Weekly Perspective – W1 May 2020

Indeks PMI Indonesia bulan April 2020 turunke 27.50 darisebelumnya 43.50

  • Aktivitas manufaktur Indonesia mencatatkan kinerja terlemah sepanjang sejarah yang diakibatkan oleh pandemic COVID-19 yang membuat produksi dan permintaan sama-sama lesu. HIS Markit melaporkan Indeks Purchasing Managers (PMI) manufaktur Indonesia berada di angka 27.50, jauh menurun dibandingkan bulan Maret 2020 lalu yaitu 43,5 dan menjadi yang terendah sepanjang pencatatan PMI yang dimulai sejak April 2011. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan di Indonesia membuat produksi manufaktur anjlok karena pabrik-pabrik tutup sementara. Akibatnya, output manufaktur berada di titik terlemah sepanjang sejarah pencatatan PMI.
  • Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulan April 2020 secaramonth-to-month sebesar 0.08%, lebih rendah dibandingkan inflasi di bulan April 2019 sebesar 0.40%. BPS menyatakan  pergerakan inflasi yang lambat ini turut dipengaruhi rendahnya konsumsi masyarakat di tengah pandemi COVID-19 saat ini.  Melambatnya inflasi di April 2020 ini bisa terjadi karena beberapa faktor diantaranya terjaganya pasokan pangan sehingga harganya stabil, penurunan permintaan barang dan jasa akibat PSBB dan adanya pelemahan daya beli rumahtangga.

Data Pertumbuhan Inflasi Indonesia Mei 2019 - April 2020

Sumber: Bank Indonesia


Menguatnya nilai Rupiah memberi sentimen positif pasar saham dan obligasi

  • Selama sepekan terakhir periode (27-30 April 2020), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan yang signifikan sebesar +4.90% dan ditutup di level 4,716.40 meskipun secara Year-to-Date IHSG mengalami koreksi sebesar -25.13%. Kenaikan IHSG dipengaruhi oleh valuasi IHSG secara PE (Price Earning Ratio) saat in sudah di level -2.00 standar deviasi dan secara PBV (Price to Book Value) sudah menyentuh level 1.30x, dimana hampir mencapai level valuasi ketika terjadi krisis global di tahun 2008 sebesar 1.25x. Mayoritas saham bluechip di IHSG saat ini juga cukupatraktif dengan PBV di bawah 1.00 akibat penurunan ini. Meskipun IHSG mengalami kenaikan namun investor asing yang membukukan net sell sepanjangWeek-to-Date sebesar Rp -2.00 trilliun dan Year-to-Date Rp -23.80 trilliun. Seluruh sektor mengalami kenaikan dimana sektor yang mengalami kenaikan terbesar selama seminggu terakhir diantaranya yaitu Infrastructure +9.26%, Basic Industry +8.85%, Manufacturing +6.66%, Consumer Goods +5.77 dan Miscellaneous Industry +5.01%.
  • Sedangkan untuk pasar Obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) kembali mengalami kenaikan sebesar 0.40% selama satu minggu terakhir melanjutkan uptrend pada minggu sebelumnya. Kenaikan ini dipengaruhi oleh sentimen positif peluncuran Pandemic Bond denominasi USD oleh Pemerintah Indonesia sebesar USD 4 Milyar yang diterima dengan baik oleh investor asing sehingga membuat harga Obligasi mengalami kenaikan tercermin dari yield SUN 10 tahun turun dari 7.80 ke 7.75% diikuti nilai tukar Rupiah juga menguat signifikan ke Rp 14,800/USD dibandingkan penutupan minggu sebelumnya di Rp 15,400/USD. Selain itu  perkembangan vaksin COVID-19 yang terus dilakukan oleh berbagai negara di seluruh dunia serta level inflasi yang tetap terjaga di kisaran 2.70 – 2.80% Year-on-Year juga memberikan sentimen positif bagi pasar Obligasi. Kenaikan harga Obligasi sejalan dengan kenaikan rata-rata transaksi harian dari Rp 10-12 triliun menjadi Rp 14-16 triliun, meskipun masih 40% lebih rendah dari rata-rata transaksi sebelum Maret 2020. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 28 April 2020 investor asing masih membukukan net sell sepanjang April 2020 sebesar Rp -4.00 triliun dan secaraYear-to-Date membukukan net sell sebesar Rp -138.00 trilliun di pasar Obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2019 sebesar Rp 1,062.20 trilliun menjadi Rp 924.20 trilliun.
  • Portfolio Reksa Dana Saham kembali melakukan akumulasi pembelian pada saham blue chip yang sudah berada dalam valuasi yang murah dan berpotensi memberikan pertumbuhan return kedepannya, namun portofolio masih akan defensif sembari mengamati pergerakan IHSG kedepannya. Sektor perbankan masih menjadi salah satu sektor pilihan karena merupakan sektor dengan bobot terbesar dalam IHSG, di samping itu ada sektor Consumer, Infrastructure dan Miscellaneous Industries. Alokasi portfolio masih dijaga di level 81-86% sebagai antisipasi volatilitas market yang masih akan berlangsung dampak dari penyebaran COVID-19 yang masih cukup masif. Reksa Dana Obligasi berinvestasi pada SUN seri benchmark tenor 5 - 10 tahun serta menjaga durasi portfolio di level 5.50-6.00. Alokasi portfolio untuk Obligasi Korporasi tenor pendek (3 tahun) dengan kupon yang tinggi tetap dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan return Reksa Dana.

Download PDF



Back to list