Weekly Perspective - W1 November 2018

Rencana Perundingan antara Amerika dan China Memberikan Sentimen Positif Pasar

  • Pada tanggal 1 November 2018 Presiden Amerika Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping telah memulai pembicaraan mengenai bagaimana kelanjutan perang dagang antara kedua negara tersebut kedepannya. Rencananya pertemuan keduanya akan dilangsungkan pada KTT G20 di Argentina pada akhir November 2018. Positifnya rencana pertemuan tersebut memberikan sentimen positif bagi pasar global maupun domestik. Selama sepekan terakhir periode 26 Oktober – 02 November 2018 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan yang signifikan sebesar 2.10% ditutup di level 5,906.29. Sejalan dengan kenaikan IHSG, investor asing membukukan net buy selama week to date sebesar Rp 4.60 triliun. Sektor yang mengalami kenaikan terbesar yaitu hanya Miscellaneous Industry sebesar 7.65% yang didorong oleh kenaikan saham Astra Internasional, diikuti oleh Finance 5.24% dan Infrastructure 3.83%. Sedangkan sektor yang mengalami penurunan yaitu Mining -2.01%,  diikuti oleh Consumer Goods -1.21% dan Trade Services sebesar -0.72%.
  • Sedangkan di Pasar Obligasi harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Index (BINDO) selama sepekan terakhir mengalami kenaikan yang cukup signifikan sebesar +1.66% dimana pergerakan Yield SUN tenor 10 tahun mengalami penurunan dari level 8.60% ke level 8.30% sejalan dengan penurunan US Treasury 10 Years yang mengalami penurunan dari 3.24% ke level 3.17%. Berdasarkan dengan laporan DJPPR per tanggal 02 November 2018,  investor asing membukukan net buy Rp 13.23 triliun sepanjang bulan Oktober 2018 yang didominasi oleh pembelian SUN seri pendek dan menengah sehingga kepemilikan asing naik dari posisi Rp 850.85 triliun di akhir September 2018 menjadi Rp 864.08 triliun. Adapun nilai tukar Rupiah juga mengalami penguatan terhadap mata uang USD dari level sebelumnya Rp 15,217 /USD menjadi Rp 14,955/USD pada posisi penutupan tanggal 2 November 2018. 
  • Data US-Non Farm Payroll  bulan Oktober 2018 yang diumumkan tanggal 2 November 2018 tumbuh sebesar 250K lebih tinggi dibandingkan Market Consensus sebesar 212K serta Unemployment Rate yang tetap terjaga di 3.70%. Kuatnya data perekonomian Amerika menjadi indikasi The Fed untuk kembali melanjutkan kebijakan Hawkish terkait kenaikan Fed Fund Rate kedepannya. 
  • Data GDP Indonesia Q3 2018 mengalami pertumbuhan sebesar 5.17%  (GDP Q2 2018 +5.27%). Meskipun tumbuh sedikit lebih rendah dibandingkan Q2 2018, namun pertumbuhan ekonomi masih cukup baik di tengah pelemahan Rupiah terhadap USD dan kenaikan suku BI-7 Day Reverse Repo Rate oleh Bank Indonesia. Pertumbuhan GDP didorong oleh kenaikan Investasi sebesar 7% (Q2 2018: 5.7%), sedangkan Private Consumption bergerak flat 5.00% (Q2 2018: 5.10%). Kami melihat ekspektasi pertumbuhan GDP untuk tahun 2018 akan ada pada kisaran 5.10 – 5.20%.
  • Earning Growth Market di 3Q 2018 mengalami pertumbuhan 12% lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan di 1Q 2018 sebesar 10% dan 2Q 2018 sebesar 4%. Beberapa sektor yang tumbuh di 3Q 2018 lebih tinggi dibandingkan rata-rata market diantaranya Auto (ASII) yang tumbuh sebesar 39% (2Q18: 27%), Consumer Discretionary tumbuh 28% (2Q18: 10%), Mining tumbuh 22% (2Q18: 14%), Infrastructure tumbuh 16% (2Q18: 13%) dan Sektor Banking yang tumbuh 12% sejalan dengan pertumbuhan market. Adapun sektor yang pertumbuhannya dibawah rata-rata yaitu Plantation 7% (2Q18: 62%), Property -7% (2Q18: -77%), Healthcare 8% (2Q18: -2%) dan Consumer Staples 9% (2Q18: 19%).
  • Portfolio Reksa Dana Saham akan mengambil posisi selektif di beberapa saham karena kemungkinan pasar akan bergerak flattish minggu ini. Laporan keuangan emiten yang dilaporkan relatif baik meski tekanan makro ekonomi masih ada. Sektor pilihan antara lain sektor Finance, Agriculture, Basic Industry (poultry) dan mining (coal). Reksa Dana Obligasi akan melakukan profit taking sebagian portfolio SUN dengan tenor menengah pada level yield 8.20 – 8.30%, kemudian akan kembali melakukan akumulasi pada SUN tenor menengah (tenor 5-10 tahun) ketika level yield 10 tahun berada di level 8.50 – 8.70%. Porsi Obligasi Korporasi tenor pendek (3-5 tahun) dengan kupon yang tinggi tetap dipertahankan untuk menjaga volatilitas pergerakan market dan memaksimalkan Return Portfolio. Durasi portfolio Reksa Dana tetap dijaga di level 4.00 – 4.50. 



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list