Weekly Perspective - W1 November 2017

Market Review

  • Selama 1 minggu terakhir (23-27 Okt 2017), IHSG mengalami kenaikan 0,77% dan kenaikan berlanjut hingga diakhir bulan Okt 2017 ditutup ke level 6.005,8 atau naik 1,78% selama bulan Okt 2017. Kenaikan harga saham secara Year to Date (YTD) mencatatkan kenaikan sebesar 13,4%. Walaupun mengalami kenaikan, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 6,2 Triliun di bulan Okt 2017 atau akumulasi net sell selama 2017 ini menjadi Rp 16,98 Triliun. Nilai jual dari investor asing ini sudah menghapus lebih dari setengah net inflow yang terjadi ditahun 2016 sebesar Rp 22,6 Triliun. Secara sektoral, saham telco dalam indeks Infrastruktur mencatatkan penurunan terbesar yakni -6,3%, adapun sektor yang mencatatkan kenaikan tertinggi pada sektor Mining +12,1%dan Basic Industry +9,7%.
  • Pada pasar obligasi, setelah mengalami kenaikan harga obligasi secara berturut-turut di bulan Agustus dan September 2017, seiring langkah penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia, maka sesuai ekspektasi kami, harga obligasi mengalami penurunan sebesar 1-2% di sepanjang bulan Okt 2017 khususnya pada tenor-tenor panjang. Yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun yang sempat menyentuh level terendahnya 6,4% kembali mengalami kenaikan hingga ke level 6,8% dan kemudian ditutup menurun ke level 6,79% diakhir Okt 2017. Kenaikan yield SUN ini seiring kenaikan yield US Treasury yang sempat naik hingga ke level 2,46% seiring optimisme akan recovery ekonomi AS. Selama 1 bulan Oktober 2017, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 23,2 Triliun. Adapun mata uang Rupiah terhadap USD turut mengalami pelemahan sebesar 0,68% menjadi Rp 13.563/USD seiring penguatan Dollar Index yang mencatatkan penguatan sebesar +1.76% di bulan Okt 2017 didorong optimisme akan disetujuinya budget AS dan potensi reformasi perpajakan AS.

Global

  • Diluar ekspektasi pasar, Produk Domestik Bruto (PDB) AS QQ3/2017 meningkat secara tahunan sebesar 3,00% diatas ekspektasi pasar sebesar 2,6%. Hal ini mencerminkan tren pemulihan ekonomi AS terus berjalan, dengan kontribusi positif dari pengeluaran konsumsi pribadi, investasi persediaan swasta, investasi tetap, ekspor, dan pengeluaran pemerintah Federal.
  • President European Central Bank (ECB) dalam pertemuannya minggu lalu menyatakan akan memperpanjang masa pembelian obligasi dengan level pembelian yang diturunkan dari Euro 60 miliar menjadi Euro 30 miliar perbulannya, berlaku mulai Jan 2018. Suku bunga acuan di zona Eropa masih dipertahankan rendah di tahun 2018.
  • Harga minyak mentah dunia semakin menguat ke level USD 61,6/barrel diatas level terendahnya dibulan Juni 2017 sebesar USD 46,2/barrel, seiring dukungan para produsen untuk memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi minyak hingga akhir 2018 dan ketegangan di Irak.

Domestic

  • DPR menyetujui RAPBN 2018 dengan adanya penambahan alokasi dana, salah satunya belanja infrastruktur naik menjadi Rp411 triliun. Pertumbuhan spending dan income 2018 relatif moderate dibandingkan 2017, khususnya melihat realisasi budget hingga Agustus’17yang masih jauh dibawah target.
  • Indikator geliat ekonomi domestik masih menunjukkan data yang mixed. Pertumbuhan money supply (M2) dan kredit perbankan mulai menunjukkan peningkatan sebesar 10,9% yoy perSep17. Namun kenaikan ini masih dibawah ekspektasi pasar di sepanjang 2017 sebesar 12%-an. Adapun aktivitas manufacturing (PMI) Indonesia masih belum menunjukan kenaikan signifikan, level indeks PMI bergerak dari 50,4pada Sept2017menjadi 50,1pada Okt 2017.
  • Ditambah dengan inflasi bulan Okt 2017 yang masih menunjukkan penurunan menjadi 3,58%yoy dari sebelumnya 3,72%yoy.

Market Expectation

  • IHSG cenderung bergerak mixed setelah menyentuh level diatas 6.000. Beberapa faktor penting yang akan mempengaruhi pergerakan IHSG antara lain : rilisnya data ekonomi penting di AS (jobs report dan keputusan Fed di awal bulan Okt’17 ini) dan pertumbuhan ekonomi Indonesia QQ3’17 yang diestimasi pasar mengalami kenaikan 5,13% yoy dibandingkan periode sebelumnya 5,01% yoy. Earning release emiten juga semakin meningkat di awal Okt 2017 ini serta spekulasi pasar bahwa Trump akan memilih Jerome Powell sebagai gubernur baru The Fed, dimana Powell dinilai memiliki pandangan yang lebih dovish terkait kebijakan moneter.
  • Alokasi portofolio pada saham cenderung neutral dimana profit taking dapat dilakukan pada efek-efek yang sudah mengalami kenaikan signifikan. Adapun pada pasar obligasi dengan level yield SUN sebesar 6,8% menjadi menarik untuk diakumulasi, apalagi dengan potensi masuknya obligasi Indonesia dalam Bloomberg’s Global Aggregate Index dengan kisaran bobot sekitar 0,23% atau diestimasi bond inflow tambahan sebesar USD 4-5 miliar dan relatif tingginya demand dari institusi lokal untuk memenuhi ketentuan minimal pada SUN.



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list