Weekly Perspective - W2 April 2019

Theresa May Meminta Penundaan Brexit kepada Uni Eropa hingga 30 Juni 2019

  • Perdana Menteri Inggris Theresa May meminta kepada Uni Eropa untuk memundurkan jadwal proses Brexit (Inggris keluar dari Uni Eropa) dari 12 April 2019 menjadi 30 Juni 2019. Tujuan dilakukan penundaan ini agar Inggris dapat keluar dari Uni Eropa dengan cara yang lebih moderat sehingga tidak menggangu aktifitas perekonomian Inggris kedepannya. May mengatakan saat ini terdapat dua opsi terkait Brexit yaitu keluar dari Uni Eropa dengan kesepakatan atau tetap menjadi bagian dari Uni Eropa. Uni Eropa akan mengadakan pertemuan dengan negara-negara anggotanya dan akan memberikan jawaban kepada Inggris paling lambat tanggal 11 April 2019.
  • Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat merilis data US-Non Farm Payroll (US-NFP) bulan Maret 2019 yang tumbuh sebesar 196K (ekspektasi consensus: 177K) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Februari 2019 sebesar 33K. Membaiknya data tenaga kerja sedikit meredakan kekhawatiran terhadap datangnya resesi ekonomi AS lebih awal. Meskipun data tenaga kerja mengalami pertumbuhan, namun The Fed kemungkinan besar tetap akan menunda kenaikan Fed Fund Rate (dovish) di tahun 2019 karena kenaikan upah pekerja yang masih moderat di kisaran 0.25 – 0.50% dan pertumbuhan inflasi yang dibawah eskpektasi. 

Cadangan Devisa Mengalami Kenaikan USD 1.27 Milyar di Bulan Maret 2019

  • Cadangan devisa Indonesia di bulan Maret 2019 mengalami kenaikan USD 1.27 milyar dari posisi USD 123.27 milyar di bulan Februari 2019 menjadi USD 124.54 milyar yang merupakan level cadangan devisa tertinggi selama 11 bulan terakhir. Posisi cadangan devisa saat ini setara dengan tujuh bulan impor dan melebihi standar internasional yaitu tiga bulan impor. Peningkatan cadangan devisa dipengaruhi oleh penerimaaan devisa migas dan masuknya dana investasi baik di pasar saham maupun pasar obligasi. 

Inflasi yang Terjaga Memberikan Sentimen Positif pada IHSG dan Yield SUN

  • Selama sepekan terakhir periode (01 – 05 April 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan sebesar +0.08% ditutup di level 6,474.01 pasca rilis data inflasi bulan Maret 2019 yang tetap terjaga dan sesuai ekspektasi para pelaku pasar. Kenaikan IHSG sejalan dengan net buy yang dilakukan oleh investor asing selama week to date sebesar Rp 1.10 triliun sehingga secara year to date investor asing membukukan net buy sebesar Rp 11.50 triliun. Sektor yang mengalami kenaikan terbesar diantaranya Agriculture +3.77%, diikuti oleh Property +3.50%,  Miscellaneous Industry +2.84% dan Finance +0.96%. Sedangkan sektor yang mengalami penurunan terbesar terdiri dari Mining -2.26%, Basic Industry -1.44%, Consumer Goods – 1.11% dan Infrastructure -0.69%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami kenaikan sebesar +0.20% didorong oleh positifnya data makroekonomi domestik sehingga memberikan sentimen positif penguatan nilai tukar Rupiah. Hal ini sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 7.67% menjadi 7.57%. Kami melihat pergerakan pasar obligasi di bulan April 2019 masih akan positif didorong oleh besarnya total bid baik pada lelang SUN maupun SBSN serta capital inflow dari investor asing yang berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 03 April 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesarRp 2.00 triliun dan year to date sebesar Rp 70.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 963.20 triliun.
  • Portfolio Reksa Dana Saham telah melakukan profit taking di level IHSG saat ini dan akan kembali melakukan akumulasi pembelian pada saham-saham khususnya blue-chip yang mengalami koreksi dengan beberapa sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, Agriculture dan Mining. Reksa Dana Obligasi melakukan akumulasi SUN benchmark seri panjang tenor 15 dan 20 tahun secara bertahap serta durasi portfolio ditingkatkan dan dijaga pada level 7.00 – 7.50. Alokasi Obligasi Korporasi tenor pendek (3-5 tahun) dengan kupon tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.




DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list