Weekly Perspective - W1 October 2019

PM inggris mengusulkan rancangan final proposal Brexit kepada Uni Eropa

  • Perdana Menteri Inggris (PM) Boris Johnson mengusulkan rancangan terakhir proposal Brexit (Inggris keluar dari Uni Eropa) dan menyatakan jika Uni Eropa (UE) tidak menyetujuinya maka Inggris akan tetap keluar dari UE tanpa kesepakatan. Beberapa isi proposal terbaru Brexit yang diajukan Johnson antara lain mengatur masa peralihan kebijakan perbatasan selama empat tahun setelah keluar dari UE serta mengatur tentang kesepakatan bea cukai dengan Irlandia. Masalah perbatasan dengan Irlandia selama ini menjadi problem yang sulit dipecahkan dalam perundingan Brexit dengan UE. Perjanjian ini mengatur agar perbatasan Irlandia Utara yang dikuasai Inggris dan Republik Irlandia tetap terbuka setelah Brexit agar menekan potensi gejolak politik di Irlandia Utara. Sebelum usul tersebut disampaikan kepada UE, Johnson harus mendapatkan persetujuan dari parlemen hingga 11 Oktober mendatang. Jika disepakati, maka draf itu bisa disampaikan pada pertemuan UE di Belgia pada 17 - 18 Oktober 2019 mendatang. UE menetapkan tenggat bagi Inggris hingga 31 Oktober 2019 untuk memutuskan soal Brexit.

Cadangan devisa September 2019 mengalami penurunan USD 2.1 miliar

  • Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2019 tercatat sebesar USD 124.30 miliar. Posisi cadangan devisa masih cukup tinggi meskipun lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Agustus 2019 yang sebesar USD 126.40 miliar. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7.20 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Penurunan cadangan devisa pada September 2019 tersebut dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri Pemerintah dan berkurangnya penempatan valas perbankan di BI.

Laporan riset Moody’s memberikan dampak negatif bagi pasar saham domestik

  • Selama sepekan terakhir periode (30 September – 04 Oktober 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar -2.19% melanjutkan penurunan di minggu sebelumnya dan ditutup di level 6,061.25. Penurunan IHSG selama sepekan terakhir dipengaruhi oleh laporan yang dikeluarkan Lembaga rating Moody’s terhadap perbankan di Asia memiliki potensi gagal bayar karena pertumbuhan ekonomi yang melambat serta meningkatnya tensi perdagangan dan ketegangan geopolitik yang dapat melemahkan kemampuan pembayaran utang. Hasil stress test tersebut mengindikasikan bahwa perbankan di Indonesia dan India paling rentan terhadap penurunan kemampuan pembayaran utang perusahaan, diikuti oleh bank-bank di Singapura, Malaysia dan China. Hal ini membuat nilai tukar Rupiah melemah ke level Rp 14,170 /USD dari level sebelumnya di Rp 14,138 /USD. Penurunan IHSG sejalan dengan investor asing yang membukukan net sell sepanjang week to date sebesar Rp 300 miliar dan Rp -14.40 triliun secara year to date. Seluruh sektor mengalami penurunan dimana sektor yang mengalami penurunan terbesar yaitu Miscellaneous Industry -3.18%, diikuti oleh Banking -2.92%, Consumer Goods -2.82%, Mining -2.40% dan Manufacturing -2.31%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) mengalami kenaikan tipis selama +0.20% selama satu minggu terakhir dipengaruhi oleh sentiment positif penurunan suku bunga Fed Fund Rate dari level sebelumnya 2.25% menjadi 2.00% serta BI-7 Day Reverse Repo Rate mengalami penurunan dari 5.25% menjadi 5.00% untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Kenaikan harga obligasi sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 7.26% menjadi 7.21%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 03 Oktober 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesarRp +1 triliun dan secara year to date membukukan net buy sebesar Rp +138.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 1,031.20 triliun.
  • Portfolio Reksa Dana Saham melakukanakumulasi pembelian pada saham-saham khususnya blue-chip dan mid-cap yang sebelumnya mengalami koreksi dengan sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, dan Miscellaneous Industry serta menjaga alokasi portfolio di level netral 90 – 93% untuk meminimalkan volatilitas dan memaksimalkan Return Portfolio. Reksa Dana Obligasi berfokus pada SUN seri benchmark tenor 10 dan 15 tahun serta menjaga durasi portfolio di level 7.50 – 8.00. Alokasi Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.





DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list