Weekly Perspective - W1 September 2018

Krisis di Argentina dan Turki Memberikan Sentimen Negatif Pasar Domestik

  • Selama sepekan terakhir pelaku pasar global dan domestik masih menghadapi ketidakpastian terkait krisis ekonomi yang terjadi di beberapa negara terutama krisis ekonomi di Argentina dan Turki. Meredanya krisis di Turki selama dua pekan terakhir terlihat dari mulai menguatnya mata uang Lira terhadap USD dari level terendahnya di posisi 7.2 / USD yang bergerak ke level stabil 5.9 – 6.1 / USD selama bulan Agustus 2018. Awal September 2018 para pelaku pasar kembali dikejutkan dengan krisis ekonomi di Argentina dimana nilai mata uang Argentina yaitu Peso mengalami penurunan yang cukup ekstrem di akhir Agustus sampai awal September 2018 sebesar 28% menjadi 38.20 / USD (year to date melemah >75% dari posisi 21/USD) serta langkah Pemerintah Argentina meminta percepatan pencairan pemberian utang oleh IMF sebesar USD 50 milyar di minggu kedua September 2018 (target pencairan utang: Oktober 2018) untuk pembayaran kupon dan obligasi Pemerintah yang jatuh tempo di akhir September 2018 direspon negatif oleh pelaku pasar.
  • Dampak dari krisis ekonomi yang terjadi di Argentina dan Turki memberikan sentimen negatif pada pasar saham domestik dimana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi -2.77% selama sepekan terakhir (03-07 September 2018) diikuti oleh investor asing yang membukukan net sell secara week to date (wtd) sebesar Rp -2.80 triliun. Penurunan IHSG juga diikuti oleh seluruh sektor yang mengalami penurunan dimana penurunan terbesar terjadi pada sektor mining -6.09% diikuti oleh basic industry -5.14% dan property -4.97%.
  • Penurunan yang terjadi pada pasar saham domestik juga diikuti oleh pasar obligasi dimana harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Index mengalami penurunan -2.24% selama seminggu terakhir (03 – 07 September 2018) sejalan dengan pergerakan yield SUN tenor 10 tahun yang mengalami kenaikan dari 8.00% pada akhir Agustus 2018 menjadi 8.60% di tanggal 7 September 2018. Koreksi di pasar obligasi juga diikuti oleh investor asing yang membukukan net sell selama month to date berdasarkan laporan DJPPR sebesar Rp 14 triliun dari posisi Rp 855 triliun di akhir Agustus 2018 menjadi Rp 841 triliun per tanggal 7 September 2018. Pergerakan nilai Rupiah selama seminggu terakhir bergerak di level 14,810 - 14,860/ USD.


Positifnya Data US Non-Farm Payroll Menjelang FOMC Meeting 27 Sept 2018

  • Data US Non- Farm Payroll bulan Agustus 2018 mencatatkan pertumbuhan jumlah tenaga kerja sebesar 201K (Konsensus: 190K), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Juli 2018 sebesar 147K. Unemployment rate bulan Agustus 2018 juga bergerak stabil di level 3.9% (unemployment rate <4% mengindikasikan bahwa serapan tenaga kerja sudah optimal). Solidnya data perekonomian Amerika dalam tiga bulan terakhir akan memantapkan langkah The Fed untuk kembali menaikkan Fed Fund Rate 25 Bps dari 2% menjadi 2.25%.
  • Data Inflasi Indonesia bulan Agustus 2018 mencatatkan level inflasi secara month to month mengalami deflasi -0.05% (Juli 2018: +0.28%) dan secara year on year sebesar 3.20% (Juli 2018: +3.14%).  Terjadinya deflasi karena harga pangan sudah kembali mengalami penurunan setelah selesainya bulan ramadhan, idul fitri dan liburan sekolah.  Kami melihat sampai dengan akhir tahun 2018 level inflasi akan tetap terjaga pada kisaran 3.40 – 3.60 secara year on year.
  • Cadangan devisa Indonesia kembali mengalami penurunanan dari level sebelumnya USD 118.3 milyar di bulan Juli 2018 menjadi USD 117.9 milyar di bulan Agustus 2018 karena adanya intervensi BI menjaga pergerakan Rupiah. Cadangan devisa pada bulan – bulan selanjutnya diestimasi  masih akan mengalami penurunan karena tekanan terhadap Rupiah dari eksternal masih akan berlanjut terutama isu trade war antaraAmerika dan China serta krisis ekonomi di Argentina dan Turki.
  • Strategi pengelolaan portfolio di bulan September 2018 untuk Reksa Dana Obligasi masih akan defensif dengan durasi portfolio saat ini di level 3.50 – 4.00, sedangkan untuk Reksa Dana saham porsi equity akan dinaikkan secara bertahap untuk dialokasikan pada saham blue chip yang valuasinya sudah cukup atraktif.



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list