019

China melakukan devaluasi Yuan hingga menyentuh level di bawah 7/USD

  • Dalam rangka antisipasi terhadap tarif tambahan yang dikeluarkan oleh AS sebesar 10% terhadap barang impor dari China, Pemerintah China melakukan langkah balasan dengan mendevaluasi mata uang yuan hingga di bawah 7/USD dalam satu dekade terakhir. Depresiasi mata uang dapat membantu China mengurangi dampak tarif baru AS dengan menjaga ekspornya terjangkau di negeri Paman Sam, tetapi devaluasi dapat menyebabkan dampak negatif di dalam negerinya. Penurunan nilai yuan juga bisa memicu arus modal keluar dari China dan merusak stabilitas ekonomi.

Current Account Deficit Indonesia Q2 2019 menyentuh level -3.04% terhadap PDB

  • Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa current account deficit (CAD) di Q2 2019 menembus level -3.00% dari Produk Domestik Bruto (PDB), tepatnya -3.04%. Padahal di Q1 2019 CAD hanya berada di level -2.60%. Secara nominal, CAD pada Q2 2019 senilai USD 8.44 miliar. CAD pada Q2 2019 juga lebih dalam ketimbang periode yang sama tahun lalu (Q2 2018) yang sebesar -3.01% dari PDB. 
  • Bank Indonesia (BI) mengumumkan cadangan devisa Juli 2019 sebesar USD 125.90 milyar. Cadangan devisa tersebut naik USD 2.10 milyar dibandingkan Juni 2019 sebesar USD 123.80 milyar. BI memandang cadangan devisa tersebut cukup aman karena mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan. Cadangan tersebut setara dengan pembiayaan 7.30 bulan impor atau 7.00 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Potensi penurunan fed fund rate memberikan sentimen positif pasar obligasi

  • Selama sepekan terakhir periode (05 – 09 Agustus 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan -0.96% setelah mengalami kenaikan di minggu sebelumnya dan ditutup di level 6,282.13. Pergerakan IHSG selama sepekan terakhir dipengaruhi sentimen global dan domestik diantaranya kebijakan China melakukan devaluasi mata uang Yuan terhadap US Dollar dari sebelumnya di level 6.80/USD menjadi 7.05/USD agar nilai ekspor China tetap kompetitif dibandingkan negara lainnya pasca Amerika Serikat mengenakan 10% tarif tambahan untuk produk China senilai USD 300 milyar. Adanya sentimen negatif dari makroekonomi global membuat nilai tukar Rupiah melemah terhadap USD ke level Rp 14,250 /USD dari level sebelumnya di Rp 14,140/USD serta net sell yang dilakukan oleh investor asing sepanjang week to date sebesar Rp  -2.00 triliun dan Rp -3.50 triliun secara year to date. Hampir seluruh sektor mengalami penurunan namun sektor yang masih mengalami kenaikan diantaranya Agriculture +2.58% diikuti oleh Basic Industry +1.02%,dan Mining +0.61%. Adapun sektor yang mengalami penurunan terbesar diantaranya Miscellaneous Industry -3.02% diikuti oleh Finance -1.88%, Trade Services -1.35% dan Consumer Goods –0.57%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik meskipun IHSG mengalami penurunan tetapi harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) justru mengalami kenaikan +1.05% selama satu minggu terakhir dipengaruhi oleh ekspektasi pelaku pasar bahwa The Fed kemungkinan besar akan kembali menurunkan Fed Fund Rate sebesar 25 bps  pada FOMC Meeting pasca China melakukan kebijakan devaluasi Yuan untuk meningkatkan level kompetitf ekspor dibandingkan negara lainnya. Kenaikan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 7.60% menjadi 7.35%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 09 Agustus 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesarRp +3.00 triliun dan secara year to date membukukan net buy sebesar Rp +116.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 1,009.20 triliun.
  • Portfolio Reksa Dana Saham melakukan akumulasi pembelian pada saham-saham khususnya blue-chip dan mid-cap yang sebelumnya mengalami koreksi dengan sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, Infrastructure dan Mining serta menjaga alokasi portfolio di level 90 – 92% untuk meminimalkan volatilitas dan memaksimalkan Return Portfolio. Reksa Dana Obligasi kembali melakukan akumulasi pembelian SUN seri benchmark tenor 15 dan 20 tahun serta menjaga durasi portfolio di level 7.00 – 7.50. Alokasi Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.




DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list